Potensi Kejahatan Perang, PDIP Minta Ledakan Bikin TNI Luka di Lebanon Diusut

10 hours ago 2
Jakarta -

Tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan perdamaian PBB (UNIFIL) kembali menjadi korban luka-luka akibat ledakan yang terjadi di El Adeisse, Lebanon selatan. Legislator PDIP, TB Hasanuddin, meminta pemerintah mengusut tuntas insiden ledakan yang melukai prajurit TNI.

"Pemerintah harus segera mendorong investigasi yang menyeluruh, transparan, dan independen. Perwakilan Tetap RI di PBB perlu melayangkan desakan resmi kepada Dewan Keamanan PBB dan Sekretariat Jenderal PBB untuk mengusut tuntas insiden ini," kata TB Hasanuddin saat dihubungi, Minggu (5/4/2026).

Anggota Komisi I DPR ini mengatakan fokus investigasi harus memastikan apakah ledakan tersebut merupakan dampak konflik yang tidak disengaja atau bentuk pelanggaran hukum internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia menyebut, jika pasukan TNI terluka karena terbukti akibat serangan yang disengaja, hal itu bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang.

"Fokus investigasi harus memastikan apakah ini murni dampak konflik atau ada unsur kesengajaan. Jika terbukti ada serangan terhadap personel penjaga perdamaian, maka itu adalah pelanggaran serius dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," tegas TB Hasanuddin.

TB Hasanuddin juga meminta pemerintah Indonesia bersikap tegas dalam forum internasional. Menurutnya, serangan terhadap atribut dan personel PBB tidak bisa ditoleransi dan harus diikuti dengan akuntabilitas penuh dari pihak yang bertanggung jawab.

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya peran aktif Kementerian Luar Negeri dalam mengawal proses investigasi.

"Kemlu harus melakukan monitoring ketat terhadap seluruh tahapan penyelidikan oleh UNIFIL, mulai dari pengumpulan bukti, analisis data, hingga verifikasi kronologi kejadian. Selain itu, Kemlu juga harus memastikan hak-hak prajurit yang terluka terpenuhi dan terus memberikan tekanan diplomatik agar proses ini berjalan tuntas," jelasnya.

Selain investigasi, TB Hasanuddin menyoroti pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan pasukan TNI di Lebanon. Ia meminta Mabes TNI segera melakukan peninjauan terhadap prosedur operasional dan perlindungan personel di lapangan.

"Evaluasi harus mencakup peninjauan posisi pos agar berada di zona yang lebih aman, peningkatan perlindungan fisik di pangkalan, serta pengetatan SOP saat terjadi eskalasi di sekitar area tugas," ujar TB Hasanuddin.

Lebih jauh, TB Hasanuddin mengingatkan bahwa pemerintah perlu mempertimbangkan secara serius keberlanjutan keterlibatan Indonesia dalam misi UNIFIL jika situasi terus memburuk.

"Kalau kehadiran kita di sana tidak lagi memberikan manfaat signifikan dan justru membahayakan prajurit TNI, sementara pihak-pihak di lapangan tidak kooperatif dan PBB terlihat lemah, maka opsi untuk menarik pasukan harus mulai dipikirkan secara serius," katanya.

"Keselamatan prajurit adalah prioritas utama. Komitmen internasional harus tetap dijalankan, tetapi dengan perhitungan matang dan perlindungan maksimal bagi setiap personel kita," sambung TB Hasanuddin.

Sebanyak tiga prajurit TNI yang tergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) kembali terluka akibat adanya serangan ledakan. Dua di antaranya mengalami luka parah.

"Sebuah ledakan di dalam fasilitas PBB di dekat El Adeisse melukai tiga penjaga perdamaian, dua di antaranya mengalami luka serius," kata Juru Bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, kepada wartawan, Sabtu (4/4).

Ledakan itu terjadi pada Jumat (3/4) sore itu. Namun belum diketahui dari mana asalnya.

Sebelumnya tiga prajurit TNI gugur dalam tugas di Lebanon akibat terkena serangan Israel pada 29 dan 30 Maret 2026. Ketiganya adalah Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur, dan Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon.

Lihat juga Video Desakan RI ke Dewan Keamanan soal Gugurnya TNI di Lebanon

(ygs/dhn)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |