Pesan Perdamaian Kardinal Suharyo di Hari Paskah, Soroti Konflik Timur Tengah

8 hours ago 3

Jakarta -

Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo menegaskan Gereja Katolik menempatkan perdamaian dunia sebagai prioritas utama di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah. Hal ini sejalan dengan arah kepemimpinan Paus Leo XIV.

Menurut Kardinal Suharyo, pesan perdamaian telah disampaikan Paus sejak awal kepemimpinannya. Saat itu Paus pertama kali tampil di mimbar Basilika Santo Petrus dengan mengucapkan doa agar damai Tuhan menyertai seluruh dunia.

"Itu artinya, beliau sungguh-sungguh ingin menyatakan bahwa masa kepemimpinan pelayanan sebagai Paus akan mengusahakan perdamaian," ujar Kardinal Suharyo setelah memimpin Misa Paskah Pontifikal di Gereja Katedral dilansir Antara, Minggu (5/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam konteks konflik global saat ini, kata dia, Paus menyampaikan pernyataan tegas bahwa doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan.

"Bahkan, dengan kata-kata yang sangat keras mengenai perang, beliau mengatakan doa para pemimpin yang memaklumkan perang tidak akan didengarkan oleh Tuhan. Kata-kata keras sekali," kata Kardinal.

Dia menilai perang yang terjadi saat ini merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan nilai-nilai yang dijunjung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dia menyebut dampaknya tidak hanya merusak dunia, tetapi juga menimbulkan penderitaan besar bagi umat manusia.

"Yang ada adalah akibat yang sangat buruk, bukan hanya bagi dunia, bagi bumi, tetapi bagi umat manusia," imbuhnya.

Ia menambahkan, Paus mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk terus mendoakan perdamaian setiap hari, meskipun harapan agar konflik berakhir sebelum Paskah belum terwujud.

Dalam refleksinya, Kardinal Suharyo menyebut di tengah situasi global yang diwarnai "kegelapan", masih ada harapan yang diibaratkan sebagai cahaya kecil yang tetap menerangi kemanusiaan.

Selain isu perdamaian, ia juga menyoroti pentingnya kesadaran akan 'ekologi integral', yakni cara pandang menyeluruh terhadap lingkungan hidup yang tidak hanya mencakup aspek teknis, seperti energi, air, dan sampah, tetapi juga menyangkut moralitas manusia. Menurut dia, kerusakan lingkungan tidak terlepas dari sikap serakah yang mengabaikan solidaritas terhadap sesama.

"Selama keserakahan masih dominan, apalagi didukung kekuatan yang merusak, maka kerusakan akan terus terjadi," imbuhnya.

Kardinal Suharyp menekankan pertobatan ekologis harus dimulai dari perubahan hati nurani, bukan sekadar tindakan lahiriah. Kardinal Suharyo juga mengajak masyarakat menerapkan gaya hidup sederhana sebagai bentuk pengendalian diri, yakni hidup secukupnya tanpa berlebihan.

(wnv/gbr)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |