Pengusaha Tak Peduli Pasar Lesu, Mesin Produksi Pabrik Jalan Terus

4 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas industri manufaktur Indonesia masih berada dalam zona ekspansi pada Agustus 2026. Namun, laju ekspansi mulai melambat seiring dengan melemahnya pesanan baru dan kondisi permintaan yang semakin selektif.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Agustus 2026 berada di level 52,30. Angka tersebut masih berada di atas batas ekspansi 50, tetapi turun 0,80 poin dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 53,10. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, IKI Agustus 2026 juga turun 1,25 poin dari 53,55.

"Kami melihat fenomena industri masih menunggu perubahan yang terjadi pada pasar domestik maupun pasar ekspor. Meski ada sedikit penurunan pada variabel permintaan, namun industri masih tetap memproduksi karena memandang perekonomian Indonesia maupun global akan membaik," ujar Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief di Kemenperin, Jakarta Selatan, Senin (31/8/2026).

Meski terjadi perlambatan, kondisi manufaktur secara keseluruhan belum menunjukkan kontraksi. Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis Kemenperin, sebanyak 22 subsektor masih berada dalam fase ekspansi. Ke-22 subsektor tersebut menyumbang sekitar 98,6% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada kuartal II-2026.

Hanya satu subsektor yang masuk zona kontraksi, yakni industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki. Industri minuman serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia menjadi dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi pada Agustus 2026.

"Artinya, subsektor yang ekspansi adalah industri-industri besar. Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Minuman (KBLI 11) dan Industri Bahan Kimia dan Barang dari Bahan Kimia (KBLI 20)," kata Febri.

Tekanan terhadap industri juga terlihat dari sejumlah komponen pembentuk IKI. Indeks pesanan baru tercatat 53,13, masih ekspansif tetapi turun 0,67 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Produksi justru masih meningkat. Indeks produksi pada Agustus mencapai 55,10, naik 0,55 poin dari Juli. Angka tersebut sekaligus menjadi level tertinggi sejak Juni 2026.

Kondisi berbeda terlihat pada persediaan produk. Indeks persediaan turun 3,16 poin menjadi 46,02 dan masuk ke zona kontraksi. Penurunan tersebut telah terjadi selama tiga bulan berturut-turut dan membawa indeks persediaan ke level terendah sejak Januari 2024.

Perlambatan juga terjadi baik pada industri yang mengandalkan pasar domestik maupun ekspor. IKI industri berorientasi ekspor tercatat 53,09, turun 0,86 poin dari Juli yang sebesar 53,95. Sementara itu, IKI industri berorientasi pasar domestik berada di level 51,13, juga turun 0,86 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 51,99.

"Industri yang berorientasi ekspor turun IKI-nya. IKI yang berorientasi pasar domestik juga turun IKI-nya. Meski IKI-nya di atas 50, masih ekspansif, tapi dibandingkan bulan sebelumnya turun," ujar Febri.

Menurut dia, perlambatan tersebut membuat keberlanjutan aktivitas manufaktur tidak hanya bergantung pada kemampuan meningkatkan produksi, tetapi juga bagaimana industri mempertahankan pasar dan menekan biaya.

"Perlambatan keduanya memperlihatkan bahwa pelaku industri menghadapi kondisi permintaan yang lebih selektif. Karena itu, keberlanjutan aktivitas manufaktur akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan industri menjaga pasar, efisiensi produksi, serta memastikan kelancaran pasokan bahan baku dan distribusi," tutur Febri.

Di sisi lain, Febri menegaskan, resiliensi manufaktur Indonesia masih lebih kuat dibandingkan manufaktur negara lain.

Apalagi, dari hasil survei IKI Agustus 2026 itu ditemukan, sebanyak 27,4% pelaku usaha menyatakan kondisi usahanya stabil selama 6 bulan mendatang. Angka ini naik 2,2% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |