Destry Sah Jadi Gubernur BI, Rupiah Bertahan di Rp17.710/US$

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan hari ini dengan bergerak stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda mampu bertahan meski indeks dolar AS menguat sepanjang perdagangan Asia.

Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026), rupiah stagnan di posisi Rp17.710/US$ atau tidak berubah dari penutupan Senin (31/8/2026).

Adapun, sepanjang perdagangan rupiah bergerak cukup stabil di rentang level Rp17.699-Rp17.730 per dolar AS. 

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,16% ke level 99,594.

Penguatan DXY membesar dibandingkan posisi pukul 09.00 WIB yang hanya naik 0,04%.

Pergerakan rupiah hari ini berlangsung seiring dengan Rapat Paripurna DPR ke-4 Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 yang mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2026-2031.

"Apakah laporan hasil fit and proper test dari Komisi XI dapat disetujui?" tanya Ketua DPR Puan Maharani selaku pimpinan rapat paripurna, Selasa (1/9/2026). Pertanyaan tersebut kemudian dijawab setuju oleh para anggota DPR.

Selain Destry, DPR mengesahkan Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior BI dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI untuk periode 2026-2031.

Destry dijadwalkan mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Mahkamah Agung pada Rabu (2/9/2026).

Setelah disahkan DPR, Destry kembali menegaskan komitmennya menjaga independensi BI sekaligus memperkuat koordinasi dengan pemerintah.

"Jadi memang kita akan mengoptimalkan sinergi yang bisa kita lakukan, tetapi tentunya tanpa juga mengabaikan mandat dan kewenangan dari masing-masing lembaga yang melakukan sinergi itu," kata Destry.

Menurut Destry, koordinasi diperlukan agar kebijakan fiskal dan moneter dapat bergerak searah dalam menjaga likuiditas, inflasi, stabilitas nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi.

Sinergi juga dilakukan melalui pengendalian inflasi bersama pemerintah pusat dan daerah serta perluasan transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Kepastian mengenai susunan pimpinan baru dan komitmen menjaga independensi BI membantu memberikan kejelasan mengenai kesinambungan kebijakan moneter. Sentimen tersebut turut menahan tekanan terhadap rupiah ketika DXY bergerak menguat.

Dari eksternal, pasar masih mencermati meningkatnya peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada September setelah pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed mencapai 65%, naik dari 41% pada pekan sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch.

Ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar dan membatasi aliran dana menuju negara berkembang, termasuk Indonesia.

Tekanan global juga bertambah setelah serangan kembali terjadi di kawasan Teluk. Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran setelah kedua negara kembali terlibat serangan langsung.

Ketegangan tersebut mendorong harga minyak Brent menembus US$91 per barel dan memicu aksi jual di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke posisi tertinggi sejak Januari 2025.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS memperbesar daya tarik aset dolar, sedangkan lonjakan minyak dapat meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor energi. Kedua faktor tersebut berpotensi menekan rupiah.

Namun, sentimen domestik dari pengesahan pimpinan baru BI mampu mengimbangi tekanan eksternal sehingga rupiah bertahan stagnan hingga penutupan perdagangan.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |