Lestarikan Budaya, Siswa SRT 5 Ponorogo Tampil di Ajang Bergengsi Nasional

5 hours ago 3

Jakarta -

Para siswa Sekolah Rakyat turut berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan budaya Nusantara. Salah satu aksi nyata ditunjukkan oleh Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 (SRT 5) Ponorogo, Jawa Timur (Jatim), yang ikut memeriahkan ajang bergengsi Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI tahun 2026.

Festival berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 11-14 Juni 2026, di Alun-Alun Kabupaten Ponorogo. Sebanyak 60-an peserta dari berbagai daerah ikut serta.

"Kami dari Reyog Garudo Djoyo Manggolo SRT 5 Ponorogo mengikutsertakan siswa kami di ajang bergengsi ini untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak agar bisa melestarikan budaya daerah," jelas Kepala Sekolah SRT 5 Ponorogo Devit Tri Candrawati, dalam keterangan tertulis, Minggu (14/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal tersebut ia sampaikan saat ditemui di lokasi FNRP, Sabtu (13/6) malam. Ribuan pasang mata juga turut menikmati penampilan apik para siswa yang berkali-kali mendapat aplaus saat mempertontonkan adegan mendebarkan.

Dalam penampilannya, grup Garudo Djoyo Manggolo membawakan tarian yang mengisahkan perjalanan Prabu Klono Sewandono saat hendak melamar putri dari Kerajaan Daha.

Di tengah jalan, rombongan sang raja diadang oleh Raja Singa Barong. Gerakan tari dalam lakon ini menggambarkan kegagahan sekaligus keindahan gerak lincah sang raja yang sedang dimabuk asmara.

Raja Kelono juga digambarkan membawa pusaka andalannya, yakni cemeti ampuh bernama Kyai Pecut Samandiman untuk melindungi diri.

Pertunjukan semakin hidup dan semarak dengan iringan gamelan khas Jawa yang dimainkan secara rancak.

Alunan musik tradisional tersebut memadukan instrumen kendang, gong, kenong, kethuk, slompret, serta diperkuat oleh paduan suara dan penyenggak (penyanyi latar).

Penampilan apik puluhan siswa SRT 5 Ponorogo yang berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Ponorogo ini tak lepas dari kerja keras.

Melalui persiapan dan latihan intensif selama dua bulan, para siswa diperkenalkan dengan identitas dan karakter khas dalam rombongan reog.

Karakter-karakter tersebut meliputi Jathil (prajurit berkuda wanita), Bujang Ganong (patih Pujangga Anom yang lincah), Prabu Klono Sewandono (sosok raja sakti mandraguna), Warok (ksatria sakti berilmu tinggi), serta tokoh paling ikonik yaitu Barongan atau Dadak Merak-manusia bertopeng kepala harimau dengan hiasan bulu merak raksasa seberat nyaris 50 kilogram (kg) yang diangkat menggunakan gigitan gigi.

Salah satu penampil, Virda Amalia mengaku bangga dapat berkontribusi di ajang nasional.

"Perasaannya campur aduk antara gugup, senang, dan takut jadi satu. Capek juga," ungkap Virda.

Untuk menyuguhkan penampilan maksimal bersama 17 penari jathil lainnya, siswi kelas 1 SRT 5 Ponorogo ini harus menjalani latihan intensif setiap hari selama dua bulan penuh.

Aspek hafalan, kekompakan, detail gerakan, ekspresi, kekuatan (power), hingga kesiapan mental dan fisik menjadi fokus utama selama masa persiapan.

Tantangan seleksi yang menitikberatkan pada detail, kekuatan, dan hafalan gerakan berhasil dilaluinya berbekal pengalaman seni reog yang pernah ia ikuti saat masih bersekolah di SMPN 2 Badegan, Ponorogo.

Selain bangga, Virda juga bersyukur mendapatkan pengalaman berharga kali ini berkat bergabung di Sekolah Rakyat.

Sebagai anak petani dan anak kedua dari tiga bersaudara, Virda mengaku fasilitas pendidikannya kini sangat terpenuhi.

Seluruh biaya pendidikan di sekolah tersebut gratis sehingga sangat membantu kondisi ekonomi keluarganya.

Di balik kegigihannya berlatih, remaja yang memiliki impian menjadi Polwan dan ingin bekerja di luar negeri seperti di Amerika Serikat (AS), Australia, atau Rusia ini menyimpan harapan besar untuk seni tradisi tanah kelahirannya.

"Harapan saya bisa melestarikan reog sampai selamanya, justru saya pengen membawa reog Ponorogo ke luar negeri," kata Virda.

Di sisi lain, kemeriahan FNRP XXXI tidak hanya milik warga lokal. Selain SRT 5 Ponorogo, perwakilan lain seperti SRT 31 Palembang juga dijadwalkan tampil pada sesi penutup pada Minggu (14/6).

Bahkan, antusiasme pelestarian ini gaungnya mencapai mancanegara dengan partisipasi warga Ponorogo yang berada di Korea Selatan (Korsel).

Rangkaian perayaan Grebeg Suro ini akan mencapai puncaknya pada tanggal 15 Juni sore atau bertepatan dengan digelarnya kirab pusaka tombak dan lengker, diikuti dengan malam pengumuman pemenang untuk berbagai kategori lomba.

Sarat Nilai dan Sejarah Makna

Seni pertunjukan Reog Ponorogo yang dikemas dalam bentuk sendratari ini pada hakikatnya sarat nilai, makna, dan fungsi sosial bagi masyarakat.

Secara historis, terdapat beberapa versi mengenai asal-muasal kesenian reog. Salah satu cerita rakyat yang paling populer mengisahkan tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi (Raja Majapahit terakhir di abad ke-15).

Ki Ageng Kutu melihat pengaruh kuat dari permaisuri raja yang berasal dari Cina, sehingga ia menciptakan kesenian Reog sebagai bentuk sindiran atau kritik politik yang halus.

Topeng kepala harimau (barongan) melambangkan sosok raja hutan yang berkuasa, namun di atasnya ditunggangi oleh bulu-bulu merak yang indah menyerupai kipas raksasa-simbol dari pengaruh kuat sang permaisuri yang mengatur segala kebijakan raja.

Meskipun bermula dari sebuah sindiran, kesenian ini bertransformasi menjadi identitas kultural serta menjadi bagian dari upacara adat, pesta rakyat, hingga penyambutan tamu kehormatan.

Pertunjukan reog berskala besar secara konsisten diselenggarakan dalam rangkaian Grebeg Suro menjelang 1 Muharram (1 Suro).

Melalui dua agenda utamanya, yaitu FNRP dan Festival Reog Remaja (FRR), Reog Ponorogo berhasil memperkuat eksistensinya di kancah nasional.

Sejak tahun 2021, FNRP secara konsisten telah masuk ke dalam jajaran Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, bahkan sempat menyabet predikat sebagai event terbaik urutan kedua dari 110 event nasional.

Sebagai informasi, dalam kesempatan ini turut hadir Tenaga Ahli Menteri Sosial RI (TA Mensos) Fajar WH, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita, dan penyuluh sosial muda Pusdiklatbangprof Amin Suaedi, yang menyaksikan langsung kebolehan para siswa membawakan tarian kolosal.

Tonton juga video "Viral Anak Sekolah Digendong Lewati Jembatan Rusak di Ponorogo"

(anl/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |