Laut Timur Tengah Beracun, Ketumpahan Minyak Seluas 60 Kilometer

8 hours ago 4

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

30 May 2026 16:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel tidak hanya membuat distribusi minyak mentah dan komoditas lain terganggu, tetapi juga berdampak pada lingkungan, di mana ada tumpahan minyak ke laut yang terjadi akibat perang ini.

Tumpahan minyak di laut akibat eskalasi di negara-negara Teluk sejatinya sudah pernah terjadi pada Perang Teluk 1991, di mana pasukan Irak yang menduduki Kuwait sengaja membuka keran kapal tanker minyak, terminal, dan kilang minyak, melepaskan jutaan barel minyak mentah ke Teluk.

Hal ini dilakukan bukan tanpa sebab, melainkan agar dapat mencegah pasukan pimpinan AS melakukan pendaratan amfibi. Saddam Hussein, diktator Irak, kemudian memerintahkan pasukannya untuk membakar ratusan sumur minyak di dekatnya.

Seorang pejabat AS mengatakan, "jika Neraka memiliki taman nasional", maka akan terlihat seperti kobaran api yang terjadi.

Butuh waktu enam bulan bagi petugas pemadam kebakaran internasional untuk memadamkan api. Lebih dari 700 km garis pantai Arab Saudi tertutup minyak mentah. Pembersihan membutuhkan waktu puluhan tahun dan menelan biaya lebih dari US$ 500 juta pada saat itu. Beberapa kerusakan ekologis di sepanjang pantai terbukti permanen.

Namun, Perang Teluk saat ini justru berpotensi memperparah kawasan perairan Teluk. Pada 6 Mei lalu, tumpahan minyak besar di sebelah barat Pulau Kharg, sebuah terminal ekspor minyak mentah utama Iran, terlihat dari luar angkasa.

Citra satelit kemudian menunjukkan tumpahan tersebut menyebar di sekitar 60 kilometer persegi di laut sekitarnya. Besarnya kerusakan belum sepenuhnya jelas, tetapi perkiraan awal berkisar dari setara dengan 3.000 barel hingga hampir 90.000 barel. Ini hanya sebagian kecil dari sekitar 6 juta-10 juta barel yang tumpah ke Teluk pada 1991.

Namun, tumpahan ini dan tumpahan lainnya baru-baru ini telah memicu kekhawatiran bahwa perang dapat menyebabkan bencana dan kemudian membuat pembersihan jauh lebih sulit, memperburuk kerusakan ekonomi yang telah ditimbulkan oleh perang.

Kerusakan semacam itu dapat terjadi dalam berbagai cara, mulai dari serangan terhadap Pulau Kharg memiliki potensi paling jelas untuk menyebabkan tumpahan minyak besar yang sangat merusak. Infrastruktur minyaknya dapat menyimpan sekitar 30 juta barel.

AS telah menyerang instalasi militer pulau itu dan Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengancam akan menghancurkan infrastruktur minyak di Kharg.

Kapal tanker adalah risiko berikutnya. Hingga pekan ini, belum ada pihak yang mengenai kapal tanker bermuatan berat. Namun pada 26 Mei lalu, Olympic Life, sebuah kapal "supertanker" milik Yunani yang mampu membawa 2 juta barel minyak mentah melaporkan "ledakan eksternal" saat berlayar di lepas pantai Oman.

Tidak jelas apa penyebab ledakan tersebut. Pada hari yang sama, Iran bersumpah untuk membalas serangan udara AS. Bencana berhasil dihindari. Meskipun kebocoran bahan bakar dalam jumlah yang tidak diketahui, Olympic Life mampu terus berlayar (tidak jelas berapa banyak kargo yang dibawanya). Namun Teluk Persia dipenuhi dengan kapal-kapal yang rentan.

Awal Mei lalu, Amin Nasser, kepala Saudi Aramco, produsen minyak Arab Saudi memperkirakan bahwa lebih dari 600 kapal terjebak dan tidak dapat meninggalkan Selat Hormuz.

Bukan hanya kapal tanker saja yang menjadi bahaya. Kapal induk drone Iran, Shahid Bagheri, diserang di awal konflik. Kapal itu terus menerus membuang bahan bakar minyak berat ke perairan sekitarnya sejak serangan tersebut. AS mengklaim telah menenggelamkan setidaknya 160 kapal angkatan laut Iran selama perang. Masing-masing kapal ini berpotensi menjadi sumber polusi.

Tumpahan minyak serius di selat tersebut akan jauh lebih sulit ditangani daripada biasanya. Biasanya, hukum maritim internasional menetapkan bahwa ketika terjadi tumpahan minyak, kapal-kapal di dekatnya, otoritas pelabuhan, dan negara-negara pantai diharapkan untuk membantu menahan tumpahan dan membantu awak kapal. Kemudian, perusahaan asuransi kapal yang terkena dampak akan membayar biaya pembersihan.

Namun, pihak ketiga semakin waspada dalam menawarkan bantuan di zona perang aktif. Pada awal perang, sebuah kapal tunda penyelamat yang sedang menangani kapal yang rusak justru tertabrak dan setidaknya empat awaknya tewas.

Solusi diplomatik juga lebih sulit dicapai saat ini. Dengan permusuhan yang sedang berlangsung, lebih sulit untuk mengelola koordinasi internasional yang dibutuhkan untuk menangani insiden besar.

Secara teori, saluran diplomatik masih terbuka antara negara-negara di kawasan tersebut. Tetapi, Arab Saudi maupun Iran, kemungkinan besar tidak akan terlibat dalam upaya bersama apa pun sampai kesepakatan perdamaian yang cukup lama tercapai. Semua pihak khawatir bahwa tawaran untuk bekerja sama akan dibuat dengan itikad buruk dan dapat membuat mereka rentan terhadap serangan lebih lanjut.

Penutupan selat tersebut menambah komplikasi lain. Iran telah lama menghindari sanksi dengan menggunakan kapal armada bayangan, kapal yang menyembunyikan diri atau identitas mereka.

Penggunaan kapal semacam itu kini meningkat. Operator armada bayangan adalah kelompok terbesar yang melintasi selat antara tanggal 2 Maret dan 9 Maret, menurut Windward, sebuah perusahaan pemantau maritim, dan jumlah mereka terus bertambah seiring berlanjutnya konflik.

Hal itu membuat pembersihan tumpahan minyak menjadi lebih sulit. Kapal-kapal resmi dan perusahaan penyelamatan berisiko dituduh melanggar sanksi jika mereka dianggap "membantu atau bersekongkol" dengan kapal-kapal bayangan.

"Sebagian besar menganggap risiko ini sangat serius sehingga mereka hampir takut melakukan hal yang benar dengan membersihkan polusi," kata David Smith dari McGill Partners, dikutip dari The Economist, Sabtu (30/5/2026).

Kapal-kapal bayangan seringkali sudah tua dan perawatannya buruk, sehingga lebih mungkin bocor jika tertabrak atau kandas dan karena tidak dapat diidentifikasi serta tidak dapat diasuransikan, tidak ada pemerintah yang akan bertanggung jawab atas tumpahan minyak. Tidak ada pula pihak yang akan bertanggung jawab untuk mendanai pembersihan.

Pusat Desalinasi Negara TelukFoto: The Economist

Dampak lingkungan yang ditimbulkan sangat besar. Tumpahan minyak mengancam kehidupan laut, termasuk terumbu karang penting di selat tersebut. Kerugian bagi manusia mungkin jauh lebih besar. Sekitar 100 juta orang di Teluk bergantung pada pabrik desalinasi untuk air minum.

Minyak dapat mencemari air laut dengan zat-zat seperti benzena, yang dikaitkan dengan leukemia dan kanker lainnya, serta kerusakan hati dan ginjal. Tumpahan minyak pada 1991 melumpuhkan kapasitas desalinasi Kuwait selama bertahun-tahun.

Untuk saat ini, tumpahan minyak di sekitar Pulau Kharg tampaknya tidak cukup besar untuk menghambat pergerakan kapal di area tersebut. Namun, tumpahan yang lebih besar dapat mempersulit dimulainya kembali aliran minyak normal dari Teluk setelah selat dibuka kembali.

Hal ini karena kapal tanker yang tertutupi minyak oleh tumpahan dapat mencemari lingkungan dan di beberapa negara, kapal tersebut mungkin dilarang untuk berlabuh.

Pada 1991, tumpahan minyak tersebut disengaja. Saat ini, kecelakaan lebih mungkin terjadi. Namun, konsekuensinya bisa sama parahnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |