Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan merespons harapan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung soal pembangunan giant sea wall harus segera dimulai di DKI Jakarta. Kemenko memastikan pembangunan giant sea wall di DKI Jakarta memang jadi prioritas.
Hal itu disampaikan oleh Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Informasi Publik Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Herzaky Mahendra Putra. Dia menyebut pemerintah memang memprioritaskan wilayah yang paling rentan, termasuk Jakarta.
"Seperti yang sebelumnya sudah disampaikan Menko AHY, Kemenko Infra bersama Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) terus mematangkan master plan pembangunan Giant Sea Wall sepanjang 575 kilometer. Dalam proses tersebut, pemerintah memang memprioritaskan wilayah yang paling rentan, salah satunya Teluk Jakarta, sehingga kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta menjadi bagian penting untuk terus dikoordinasikan dan dikawal," kata Herzaky saat dihubungi, Jumat (18/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Herzaky mengatakan tahapan pembangunan dan timeline secara rinci masih dalam proses pematangan. Dia menyebut pemabgunan akan dibagi dalam sejumlah segmen dari barat ke timur.
"Ada rencana groundbreaking program yang kemudian dilanjutkan dengan groundbreaking fisik, dan perkembangan timeline berikutnya akan diperbarui oleh Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ). Penanganan Giant Sea Wall juga bukan semata membangun struktur beton, melainkan mencakup tanggul pantai, tanggul laut, breakwater, serta pendekatan berbasis alam (nature-based solution) seperti mangrove," imbuhnya.
Dia memastikan langkah tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Giant sea wall, kata dia, proyek strategis Prabowo untuk melindungi puluhan juta rakyat.
"Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan Giant Sea Wall sebagai proyek strategis untuk melindungi sekitar 50 juta rakyat, mengamankan sekitar 38 persen PDB Indonesia, serta melindungi kawasan industri, kawasan ekonomi, dan poros logistik nasional di Pantura Jawa," ujar dia.
Namun demikian, dia menyebut, berdasarkan arahan Prabowo, proyek giant sea wall merupakan pekerjaan jangka panjang. Butuh waktu 15 hingga 20 tahun untuk membangun giant sea wall.
"Sementara untuk wilayah Jakarta saja diperkirakan membutuhkan waktu sekitar delapan tahun. Semua masih dalam tahap perencanaan, termasuk groundbreaking. Terkait rencana Giant Sea Wall sebagai water reservoir yang nantinya membutuhkan proses pengolahan air, hal tersebut memang sudah masuk dalam rencana. Sedang dimatangkan terus oleh BOPPJ," jelasnya.
Pernyataan Pramono
Pramono Anung merespons usulan DPRD DKI Jakarta soal opsi pengolahan air laut menjadi air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dia mengatakan pengolahan air laut menjadi air yang dapat dimanfaatkan masyarakat berkaitan dengan pembangunan giant sea wall.
"Untuk mengubah air laut menjadi air tawar dan bisa digunakan, maka salah satu hal adalah giant sea wall-nya segera dimulai," kata Pramono di kawasan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (17/9).
Menurut Pramono, jika pembangunan giant sea wall dapat segera dilakukan, suplai air payau maupun air tawar dapat diolah menjadi air yang bisa dimanfaatkan masyarakat.
"Dan untuk di Jakarta, itu memang kalau itu bisa dilakukan, maka suplai untuk air payau atau air tawar untuk kebutuhan diolah menjadi air yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, dengan gampang pemerintah DKI Jakarta melalui PAM Jaya, kami siap untuk melakukan itu," ujarnya.
Saksikan Live DetikPagi:
(maa/zap)


















































