Kemendes PDT Ajak 20 Kades Belajar soal Pembangunan Desa di China

3 days ago 14

Jakarta -

Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menuntaskan rangkaian kegiatan benchmarking di Provinsi Yunnan, China. Kegiatan yang berlangsung pada 9-15 September 2026 ini diikuti 20 kepala desa dari berbagai daerah di Indonesia.

Adapun rangkaian ini digelar sebagai wadah pembelajaran mengenai praktik terbaik revitalisasi pedesaan, pengembangan ekonomi lokal, inovasi pertanian, hingga hilirisasi potensi desa.

Kegiatan benchmarking ini diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Indonesia. Delegasi dipimpin oleh Kepala Badan Pengembangan dan Penguatan Inovasi (BPI) Kemendes PDT Mulyadin Malik, didampingi Kepala Biro Hubungan Masyarakat Andi Nita Arie, bersama tim pendamping.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala BPI Kemendes PDT Mulyadin Malik menyampaikan pembelajaran dari Yunnan memberikan banyak inspirasi yang dapat disesuaikan dengan karakteristik desa-desa di Indonesia.

Menurutnya, pembangunan desa tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuan desa mengelola potensi lokal menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Desa harus menjadi aktor utama pembangunan. Pengalaman di Yunnan menunjukkan potensi lokal dapat menghasilkan nilai tambah ketika didukung inovasi, kelembagaan yang kuat, dan kolaborasi berbagai pihak," ujar Mulyadin dalam keterangan tertulis, Kamis (17/9/2026).

Kegiatan diawali dengan penyambutan resmi oleh Pemerintah Provinsi Yunnan, yang diwakili oleh salah satu pejabat yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pemerintahan di Provinsi Yunnan. Penyambutan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan pertukaran pengalaman mengenai pembangunan pedesaan antara Indonesia dan Yunnan.

Selama berada di Yunnan, delegasi mengunjungi Desa Haiyan, salah satu desa percontohan revitalisasi pedesaan yang berhasil mengintegrasikan pelestarian budaya, pengelolaan lingkungan, dan pengembangan ekonomi berbasis masyarakat.

Para kepala desa mempelajari bagaimana perencanaan desa yang terintegrasi mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat tanpa menghilangkan identitas lokal.

Delegasi juga mengikuti diskusi dengan berbagai institusi di Yunnan mengenai strategi pembangunan pedesaan, inovasi, serta pemberdayaan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan desa.

Di Xishuangbanna, peserta mempelajari berbagai model pembangunan ekonomi pedesaan berbasis potensi lokal. Delegasi mengunjungi kawasan industri kopi di Pubwen untuk mempelajari perkembangan industri kopi, inovasi yang mengintegrasikan sektor kopi dengan pariwisata, serta upaya mendorong revitalisasi pedesaan melalui pengembangan ekonomi kreatif.

Delegasi juga mengunjungi Kecamatan Menghan untuk mempelajari model pembangunan bersama antardesa yang dikenal sebagai konsep 'Tiga Man'.

Pendekatan tersebut mengembangkan kolaborasi tiga desa melalui model industri baru yang memperkuat 'lingkaran pengembangan industri' dan 'lingkaran kehidupan bahagia', sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sinergi antardesa.

Di Kabupaten Menghai, peserta mengunjungi Perkebunan Teh Kuno Hekai untuk melihat pengelolaan perkebunan teh yang memadukan pelestarian warisan budaya, pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan peningkatan nilai tambah komoditas unggulan desa.

Pembelajaran di Xishuangbanna turut dilengkapi dengan kunjungan ke pusat pengolahan jamur liar, salah satu komoditas unggulan kawasan tersebut. Delegasi mempelajari rantai nilai produk, mulai dari pemanenan berkelanjutan oleh masyarakat, proses penyortiran dan pengolahan, hingga pemasaran produk bernilai tambah ke pasar internasional.

Model ini menunjukkan pentingnya hilirisasi komoditas lokal dalam meningkatkan pendapatan masyarakat desa.

Selain itu, delegasi turut mengamati pengembangan pusat perdagangan modern dan pasar bunga terbesar di Yunnan sebagai contoh penguatan ekosistem pemasaran produk pertanian dan usaha masyarakat.

Program benchmarking ini diharapkan menjadi bekal bagi 20 kepala desa peserta untuk mengadaptasi berbagai praktik baik yang relevan di wilayah masing-masing, mulai dari penguatan tata kelola desa, pengembangan komoditas unggulan, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan wisata berbasis potensi lokal.

Melalui pertukaran pengalaman ini, Kemendes PDT terus mendorong lahirnya inovasi pembangunan desa yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan penguatan ekonomi desa secara berkelanjutan.

(anl/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |