HNW Ajak Keluarga Besar Ponpes Gontor Lanjutkan Perjuangan Pendidikan

2 hours ago 2

Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan memasuki usia 100 tahun, Pondok Pesantren Gontor diharap tidak berhenti pada pencapaian sejarah sekalipun gilang gemilang di abadnya yang pertama. Tetapi menjadikan pengalaman sukses satu abad pertama sebagai modal penting untuk memasuki abad kedua.

Ia menilai modal tersebut semakin besar dengan berkembangnya cabang-cabang Gontor, lahirnya pesantren-pesantren alumni maupun yang terinspirasi dari Gontor, serta kiprah para alumninya di berbagai bidang.

Menurut HNW hal tersebut akan menjadi modal besar Gontor membersamai gerak bangsa Indonesia, membersamai gerak bangsa-bangsa di dunia untuk kemudian menghadirkan tujuan daripada hadirnya al-Islam membawa kepada rahmatan lil alamin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu akan menjadi sesuatu yang sangat mungkin dilakukan ketika basisnya adalah pendidikan pesantren, pesantren yang modern, pesantren yang terus bisa menghadirkan spirit dan sekaligus inspirasi yang tidak pernah berhenti. Sebagaimana dicontohkan oleh Pondok Gontor.

Ia menilai pendidikan pesantren yang modern dapat menjadi salah satu kekuatan untuk membangun manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan memiliki semangat pengabdian, cinta umat, cinta bangsa dan negara serta berwawasan global. Karena itu, HNW mengaitkan penguatan pendidikan berbasis nilai keagamaan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Visi tersebut, lanjut HNW, akan lebih mungkin diwujudkan apabila arah pendidikan nasional benar-benar dijalankan sesuai amanat konstitusi dan UU Pesantren.

"Kita akan bisa menuju Indonesia Emas 2045, ketika tujuan pendidikan nasional sebagaimana termaktub dalam UUD NRI 1945 dan Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU tentang Pesantren dapat diwujudkan dengan sebenar-benarnya. Dan Gontor beserta para alumninya terus mengawal dan membersamai," tegasnya dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).

HNW juga menyampaikan apresiasi kepada para kiai dan pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang selama satu abad dinilai konsisten menjaga dan mengembangkan lembaga pendidikan tersebut.

Ia mengajak seluruh keluarga besar Gontor memandang peringatan satu abad bukan sebagai titik akhir, melainkan momentum untuk melanjutkan perjuangan pada abad kedua.

Peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor dijadwalkan berlangsung pada 19-20 September 2026 di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

HNW berharap Gontor senantiasa menjadi pusat pendidikan yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan mampu berkontribusi positif bagi kemajuan bangsa serta dunia,dengan pendidikan Islamnya hadirkan peradaban dunia yg utama.

"Terima kasih yang sangat mendalam kepada para kiai kita, para pimpinan kita Pondok Modern Darussalam Gontor yang telah bukan hanya menghadirkan, tapi menjaga, mengembangkan, sehingga kita semuanya pada malam hari ini bisa berada di sini untuk kemudian melanjutkan perjuangan di abad kedua daripada Pondok Modern Darussalam Gontor. Berkontribusi hadirkan Islam yang membangkitkan peradaban, sebagaimana motto dari kesyukuran peringatan 100 tahun Gontor," katanya.

Ia menegaskan kiprah Pondok Gontor dan para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) dalam mewarnai perjalanan ketatanegaraan Indonesia adalah hal yang diakui dan diapresiasi hasilnya.

Bukan hanya dalam bidang pendidikan dan pengajaran, dalam bidang Politik dan kenegaraan nampak jejak kiprah unggul dan kinerja dari alumni-alumni Pondok Gontor.

Di MPR misalnya, ada KH Dr Idham Cholid yang pernah menjadi Wakil Ketua MPRS periode 1963-1966, dan kemudian menjadi Ketua MPR pertama pada periode 1971-1977.

Pada Era Reformasi sekarang ini , alumni Gontor yaitu Dr M Hidayat Nur Wahid, Lc MA, tercatat menjadi Ketua MPR periode 2004-2009, selanjutnya Dr (Hc) Luqman Hakim Saifuddin menjadi Wakil Ketua MPR (periode 2009-2014), dilanjutkan kembali oleh Dr M Hidayat Nur Wahid sebagai Wakil Ketua MPRS periode 2014-2019, 2019-2024, dan 2024-2029.

Hal itu disampaikan HNW dalam acara Malam Peradaban yang digelar untuk menyambut 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada 6/9/2026, malam.

"Maka terbukti, sepanjang sejarah MPR sejak awal hingga sekarang di era Reformasi, selalu saja ada alumni Gontor menjadi pimpinan MPR. Kalau tidak ketua, ya wakil ketua," kata HNW.

Bagi HNW, fakta tersebut menjadi penegasan bahwa Gontor selama satu abad pertama tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan keagamaan yang berkecimpung di dunia Pesantren saja, tetapi juga ikut mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara melalui para alumninya yang sudah menyebar di berbagai profesi dan beragam lahan pengabdian untuk Umat, Bangsa dan Negara.

Nilai-nilai yang ditanamkan di lingkungan pesantren Gontor seperti akhlak, dakwah, ilmu pengetahuan, pembelajaran, dan semangat perjuangan, cinta Indonesia, menurutnya perlu terus diajarkan oleh Gontor dan terus diwujudkan oleh para alumni dalam berbagai ruang pengabdian Gontor di abad keduanya.

Gontor, lanjut HNW, telah memberikan kontribusi melalui pendidikan yang tidak memisahkan ilmu dan nilai keagamaan dengan penguasaan ilmu dan cinta umat dan Indonesia. Prinsip tersebut dinilai sangat relevan dengan arah pendidikan nasional di era Reformasi, sebagaimana ditegaskan dalam konstitusi.

Turut berperan dalam kebijakan arah pendidikan bangsa di parlemen baik di DPR maupun MPR, adalah satu upaya yang dilakukan Gontor dan para alumninya yg akif untuk menjaga dan membingkainya, sehingga hadirlah UUD NRI Tahun 1945, yang pada Pasal 31 ayat (3) dan ayat (5).

Hal tersebut memberikan penegasan tentang pendidikan Indonesia berasaskan prinsip-prinsip; peningkatan keimanan, ketaqwaan, akhlak yang mulia, mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan tetap menghormati Agama dan persatuan bangsa. Prinsip-prinsip yang sangat bersesuaian dengan motto Gontor serta Panca Jiwanya.

"Prinsip tujuan pendidikan nasional ini menjadi amat sangat kokoh, dan kemudian bisa mengoreksi kalau ada penyimpangan dalam upaya merevisi UU Sistem Pendidikan Pendidikan Nasional yang meminggirkan atau berlaku tidak adil kepada pendidikan keagamaan sebagaimana selama ini menjadi pendidikan yang diajarkan di Pesantren termasuk Pesantren Gontor,"ujarnya.

Ia mencontohkan polemik mengenai rancangan peta jalan pendidikan nasional pada periode sebelumnya yang menurutnya sempat mengabaikan unsur agama.

Dalam konteks itu, HNW menilai konstitusi menjadi instrumen penting untuk memastikan kebijakan pendidikan tetap berada dalam koridor yang telah ditetapkan negara.

Penguatan terhadap pendidikan keagamaan juga diwujudkan melalui Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional dan kemudian Undang-Undang tentang Pesantren yang disahkan pada 2019.

HNW menyebut lahirnya UU Pesantren tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah, DPR, dan para kiai pesantren. Ia juga menyoroti peran Menteri Agama saat itu, Lukman Hakim Saifuddin, yang merupakan alumni Gontor.

"Hadirlah Undang-Undang tentang Pesantren yang memberikan bingkai amat sangat kokoh dan kuat bagi legalitas pesantren dan alumni-alumni pesantren, seperti Gontor," katanya.

Dikatakan HNW, penguatan posisi pesantren melalui regulasi menjadi bagian penting dalam memastikan nilai-nilai keagamaan dan kepesantrenan tetap menjadi bagian dari pembangunan bangsa.

Kegiatan Malam Peradaban yang mengusung tema 'Seratus Tahun Mendidik, Membangun Peradaban' ini berlangsung khidmat dan lancar.

Hadir dalam acara, Pimpinan PMDG, K.H. Hasan Abdullah Sahal dan K.H. M. Akrim Mariyat, bersama seluruh jajaran Anggota Badan Wakaf PMDG, para Duta Besar negara sahabat antara lain dari Kuwait, Palestina, Turki, Tunisia, Sudan, dan Para peserta Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026, berlangsung khidmat dan lancar. Turut hadir Plt Sekretaris Jenderal MPR RI Siti Fauziah dan tamu undangan lainnya.

Simak juga Video 'Menko Pangan Zulhas: Ponpes dengan 1.000 Santri Boleh Buat Dapur MBG':

(anl/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |