Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas naik melesat lagi. Kenaikan harga emas ditopang melemahnya harga minyak yang membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi yang berkepanjangan.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (18/9/2026) ditutup di US$ 4376,91 per troy ons. Harganya melesat 0,84%.
Kenaikan ini memperpanjang tren positifnya dengan melesat 2,7% dalam dua hari terakhir.
Harga penutupan kemarin juga menjadi yang tertinggi sejak 9 September 2026 atau 10 hari terakhir.
Dalam sepekan, harga emas menguat 0,68%. Penguatan ini mengakhiri tren negatifnya di mana emas sebelumnya anjlok tiga pekan beruntun.
Chris Gaffney, Presiden World Markets di EverBank, menjelaskan penurunan harga minyak mengurangi tekanan inflasi karena minyak menjadi pendorong utama inflasi secara keseluruhan.
"Investor logam mulia sebelumnya telah memperkirakan kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) dan mengambil banyak posisi short untuk memanfaatkan potensi aksi jual emas. Posisi-posisi tersebut kini dengan cepat ditutup," ujar Chris Gaffney, kepada Reuters.
Harga minyak mentah anjlok 2% pada Jumat sejalan dengan meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Arab Saudi
Penurunan harga minyak memberikan sedikit kelegaan terhadap kekhawatiran inflasi. Namun, risiko guncangan pasokan minyak dari Timur Tengah masih menjadi perhatian utama pasar.
Harga Emas Naik di Tengah Lonjakan Dolar
Yang menarik, harga emas masih melambung meskipun dua musuh bebuyutannya juga bergerak liar.
Indeks dolar masih bertahan di level 100 untuk tiga hari beruntun sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tetap menembus 5% atau level tetringgi sejak 2007.
Indeks dolar saat ini adalah level tertinggi dalam lebih dari tujuh pekan. Penguatan dolar membuat emas yang dihargai dalam greenback menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury biasanya akan membuat emas tidak menarik.
Dua anomali menunjukkan jika pergerakan harga minyak kini sangat dicermati pasar karena langsung terkait dengan laju inflasi dan bisa berimbas besar kepada suku bunga.
The Federal Reserve (The Fed) pada Rabu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4% pada Rabu pekan ini dan mengisyaratkan masih adanya kemungkinan kenaikan suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Menurut perangkat CME FedWatch, pelaku pasar kini melihat peluang sekitar 55% untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya ketika para bank sentral bertemu pada Oktober.
Secara tradisional, emas dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Namun, suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik emas karena aset yang memberikan imbal hasil menjadi lebih menarik bagi investor.
Permintaan India Melemah
Sementara itu, permintaan emas di India cenderung lesu pekan ini. Pembeli menahan pembelian karena berharap harga emas kembali turun.
Di China, premi emas relatif stabil, ditopang oleh kuatnya permintaan investasi.
Gaffney mengatakan harga emas saat ini sedang menguji level resistance di kisaran US$4.400-US$4.440 per troy ounce.
"Jika harga mampu menembus level resistance tersebut, hal itu dapat membuka jalan bagi kenaikan harga emas lebih lanjut," ujar Gaffne
(mae/mae)


















































