Jakarta, CNBC Indonesia - Dampak ekonomi dari grup K-pop Bangtan Sonyeondan (BTS) dan fandom global mereka, ARMY, diperkirakan akan semakin besar dalam beberapa dekade ke depan. Bahkan, belanja para penggemar disebut berpotensi mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Korea Selatan hingga 0,35 poin persentase pada 2040.
Hal itu terungkap dalam laporan perusahaan sekuritas Korea Selatan, NH Investment & Securities. Laporan tersebut menyebut budaya fandom bukan fenomena jangka pendek, melainkan kekuatan ekonomi yang dapat bertahan lama.
Analisis itu muncul di tengah tingginya ekspektasi terhadap konser mendatang BTS di Busan yang diperkirakan mampu menggerakkan ekonomi daerah. Menurut laporan tersebut, fenomena ini sebelumnya juga terjadi pada fandom The Beatles dan Michael Jackson bagi Generasi X, hingga Beyoncé dan Taylor Swift untuk generasi milenial dan Gen Z.
Dampak ekonomi fandom-fandom tersebut disebut mencapai puncak ketika para penggemarnya memasuki usia 30-an hingga 40-an, saat daya beli mulai meningkat. Peneliti NH Investment & Securities, Jung Yeo-kyung menjelaskan, pola konsumsi penggemar biasanya berkembang dalam tiga tahap.
Tahap pertama, kata ia, dimulai dari pengeluaran untuk streaming musik, album, dan merchandise. Setelah itu, konsumsi meluas ke produk Korea seperti kosmetik, makanan, dan fesyen.
"Pada tahap akhir, fandom berubah menjadi permintaan wisata. Penggemar mulai datang langsung ke Korea Selatan dan membelanjakan uang untuk hotel, restoran, belanja, hingga transportasi," ujar Jung Yeo-kyung dikutip dari Korea JoongAng Daily, Senin (25/5/2026).
Proyeksi dalam laporan tersebut didasarkan pada estimasi Hyundai Research Institute yang menyebut sekitar 800 ribu fans BTS mengunjungi Korea Selatan pada 2018. Jumlah itu setara sekitar 5% dari total ARMY global yang kala itu diperkirakan mencapai 20 juta orang.
NH Investment & Securities kemudian menggunakan asumsi serupa terhadap estimasi 86,5 juta penggemar BTS berusia 10-29 tahun di negara berkembang Asia dan Amerika. Dengan asumsi 5% dari jumlah tersebut datang ke Korea Selatan, maka negara itu diperkirakan bisa menerima tambahan 4,3 juta wisatawan per tahun.
"Sebanyak 84% ARMY global saat ini masih berada di usia remaja dan 20-an, sehingga daya beli mereka masih relatif terbatas," kata Jung.
"Namun ketika mereka memasuki usia 30-an dan 40-an serta mulai memiliki penghasilan, konsumsi mereka kemungkinan besar akan berubah menjadi belanja wisata di Korea," ujarnya menambahkan.
Jung memperkirakan pemasukan wisata dari fandom BTS dapat mencapai US$3,3 miliar hingga US$13,4 miliar per tahun. Nilai itu diperkirakan mampu menambah sekitar 0,1 hingga 0,35 poin persentase terhadap PDB tahunan Korea Selatan pada sekitar 2040.
Laporan tersebut juga membandingkan fenomena ini dengan generasi Korea yang tumbuh besar bersama budaya populer Jepang atau disebut "J-imprinted generation." Generasi yang sejak kecil akrab dengan karya Jepang seperti Slam Dunk, Pokémon, dan One Piece kini disebut menjadi kelompok dengan daya beli tinggi dan aktif berwisata ke Jepang.
Data menunjukkan wisatawan Korea Selatan yang berkunjung ke Jepang mencapai 9,46 juta orang pada tahun lalu, setara 22% dari total turis asing ke Jepang. Menurut Jung, preferensi budaya yang terbentuk sejak remaja bisa berubah menjadi gelombang konsumsi besar 20 hingga 30 tahun kemudian.
Ia menambahkan, konsumsi yang digerakkan fandom K-pop berpotensi menjadi "kekuatan struktural" baru bagi ekonomi Korea Selatan. Itu terutama untuk membantu menopang konsumsi domestik di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dan populasi menua.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































