Jakarta -
Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN Eddy Soeparno menegaskan percepatan transisi energi menuju energi terbarukan harus menjadi strategi industrialisasi nasional. Hal ini memberikan manfaat langsung bagi industri dalam negeri serta menciptakan lapangan kerja baru (green jobs) bagi tenaga kerja terampil Indonesia.
Hal ini disampaikan Eddy dalam rangkaian kegiatan MPR Goes to Campus bersama Sekolah Pascasarjana Ilmu Lingkungan dan Ilmu Keberlanjutan Universitas Padjadjaran. Kampus Pascasarjana Unpad menjadi titik ke 43 dalam rangkaian kegiatan MPR Goes to Campus yang diinisiasi Eddy.
Di hadapan 200 lebih mahasiswa pascasarjana Unpad, Eddy menjelaskan bahwa Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang sangat strategis dengan potensi energi terbarukan nasional mencapai ribuan gigawatt, dengan komposisi signifikan dari tenaga surya, hidro, angin, bioenergi, dan geothermal. Namun pemanfaatannya masih jauh dari maksimal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu Doktor Ilmu Politik UI ini juga menjelaskan keunggulan Indonesia pada critical minerals seperti nikel dan tembaga yang sangat penting untuk baterai kendaraan listrik, BESS, dan infrastruktur EBT. Jika rantai pasok industri ini diproduksi dan diproses di dalam negeri, maka transisi energi dapat menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa implementasi RUPTL 2025-2034 berpotensi menciptakan lebih dari 1,7 juta green jobs serta berkontribusi pada pertumbuhan PDB tahunan sebesar 0,1-0,7 persen .
"Green jobs akan membuka peluang bagi insinyur, teknisi, ahli baterai, pekerja manufaktur panel surya, operator BESS, hingga tenaga riset dan inovasi. Anak-anak muda Indonesia harus menjadi pelaku utama dan tidak hanya menjadi penonton dalam transisi menuju energi bersih ini," ujar Eddy dalam keterangannya, Rabu (4/3/2026).
Menurut Waketum PAN ini, RUPTL 2025-2034 yang merencanakan tambahan kapasitas terpasang sebesar 69,5 GW, dengan 42,6 GW di antaranya berasal dari energi baru terbarukan serta tambahan 10,3 GW dari BESS (Battery Energy Storage System). Total investasi yang dibutuhkan hingga 2034 diperkirakan mencapai sekitar USD 190 miliar, atau sekitar USD 19 miliar per tahun .
"Angka investasi sebesar USD 190 miliar ini adalah peluang industrialisasi baru. Segenap upaya harus dilakukan agar Indonesia menjadi negara yang menarik untuk investasi di bidang energi terbarukan. Pertanyaannya: apakah kita hanya akan menjadi pasar panel surya, baterai, dan turbin impor? Atau kita ingin memproduksinya di dalam negeri?" tegasnya.
Ia juga menambahkan, bahwa sinergi antara solusi berbasis alam (Nature-based Solutions) dan solusi berbasis rekayasa (Engineered-based Solutions) dapat memperkuat ketahanan ekonomi dan energi nasional.. Dengan cadangan karbon alami yang besar dari hutan, mangrove, dan gambut, serta potensi CCS/CCUS yang signifikan, Indonesia memiliki peluang untuk membangun ekosistem ekonomi rendah karbon yang terintegrasi.
"Jika kita mampu membangun industri EBT berbasis produksi domestik, memperkuat manufaktur dalam negeri, dan memanfaatkan mineral kritis secara strategis maka Indonesia akan menjadi juga produsen dan eksportir teknologi rendah karbon. Ini akan memperkuat posisi geopolitik Indonesia sebagai pemimpin Global South," katanya.
Selanjutnya, ia menutup dengan pesan kepada kalangan akademisi dan mahasiswa pascasarjana untuk mengambil peran strategis dalam perumusan kebijakan dan inovasi teknologi.
"Kampus harus menjadi pusat riset, inovasi, dan inkubasi industri hijau. Transisi energi harus menjadi agenda nasional yang dinikmati industri dalam negeri dan membuka lapangan kerja hijau bagi rakyat Indonesia," tutupnya.
(akd/ega)

















































