Dibunuh Pelan-pelan, Internet Mulai Melawan Google

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemilik website, media berita, hingga komunitas daring di seluruh dunia mulai bersatu melawan Google. Penyebabnya adalah fitur kecerdasan buatan yang ditampilkan langsung di halaman pencarian, sehingga pengguna tidak perlu lagi mengklik tautan dan membuka halaman aslinya. Akibatnya, pengunjung yang masuk ke situs-situs pembuat konten turun drastis, dan sumber penghasilan mereka perlahan mengering. Banyak penerbit besar kini mempertimbangkan langkah berani: memutus akses Google sepenuhnya, dikutip dari laporan Futurism, Senin (21/9/2026).

Situasi ini disebut sebagai ancaman nyata bagi keberlangsungan internet yang terbuka. Selama bertahun-tahun, pencarian Google menjadi gerbang utama bagi jutaan orang menemukan berita, pengetahuan, dan informasi. Namun kini, jawaban yang ditampilkan di halaman depan sudah cukup lengkap sehingga pengguna merasa tidak perlu pergi ke mana pun lagi.

Penurunan lalu lintas yang tajam sudah terlihat pada sejumlah media besar di Amerika Serikat. Harian USA Today melaporkan jumlah pengunjung dari pencarian Google turun hampir 50 persen dalam setahun terakhir.

Media lain seperti Politico, The Economist, Reuters, dan majalah People sedang meninjau kembali kerja sama mereka dengan Google.

Platform diskusi Reddit juga mempertimbangkan mengakhiri kontrak bernilai Rp 900 miliar per tahun yang memungkinkan Google melatih sistem kecerdasan buatannya menggunakan unggahan pengguna.

"Ini soal hidup dan mati bagi sebagian penerbit," ungkap David Buttle, konsultan industri media. "Mereka kini memikirkan langkah yang sangat drastis."

PemimpinUSA Today, Mike Reed, menyampaikan sikap yang tegas. "Sudah saatnya berkata cukup. Kami tidak akan membiarkan ini terus terjadi," ujarnya.

Internet Dikuasai Robot

Peringatan lain datang dari pimpinan perusahaan keamanan Cloudflare, Matthew Prince. Ia mencatat bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah internet, lalu lintas yang datang ke website yang didominasi oleh mesin, bukan manusia. Artinya, makin sedikit orang yang benar-benar membaca konten, sementara sistem otomatis mengeruk informasi tanpa memberikan imbalan apa pun kepada pembuatnya.

Google sendiri membantah merugikan pihak lain. Pihak perusahaan menyatakan masih mengirimkan miliaran klik setiap minggu dan membantu pembuat konten menjangkau lebih banyak orang. Namun penjelasan itu tidak lagi meyakinkan para penerbit yang melihat angka pengunjung terus menurun.

Beberapa penerbit telah memilih jalur hukum dengan menuduh Google mengambil hak cipta karya mereka tanpa izin untuk dijadikan bahan jawaban AI.

Para pengamat memperingatkan bahwa ini bukan sekadar masalah pendapatan. Jika makin sedikit orang membuka situs asli, makin sedikit pula orang yang berkontribusi menulis informasi baru. Padahal sistem kecerdasan buatan Google membutuhkan aliran informasi baru yang terus mengalir. Dengan mematikan sumbernya, Google justru menggergaji dahan tempat ia berdiri sendiri.

Konten asli semakin sulit dipertahankan karena tidak ada pengunjung. Selain itu, AI akhirnya hanya mengulang informasi yang sudah ada tanpa ada hal baru. Seluruh internet perlahan berubah menjadi tempat menampilkan jawaban mesin, bukan tempat orang berbagi pengetahuan.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |