Dari Balik Lapas Kotabaru, Warga Binaan Bikin Telur Asin UMKM La New City

4 days ago 7

Jakarta -

Dapur balai latihan kerja (BLK) pembuatan telur asin di Lapas Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi saksi tangan-tangan cekatan para warga binaan pemasyarakatan (WBP) atau narapidana (napi) mengolah telur asin. Di balai BLK ini, telur asin dengan merek dagang La New City lahir.

Dihimpun situs resmi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), dari berbagai berbagai sumber pada Jumat (30/1/2026), para napi terlibat sedari awal proses pengolahan yakni memilih bahan baku yaitu telur bebek, mencuci lalu mengamplas permukaan cangkang telur. Setelah itu ada juga napi yang membuat adonan pasta atau lumpur pengasin.

Tahapan berlanjut hingga kemudian telur dibalur dengan lumpur. Beralih ke hilir proses pembuatan, para napi terlihat meletakan dengan rapih telur-telur asin yang sudah siap dikonsumsi serta pengemasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setiap tahap produksi membuat saya semakin terampil dan disiplin. Kami belajar menjaga kualitas dan bekerja dengan standar yang jelas," kata seorang napi berinisial N.

"Kegiatan ini memberi kami kesempatan untuk tetap produktif dan menyiapkan diri menghadapi masa depan," sambung dia.

Telur asin La New City memang salah satu produk unggulan Lapas Kotabaru. Awalnya pihak lapas hanya memberikan pelatihan dan pembinaan keterampilan di bidang olahan pangan.

Melihat kemampuan para napi, Lapas Kotabaru lalu melengkapi syarat-syarat agar telur dapat dijual, dan masyarakat kut menikmatinya. Telur asin ini telah memiliki sertifikat P-IRT (Pangan Industri Rumah Tangga) dan sertifikat halal. Sehingga dapat dipastikan telur asin tersebut memenuhi standar pangan resmi.

"Kami dorong agar Warga Binaan memiliki keterampilan nyata yang dapat dimanfaatkan untuk hidup mandiri dan produktif saat kembali ke masyarakat," terang Kepala Lapas Kotabaru Doni Handriansyah, Kamis (29/1).

Napi lainnya yang juga ikut produksi telur asin La New City, PM, merasakan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri saat mengetahui produk buatannya diminati masyarakat luas.

"Melalui kegiatan ini, saya belajar keterampilan baru dan cara menghasilkan produk yang disukai masyarakat. Semoga dengan adanya kegiatan ini, saya dapat lebih baik," harap PM.

Telur asin La New CityFoto: Telur asin La New City (dok. Ditjenpas Kementerian Imipas)

Kegiatan ini diawasi secara langsung oleh Petugas Pembina Kemandirian, Aprilita Dwi Imasari, sehingga proses pembuatannya tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga pada penanaman nilai disiplin dan tanggung jawab.

"Setiap tahap produksi dilakukan dengan teliti, mulai dari pemilihan bahan baku, perendaman, hingga proses pengasinan. Kami ingin agar produk yang dihasilkan tidak hanya layak jual, tetapi juga memiliki kualitas yang bisa dibanggakan," ujar Aprilita.

Kegiatan ini juga memberikan kontribusi berupa premi dan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) yang menjadi salah satu sumber pendukung kegiatan pembinaan dan operasional Lapas.

"Kami ingin setiap hasil karya warga binaan tidak berhenti di dalam tembok Lapas saja. Melalui pembinaan yang terarah, kami dorong agar produk-produk seperti La-New City Craft dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem UMKM yang mandiri dan berdaya saing," tutur Doni.

Ia menambahkan bahwa program ini sejalan dengan 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menimipas) Agus Andrianto, khususnya dalam peningkatan pendayagunaan Warga Binaan untuk menghasilkan produk UMKM yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan bersaing di pasaran.

Telur asin La New CityFoto: Telur asin La New City (dok. Ditjenpas Kementerian Imipas)

(aud/knv)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |