Jakarta -
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan terwujudnya Indonesia Emas 2045 memerlukan sejumlah prasyarat penting, salah satunya visi nasional yang berkelanjutan. Menurutnya, visi tersebut merupakan fondasi agar arah pembangunan tetap konsisten dan berjalan sesuai rencana.
"Cerita tentang negara maju adalah cerita tentang keberlanjutan," kata Bima dalam keterangan tertulis, Minggu (7/6/2026)
Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam Student Day Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan di Taman Bukit Palem Resort, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (6/6).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bima mencontohkan sejumlah negara maju, termasuk Singapura, yang berhasil mencapai kemajuan karena menjalankan visi pembangunan secara berkelanjutan. Ia pun mendorong para pemimpin, khususnya kepala daerah, untuk menerapkan prinsip serupa. Ia menyoroti masih adanya perubahan arah pembangunan di sejumlah daerah setiap kali terjadi pergantian kepala daerah.
Selain keberlanjutan visi, Bima menilai kemandirian bangsa juga menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan. Menurutnya, kemandirian tersebut perlu ditopang kepemimpinan yang efektif agar roda pemerintahan berjalan optimal.
"Mau kita punya banyak orang pintar, banyak orang hebat, demokrasinya diagungkan, tapi kalau pemerintahan enggak jalan, useless. Kita enggak akan ke mana-mana," ujarnya.
Bima juga menekankan pentingnya penguatan kolaborasi dan inovasi dalam pembangunan. Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dan membutuhkan keterlibatan aktif berbagai pihak. Ia pun mengapresiasi Universitas Pakuan yang mengangkat tema inovatif, kolaboratif, dan berdaya saing dalam kegiatan tersebut.
Lebih jauh, Bima mengingatkan para pemimpin daerah untuk mewaspadai meningkatnya tensi geopolitik global yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
"Karena uncertain geopolitik ini berdampak pada dolar, berdampak ke minyak, dan lain-lain. Jadi nomor satu, geopolitics matters," sambungnya.
Di samping memahami dinamika geopolitik, kepala daerah juga didorong terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di wilayahnya. Bima menilai SDM berkualitas memegang peranan penting dalam memperkuat kinerja birokrasi, namun harus pula didukung oleh strategi pemerintahan yang tepat.
"Masalahnya adalah strategi tepat atau enggak? Only time will tell ... jadi strategi ini adalah risiko para pemimpin," tandasnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Pakuan Didik Notosudjono, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan Sri Setyaningsih, serta jajaran civitas academica Universitas Pakuan.
(akn/ega)

















































