Bawa Perusahaan IPO, JK Jadi Orang Kaya Berharta Rp 57,3 Triliun

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia — Saham produsen kamera asal China Insta 360 melonjak hampir empat kali lipat pada debutnya di Bursa Efek Shanghai. Kenaikan ini mendorong valuasi perusahaan ke sekitar 71 miliar Yuan atau setara US$ 9,9 miliar atau sekitar Rp 161,37 triliun (kurs Rp 16.300).

Perusahaan yang tercatat dengan nama Arashi Vision ini berbasis di Shenzhen. Dalam penawaran umum perdana (IPO) di papan STAR Market pada Rabu (12/6/2025), perusahaan berhasil menghimpun dana sebesar 1,94 miliar yuan atau sekitar US$ 270 juta.

Saham Insta360 sempat menyentuh level tertinggi 352 yuan atau naik 644,66% dari harga IPO sebesar 47,27 yuan. Pada perdagangan terakhir, 13 Februari 2026, Arashi Vision parkir di level 224,7 yuan. 

Pencatatan ini menjadi IPO terbesar di papan STAR Market sepanjang tahun lalu. Dana hasil IPO sebagian besar akan dialokasikan untuk mendukung riset dan pengembangan produk ke depan.

Menurut laporan Forbes, lonjakan saham produsen action camera tersebut turut mengantarkan pendirinya yang berusia 33 tahun, Liu Jingkang yang juga dikenal sebagai JK memasuki jajaran miliarder baru.

Dia tercatat memiliki kekayaan US$ 3,4 miliar atau Rp 57,33 triliun (kurs Rp 16.860) di usia yang baru 34 tahun. Di dunia dia tercatat sebagai orang terkaya urutan 1.208. 

Adapun JK lulusan ilmu komputer dari Universitas Nanjing, mendirikan Insta360 pada 2015. Ia pernah masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia pada 2017.

Berdasarkan kepemilikan saham Liu sekitar 26,8%, termasuk saham yang dipegang istrinya, Forbes memperkirakan kekayaannya mencapai US$2,7 miliar atau sekitar Rp44 triliun. Liu menyampaikan pidato saat seremoni pencatatan saham di Shanghai.

"Sepuluh tahun lalu, kami keluar dari asrama Universitas Nanjing dengan sumber daya terbatas dan impian yang besar. Sepuluh tahun berlalu, produk unggulan kami telah berkembang dari ONE X menjadi X5, dan makin jauh kami melangkah, makin jelas pula visi awal kami," ujar Liu.

Insta360 menawarkan beragam produk imaging untuk konsumen dan telah populer di kalangan videografer serta kreator konten global. Produknya meliputi kamera aksi 360 derajat seri 'X' dan kamera mini seri 'Go'.

Pada 2024, Insta360 mencatat pendapatan sebesar 5,6 miliar yuan atau US$779,9 juta, naik 53,3% dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, laba bersih mencapai 994,7 juta yuan, naik 19,9% secara tahunan.

Pertumbuhan cepat Insta360 didorong oleh penjualan domestik yang kuat dan ekspansi internasional, terutama di AS, Eropa, dan Jepang. Tahun lalu, 76% dari total pendapatan berasal dari pasar luar negeri, termasuk penjualan senilai 1,3 miliar yuan dari AS.

Perusahaan ini memiliki 2.000 karyawan di berbagai kantor global, termasuk di China, AS, Jepang, dan Jerman. Dalam prospektusnya, Insta360 mengungkapkan rencana memperluas penetrasi pasar internasional.

Sebelum IPO, Insta360 didukung oleh investor besar seperti Qiming Venture Partners, IDG Capital, Xunlei, dan Suning Holdings Group. Pada 2019, perusahaan ini menggalang dana sebesar US$30 juta dari investor seperti Everest Venture Capital, MG Holdings, dan Huajin Capital.

Media pemerintah China menjuluki Insta360 sebagai "little giant" karena statusnya sebagai perusahaan teknologi yang tengah naik daun. Perusahaan ini dinilai memiliki potensi besar dalam sektor perangkat elektronik konsumen.

Namun, ke depan, Insta360 menghadapi tantangan dari ketegangan dagang antara AS dan China. Dalam prospektusnya, perusahaan menyebut bahwa ketidakpastian terhadap ekspansi bisnis luar negeri meningkat akibat perubahan kebijakan tarif dari Gedung Putih sejak Februari.

Selain itu, persaingan di industri elektronik konsumen juga semakin ketat. Insta360 mengidentifikasi GoPro dan DJI sebagai pesaing utama di segmen kamera aksi.

(mkh/mkh)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |