AirNav dan Boeing Teken Letter of Intent Tingkatkan Efisiensi di Bandara Ngurah Rai

5 days ago 13
Jakarta -

AirNav Indonesia dan The Boeing Company menandatangani letter of intent (LoI) atau kesepakatan awal untuk studi peningkatan ruang udara dan pergerakan pesawat di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan keselamatan penerbangan, efisiensi operasional di darat dan udara, serta menekan emisi bahan bakar.

Penandatanganan dilakukan oleh Dirut AirNav Indonesia Avirianto Suratno dan Senior Managing Director Boeing Commercial Airplanes, Malcolm, di Hotel Sheraton Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (15/9/2026). Avirianto Suratno menjelaskan pemilihan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali.

"Di Bali itu kan memang harus ada peningkatan karena tidak ada taxiway. Sehingga nanti Boeing akan membantu bagaimana kita itu bisa meningkatkan khususnya keselamatan, penerbangan, dan efisien waktu di darat karena tidak ada taxiway paralel. Sedangkan kabin di Bali cukup panjang," ujar Avirianto Suratno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Avirianto Suratno mengatakan kolaborasi ini ditargetkan dapat mengoptimalkan pergerakan pesawat dari 33 per jam menjadi 34-40 pesawat. Dia menyebut kondisi di Bali membuat keberangkatan dan kedatangan sering menumpuk.

"Menggunakan teknologi untuk mengatur lalu lintas udara dan darat, targetnya meningkatkan pergerakan pesawat dari 33 per jam menjadi 34-40 per jam sekaligus menghemat bahan bakar dan emisi," ujarnya.

"Jadi, kalau pesawat dari parking untuk taxi itu mundur, nah ketemu sama yang datang dalam satu area kan. Nah ini yang kita harus manage," imbuhnya.

Penandatanganan LoI antara AirNav dan Boeing (Shonya/detikcom)Penandatanganan LoI antara AirNav dan Boeing (Shonya/detikcom)

Dia mengatakan manajemen ini akan dikembangkan di bandara lain yang tidak memiliki taxiway paralel jika bisa diterapkan di Bali. Masa uji coba akan dilakukan hingga Januari mendatang.

"Kalau mungkin di Bali sukses, nanti kita targetkan di bandara-bandara lain khususnya yang tidak punya taxiway paralel," ujarnya.

Direktur Operasi AirNav, Setio Anggoro, mengatakan tahap awal studi pengembangan dilakukan melalui pemodelan operasi menggunakan baseline model total airspace and airport modeler atau TAAM. Hal tersebut dilakukan untuk merepresentasikan kondisi operasional bandara.

"Jadi mulai dari studi. Misalnya kalau sama tim Boeing kita desain dulu yang awal, baseline. Jadi yang current operation didesain," ujar Direktur Operasi AirNav, Setio Anggoro.

Deputi Bidang Fasilitasi dan Sinergi Pembangunan, Hambara, berharap ada transfer pengetahuan dari Boeing kepada AirNav. Dia berharap layanan di bandara-bandara lain juga akan meningkat.

"Harapan kita nantinya AirNav dengan Boeing ini sekaligus wadah untuk teman-teman AirNav itu bisa transfer knowledge ya. Sehingga nanti untuk yang di bandara-bandara lain diharapkan teman-teman AirNav sendiri sudah bisa mendesain nanti ke depan," kata Hambara.

Tonton juga video "Serpihan Pesawat Kargo Boeing 737 yang Jatuh di Laut Arab"

(haf/haf)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |