- Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada akhir pekan lalu. IHSG melemah, rupiah menguat tipis, sedangkan imbal hasil SBN bergerak datar.
- Wall Street juga berakhir beragam di tengah kenaikan yield US Treasury dan harga minyak yang tetap berada di atas US$100 per barel.
- Konflik Houthi-Arab Saudi, keputusan BI Rate, kebijakan BOJ dan China, serta sejumlah data ekonomi akan menggerakkan pasar pekan ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah menutup perdagangan terakhir pekan lalu dengan arah yang berbeda.
Memasuki perdagangan awal pekan ini, Senin (21/9/2026), pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan menghadapi berbagai dinamika. Selengkapnya mengenai pergerakan dan sentimen pasar keuangan hari ini serta sepekan ke depan dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG berakhir di zona merah pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Indeks ditutup melemah 21,27 poin atau 0,33% ke posisi 6.441.
Pergerakan IHSG sepanjang perdagangan cenderung berada di zona merah. Setelah dibuka pada level 6.512,57, indeks bergerak fluktuatif dan sempat mencapai level tertinggi 6.521,02. Tekanan kemudian membawa IHSG menyentuh titik terendah harian di posisi 6.419,50.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 464 saham ditutup melemah. Sementara itu, 212 saham menguat dan 287 saham lainnya stagnan.
Volume perdagangan tercatat mencapai 31,72 miliar saham dengan nilai transaksi Rp19,24 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai sekitar 1,92 juta kali.
Perdagangan di pasar reguler mendominasi aktivitas dengan volume 291,76 juta lot dan nilai transaksi Rp17,3 triliun. Sementara itu, nilai transaksi di pasar negosiasi mencapai Rp1,95 triliun.
Berdasarkan data Refinitiv, sektor barang konsumer primer menjadi penekan terbesar IHSG setelah turun 1,27%. Pelemahan berikutnya terjadi pada sektor properti sebesar 1,20% dan kesehatan sebesar 1,18%.
Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi pemberat indeks.
Di tengah pelemahan tersebut, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membantu menahan koreksi IHSG lebih dalam.
Dari pasar mata uang, rupiah berhasil berbalik menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat. Meski demikian, mata uang Garuda masih membukukan pelemahan sepanjang pekan.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,03% ke posisi Rp17.730/US$. Penguatan ini membalikkan pelemahan 0,34% pada perdagangan Kamis, ketika rupiah berakhir di level Rp17.735/US$.
Sepanjang perdagangan Jumat, rupiah bergerak dalam rentang Rp17.700-Rp17.755/US$. Mata uang Garuda sempat menguat hingga Rp17.700/US$, sebelum kehilangan sebagian tenaganya menjelang penutupan.
Kendati menguat tipis pada Jumat, rupiah masih mencatatkan pelemahan sebesar 0,82% sepanjang pekan lalu.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun bergerak datar dan bertahan di level 7,157% pada perdagangan Jumat. Pergerakan yield yang mendatar menunjukkan harga SBN relatif tidak berubah dibandingkan perdagangan sebelumnya.


















































