4 Pejabat Prabowo Keluarkan Peringatan Soal El Nino, Ada Apa?

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengingatkan adanya bahaya dari fenomena El Nino yang melanda Indonesia. Oleh karena itu, ia mengimbau kepada seluruh pemangku kepentingan terkait untuk melakukan langkah antisipasi secepat mungkin.

Sebagaimana diketahui, El Nino merupakan fenomena iklim akibat suhu permukaan laut di Samudera Pasifik naik, sehingga memicu kondisi yang lebih kering dan turunnya curah hujan. 

"Nah diperkirakan di tahun 2026-2027, terjadi adalah fenomena El Nino, ini pernah kita alamin beberapa tahun yang lalu, 2014-2015 kalau saya tidak salah. Setelah itu kita juga pernah mengalami La Nina, ada musim kemarau tapi kemarau nya basah karena masih banyak hujan. Nah kita akan menghadapi menurut BMKG adalah El Nino," ungkap dia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Senin (29/6/2026).

Tito menjelaskan, fenomena El Nino tidak hanya memberikan dampak terhadap peningkatan risiko kekeringan dan kebakaran hutan, melainkan juga mengancam beberapa sektor strategis. Sebagai contoh, berkurangnya curah hujan berpotensi mengganggu perkebunan dan persawahan, sehingga produksi pangan dapat menurun dan memicu tekanan inflasi.

Dari situ, Tito menegaskan, perlunya langkah antisipasi lintas Kementerian dan Pemerintah Daerah (Pemda). Dalam hal ini, BNPB diminta memimpin penanganan potensi bencana, dengan dukungan seluruh daerah. Adapun, Kementerian PU menyiapkan strategi pengelolaan sumber daya air, sedangkan Kementerian Pertanian menjaga produksi pangan agar tetap terjaga.

Bersamaan dengan itu, Deputi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Lilik Kurniawan memberikan arahan agar seluruh daerah dapat memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Mulai dari ketersediaan air bersih, pangan, hingga kelancaran aktivitas dan ekonomi.

Dia juga menyebut, berdasarkan prediksi BMKG puncak kekeringan ekstrem diperkirakan terjadi pada bulan Juli hingga September 2026. Hal ini menjadi perhatian bersama lantaran kekeringan ekstrem berdampak terhadap kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan.

"Sehingga kita kemudian bisa menyiapkan mobil-mobil tangki air, sumber-sumber air yang bisa kita ambil kemudian kita distribusikan pada daerah-daerah yang terdampak. Kemudian terkait dengan antisipasi dan adaptasi kebakaran hutan dan lahan, ini kita juga perlu memetakan sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk pembasahan dan pemadaman pada saat kebakaran hutan dan lahan," jelasnya.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyatakan, El Nino berbeda dengan musim kemarau. Sebab, musim kemarau tetap berlangsung seperti biasa hingga Oktober. Sedangkan, El Nino merupakan fenomena iklim global yang umumnya terjadi setiap 3-7 tahun dan dapat berlangsung sampai 9-12 bulan.

"Nah yang perlu kita waspadai adalah ketika fenomena El Nino ini terjadi bersamaan dengan musim kemarau, ini akan membuat hujan akan lebih sedikit seperti yang kita alami pada tahun ini," terang dia.

Untuk mengurangi dampak El Nino, BMKG bersama BNPB dan Kementerian terkait menyiapkan berbagai langkah antisipasi. Di antaranya adalah pemantauan titik api, operasi modifikasi cuaca untuk mengisi cadangan air dan menjaga kelembapan lahan gambut serta penguatan sistem peringatan dini.

Di samping itu, Pemda juga diminta memanfaatkan informasi iklim yang disiapkan BMKG di setiap Provinsi. Hal ini ditujukan supaya langkah antisipasi disesuaikan karakteristik wilayah masing-masing.

"Jadi kita lebih preventif sehingga sejak tahun 2015, untuk kebakaran hutan dan lahan ini relatif berkurang dan lebih bisa dikontrol. Kemudian untuk wilayah perkotaan, ini yang perlu kita waspadai, terkait dengan penumpukan polutan dari sumber lokal, sehingga perlu pengendalian emisi kendaraan, mendorong masyarakat untuk menggunakan transportasi umum, kemudian perencanaan zona rendah emisi, peningkatan kualitas udara, dan juga pembatasan aktivitas saat polusi memburuk nantinya," kata dia.

Tak ketinggalan, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengatakan, pihaknya bersama Pemda telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi untuk mengatasi El Nino. Misalnya dengan melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan peluang hujan, mengisi embung, serta menjaga kelembapan lahan yang rawan terbakar.

"Yang kedua adalah penguatan kapasitas daerah dalam bentuk dukungan logistik dan sarana-prasarana yang dibutuhkan daerah. Tentu saja BNPB memberikan bantuan peralatan dan logistik apabila diminta. Tetapi kalau tidak minta dan memang tidak ada bencana atau prediksi yang ekstrem di daerah itu, kami menganggap daerah itu masih mampu bisa mengatasi menggunakan APBD," tutur Suharyanto.

Dia melanjutkan, dalam menangani risiko kebakaran hutan dan lahan, BNPB menekankan pentingnya penguatan satuan tugas darat sebagai garda terdepan pemadaman api. Adapun operasi udara menggunakan water bombing dan patroli udara hanya menjadi pilihan terakhir apabila kebakaran sudah tidak bisa ditangani oleh tim darat.

Lantas, BNPB mengajak seluruh Pemda untuk meningkatkan kesiapsiagaan melalui koordinasi yang lebih intensif dengan Pemerintah Pusat. Setiap kepala daerah diminta segera melaporkan kebutuhan bantuan, menetapkan status siaga darurat jika ada potensi ancaman, serta memanfaatkan dukungan BNPB sesuai regulasi yang berlaku.

"Sekali lagi ini tidak akan mampu mengatasi tanpa kerja sama dari semua pihak. Yang pertama adalah peningkatan kemampuan personil satgas darat. Untuk provinsi-provinsi prioritas, ini satgas daratnya sudah terbentuk cukup baik, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api, Manggala Agni, Relawan, semuanya sudah ada, semuanya sesuai dengan kekuatannya masing-masing, sesuai dengan kebutuhan di lapangan," tandas dia.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian saat menyampaikan pemaparan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin (29/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kemendagri RI)Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian saat menyampaikan pemaparan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin (29/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kemendagri RI) Foto: Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian saat menyampaikan pemaparan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 di Jakarta, Senin (29/6/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Kemendagri RI)

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |