Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang mulai merekrut sopir bus dari luar negeri untuk mengatasi krisis kekurangan tenaga kerja yang semakin parah. Di tengah lonjakan wisatawan dan populasi sopir yang menua, perusahaan transportasi di Negeri Sakura kini mengandalkan pekerja asing, termasuk dari Indonesia, agar layanan bus tetap berjalan.
Salah satunya adalah Mahatmi Rismartanti (27), perempuan asal Indonesia yang berhasil mewujudkan mimpinya menjadi sopir bus di Jepang setelah menjalani pelatihan selama enam bulan.
"Saya sangat bersemangat. Saya akan memastikan membawa penumpang sampai tujuan dengan selamat," kata Mahatmi, dikutip dari NHK World, Jumat (26/5/2026).
Mahatmi direkrut oleh perusahaan operator bus besar Jepang, Tokyu Bus, bersama dua warga Indonesia lainnya melalui skema visa pekerja terampil atau Specified Skilled Worker (SSW). Program visa tersebut dibentuk pemerintah Jepang untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor.
Tokyu Bus mengungkapkan sekitar 60% pengemudinya kini berusia 50 tahun ke atas. Dengan banyaknya pegawai yang mendekati masa pensiun, perusahaan mulai membuka peluang lebih besar bagi tenaga kerja asing.
"Kami menghadapi kekurangan tenaga kerja yang akan semakin parah di masa depan. Kami tidak punya pilihan selain melangkah ke arah ini," ujar Executive Officer Tokyu Bus, Okano Kyoko.
Halte bus di Jepang. (REUTERS/Issei Kato)
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Tokyu Bus. Operator bus di seluruh Jepang menghadapi persoalan serupa. Kelompok industri memperkirakan negara tersebut akan kekurangan sekitar 30.000 sopir bus dalam beberapa tahun ke depan.
Akibatnya, sejumlah perusahaan mulai merekrut pelamar tanpa pengalaman mengemudikan kendaraan besar. Mereka bahkan menawarkan bonus khusus dan berbagai fasilitas tambahan untuk menarik minat calon pengemudi.
Tak Sekadar Bisa Menyetir
Sebelum resmi mengemudikan bus, Mahatmi harus melewati berbagai tahapan pelatihan. Selain memperoleh lisensi mengemudi kendaraan besar di Jepang, ia juga diwajibkan menguasai bahasa Jepang agar mampu berkomunikasi dengan penumpang.
Instruktur mengajarkannya berbagai teknik mengemudi hingga cara berbicara kepada penumpang.
"Kalau menekan pedal gas secara perlahan, perjalanan akan terasa lebih nyaman bagi penumpang," ujar instruktur saat memberikan pelatihan.
Mahatmi mengaku cita-citanya menjadi pengemudi kendaraan besar sudah muncul sejak kecil karena terinspirasi anggota keluarganya. Saat melihat lowongan sopir bus di Jepang, ia langsung merasa kesempatan itu sesuai dengan impiannya.
"Saya sangat bahagia. Ini memang impian saya sejak kecil. Saat melihat iklannya, saya langsung berpikir, 'Pekerjaan ini untuk saya'," katanya.
Meski dinilai memiliki kemampuan mengemudi yang baik, tantangan terbesar Mahatmi justru datang dari bahasa. Dalam salah satu sesi latihan, ia sempat kebingungan ketika menghadapi penumpang yang saldo kartu pembayaran elektroniknya tidak mencukupi.
"Saya tidak tahu harus bagaimana. Berkomunikasi dalam bahasa Jepang masih cukup sulit," ujarnya.
Di rumah, Mahatmi rutin mempelajari buku panduan mengemudi dan menghafalkan berbagai kalimat yang umum digunakan saat bekerja, seperti meminta penumpang bergeser ke bagian dalam bus atau memberikan informasi keberangkatan.
Perusahaan bus di Jepang mengakui pelatihan bahasa menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mempersiapkan pekerja asing. Kemampuan berkomunikasi dinilai sangat penting agar pengemudi dapat memberikan informasi saat terjadi keterlambatan, kendala pembayaran, maupun kondisi darurat.
Selain itu, perusahaan juga harus mengeluarkan biaya besar untuk mengenalkan aturan lalu lintas dan sistem jalan di Jepang kepada para pekerja asing.
Jadi Harapan Industri
Setelah enam bulan menjalani pelatihan, Mahatmi akhirnya mulai mengemudikan bus penumpang secara mandiri pada Maret lalu. Pada hari pertamanya bertugas sendiri, ia mengoperasikan delapan perjalanan bus.
"Saya tidak boleh lengah," katanya sebelum memulai perjalanan.
Sepanjang hari ia melayani penumpang dengan berbagai percakapan sederhana dalam bahasa Jepang, mulai dari membantu pembelian tiket hingga memberikan pengumuman sebelum bus berangkat.
"Ini adalah langkah besar bagi saya. Saya ingin menjadi sopir bus yang bisa membawa senyum bagi para penumpang," ujar Mahatmi.
Tokyu Bus menargetkan sekitar 10% dari seluruh sopir baru yang direkrut setiap tahun berasal dari pekerja asing melalui visa SSW. Namun, manajemen perusahaan mengakui jumlah tersebut kemungkinan masih belum cukup untuk mempertahankan jumlah pengemudi yang dibutuhkan.
Sejumlah operator bahkan telah menaikkan usia pensiun sopir hingga 70 tahun. Meski demikian, pengurangan rute dan frekuensi layanan bus sudah mulai terjadi di berbagai wilayah Jepang akibat minimnya pengemudi.
(hsy/hsy)
Addsource on Google


















































