ESDM Beberkan Jurus Jaga Ketahanan Energi RI di Tengah Tekanan Global

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan berbagai upaya untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah gejolak geopolitik global. Hal ini sekaligus merespons penilaian JP Morgan yang menempatkan Indonesia pada posisi tinggi dalam ketahanan energi.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyampaikan penilaian tersebut memang memunculkan berbagai tanggapan karena Indonesia merupakan negara demokrasi. Namun, menurutnya salah satu indikator yang paling mudah dilihat adalah kondisi pasokan energi pada awal pecahnya konflik global.

Ia menjelaskan, pada minggu pertama terjadinya perang, sejumlah negara di Asia Tenggara mengalami gangguan pasokan energi. Bahkan, ada negara yang menetapkan keadaan darurat dan mengimbau masyarakat mengurangi penggunaan kendaraan karena harga bahan bakar yang melonjak.

"Saya bilang, pada saat minggu pertama terjadinya perang, Jakarta masih macet. Itu artinya BBM masih banyak untuk bisa kita bakar," ujar Laode saat berbicara di Energy Forum CNBC Indonesia, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, pemerintah saat itu segera melakukan pengelolaan konsumsi energi melalui sosialisasi penghematan penggunaan BBM dan LPG. Hal itu dilakukan untuk menjaga ketahanan pasokan selama periode krisis.

"Mungkin banyak yang tidak tahu, kondisi kita sempat terjadi kritis pada masa lebaran di mana saat itu LPG kita hanya tinggal 5 hari. Itu berhasil kita pulihkan. Strateginya apa? Memang bahwa kita tidak bisa tidur nyenyak. Kita harus kejar sumber energi ini dan alhamdulillah kembali," tambahnya.

Di sisi pasokan, pemerintah juga melakukan diversifikasi sumber impor. Adapun, Indonesia tidak lagi hanya bergantung pada pasokan melalui Selat Hormuz, tetapi juga memperluas impor minyak dari kawasan Afrika serta meningkatkan pasokan LPG dari Amerika Serikat dan negara lainnya.

"Jadi kalau ada kunjungan kepala negara yang sering itu penting untuk mengikat komitmen negara tersebut membantu kita dari sisi suplai. Itu dari sisi mitigasi suplai," katanya.

Selain itu, ketahanan energi Indonesia juga didukung oleh produksi minyak domestik yang saat ini mencapai sekitar 600 ribu barel per hari serta potensi pengembangan bioenergi melalui pencampuran biodiesel sebagai substitusi solar.

Di sektor hulu migas, pemerintah juga terus mendorong peningkatan produksi melalui penerapan teknologi serta eksplorasi wilayah baru. Guna mendukung hal tersebut, pemerintah kini mengalokasikan anggaran melalui APBN untuk membiayai studi eksplorasi migas.

"Dari sisi fiskal. Dulu kita mengenal share untuk split dengan badan usaha KKKS kalau untuk minyak 85-15 kalau untuk gas 70. Sekarang sudah fleksibel. Tergantung risiko yang dihadapi KKKS bisa kita tingkatkan sampai 40-50%. Ini membuka peluang investasi ke depan," katanya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |