Volatilitas Gila-gilaan, Harga Perak Sempat Jatuh Brutal

2 hours ago 1

Review Sepekan

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

08 February 2026 08:30

Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar perak global menutup pekan pertama Februari 2026 dengan pergerakan harga yang sangat ekstrem. Setelah sempat menyentuh rekor tertinggi baru, harga logam mulia ini mengalami tekanan jual yang masif sebelum akhirnya berhasil rebound secara signifikan menjelang penutupan pasar akhir pekan.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot, harga perak (XAG/USD) menutup perdagangan Jumat (6/2/2026) di level US$ 77,97 per troy ons. Posisi ini menunjukkan pemulihan yang cukup berarti dari titik terendah minggu ini di kisaran US$ 64. Namun, jika ditarik dari rekor tertingginya pada 28 Januari yang sempat menyentuh US$ 116,57, harga perak tercatat masih mengalami koreksi tajam lebih dari 30% hanya dalam kurun waktu satu minggu.

Pemicu Gejolak: Margin Call dan Likuiditas Ketat

Salah satu faktor utama yang memperparah kejatuhan harga minggu ini adalah intervensi kebijakan dari otoritas bursa. CME Group, bursa derivatif terbesar di dunia, mengumumkan kenaikan persyaratan margin untuk kontrak berjangka perak COMEX 5000 dari 15% menjadi 18%. Aturan ini mulai berlaku efektif setelah penutupan bisnis tanggal 6 Februari.

Kebijakan ini diambil untuk meredam spekulasi berlebihan. Namun, kenaikan biaya jaminan ini justru memukul trader ritel dan investor dengan modal terbatas. Banyak dari mereka terpaksa melakukan likuidasi posisi karena tidak sanggup menambah deposit dana.

Dampaknya sangat terasa di pasar Asia, di mana dana investasi perak UBS SDIC di China dilaporkan mengalami kejatuhan harga hingga batas bawah harian selama lima hari berturut-turut, mencerminkan kepanikan pasar yang cukup dalam.

Bad News is Good News

Di tengah tekanan teknikal tersebut, sentimen fundamental justru memberikan harapan bagi pembeli. Data ekonomi Amerika Serikat terbaru menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan turun ke level terendah sejak September 2020. Pelemahan pasar tenaga kerja ini dianggap sebagai sinyal bahwa ekonomi AS sedang mendingin.

Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mulai memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juni 2026. Suku bunga yang lebih rendah cenderung melemahkan Dolar AS dan menurunkan imbal hasil obligasi, yang secara historis menjadi sentimen positif untuk harga emas dan perak.

Target Kenaikan dan Risiko Penurunan

Melihat volatilitas yang ada, para analis pasar kini memetakan beberapa skenario pergerakan harga ke depan. Secara teknikal, area US$ 72 - US$ 73 per troy ons telah teruji sebagai level support yang krusial.

  • Skenario Optimis (Bullish): Jika harga perak mampu bertahan stabil di atas US$ 72, target pemulihan jangka pendek berada di level US$ 86. Apabila momentum pembelian berlanjut dan mampu menembus resisten kunci di US$ 92, harga berpotensi mengejar target lanjutan di kisaran US$ 94.

  • Skenario Pesimis (Bearish): Sebaliknya, investor perlu waspada jika tekanan jual kembali meningkat. Kegagalan mempertahankan level US$ 72 berisiko memicu penurunan lebih dalam menuju area US$ 60, yang merupakan zona permintaan historis sebelum reli besar terjadi.

Pelaku pasar kini bersikap wait and see menanti rilis data Inflasi (CPI) dan laporan ketenagakerjaan AS minggu depan yang akan menjadi penentu arah tren selanjutnya.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |