Rebound Bitcoin Bukan Akhir Koreksi? Analis Sebut Target Baru

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia — Pergerakan harga Bitcoin kembali memanas setelah aset kripto terbesar di dunia itu mencetak rebound tajam dan menembus level US$70.000. Namun di balik reli tersebut, analis justru mengingatkan potensi koreksi lanjutan yang bisa menyeret Bitcoin jatuh jauh lebih dalam, bahkan hingga kisaran US$40.000.

Pada perdagangan Jumat, Bitcoin sempat melonjak hingga US$71.458 atau menguat lebih dari 11% dalam sehari. Penguatan ini terjadi hanya sehari setelah Bitcoin nyaris menembus ke bawah level psikologis US$60.000, menyusul kejatuhan tajam hingga 15% pada Kamis sebelumnya.

Reli agresif ini dipicu aksi beli investor yang memanfaatkan harga diskon, setelah Bitcoin terkoreksi lebih dari 50% dari rekor tertingginya di atas US$126.000 pada Oktober tahun lalu.

Pergerakan Bitcoin juga sejalan dengan pemulihan aset berisiko global, di mana bursa saham AS menguat signifikan.

Indeks Dow Jones melonjak 918 poin atau 1,9%, sementara S&P 500 naik 1,4% dan Nasdaq Composite menguat 1,5%. Saham-saham teknologi besar seperti Nvidia dan Microsoft turut rebound tajam, mencerminkan kembalinya selera risiko (risk-on) investor.

Meski demikian, sejumlah analis menilai rebound ini belum cukup kuat untuk mengubah tren besar. Bitcoin kini masih berada sekitar 45% di bawah level tertingginya, dan volatilitas tinggi dinilai menjadi sinyal peringatan.

Penurunan Bitcoin ke bawah US$70.000 sebelumnya dianggap sebagai sinyal teknikal negatif. Lembaga riset 10X Research memperkirakan Bitcoin berpotensi turun ke area US$50.000 setelah reli jangka pendek mereda.

Bahkan, dalam skenario tekanan makro dan risk-off yang lebih dalam, sejumlah pelaku pasar menilai level US$40.000 bukan lagi area yang mustahil untuk diuji.

"Kami melihat potensi counter-trend rally dalam jangka pendek, bisa bergerak sideways atau naik sedikit. Namun, kemungkinan besar Bitcoin akan mencetak level terendah baru dalam beberapa bulan ke depan," ujar Markus Thielen dari 10X Research, mengutip CNBC.com, Minggu (8/2/2026).

Dengan volatilitas yang masih ekstrem dan sentimen global yang rapuh, pergerakan Bitcoin ke depan diperkirakan tetap penuh gejolak. Rebound tajam saat ini dinilai lebih sebagai technical bounce, bukan sinyal pembalikan tren, sehingga risiko koreksi lanjutan masih membayangi pasar kripto.

(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |