Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan militer AS berhasil menewaskan Héctor Rusthenford Guerrero Flores, yang lebih dikenal dengan nama Niño Guerrero, pemimpin geng kriminal Venezuela Tren de Aragua, dalam sebuah operasi militer yang dilakukan pekan ini.
Dalam pernyataannya pada Jumat (12/6), Trump menyebut serangan tersebut dilakukan atas perintah langsung dirinya dan dilaksanakan oleh Komando Selatan Amerika Serikat (US Southern Command). Operasi itu disebut berlangsung cepat dan mematikan serta dikoordinasikan dengan otoritas Venezuela.
"Di bawah arahan saya, Komando Selatan Amerika Serikat melaksanakan serangan cepat dan mematikan untuk mengeksekusi Niño Guerrero, pemimpin terkenal Tren de Aragua, salah satu organisasi teroris paling berdarah di dunia," tulis Trump melalui platform Truth Social yang dikutip Reuters.
"Aksi ini dikoordinasikan erat dengan teman-teman kita di Venezuela, yang dengannya kita bekerja sama dengan sangat baik," tambahnya.
Kepala Pentagon Pete Hegseth mengunggah di X bahwa serangan itu dilakukan awal pekan ini dan dipastikan bahwa Guerrero tewas selama serangan tersebut.
Kementerian informasi Venezuela mengatakan bahwa selama operasi tersebut terjadi bentrokan dengan anggota kelompok kriminal, di mana pemimpinnya, Guerrero, berhasil dilumpuhkan.
Operasi tersebut melibatkan dukungan teknologi khusus dan dilakukan melalui kerja sama dan pertukaran intelijen antara otoritas kedua negara, kata kementerian tersebut.
Pemerintahan Trump telah berulang kali menargetkan Guerrero dan para pemimpin organisasi Tren de Aragua lainnya dengan sanksi atas dugaan keterlibatan dalam kegiatan kriminal seperti penyelundupan narkoba ilegal, perdagangan manusia, dan pencucian uang.
Pemerintah AS sebelumnya telah menetapkan Tren de Aragua sebagai organisasi teroris asing dan menawarkan hadiah jutaan dolar bagi informasi yang dapat mengarah pada penangkapan Guerrero.
Trump mengklaim Tren de Aragua mengoordinasikan aktivitasnya di AS dengan pemerintah Venezuela di bawah Presiden Nicolás Maduro. Pemerintahan Trump telah mengutip dugaan hubungan tersebut untuk membenarkan deportasi beberapa imigran di AS ke penjara keamanan maksimum di El Salvador.
Selama bertahun-tahun, Tren de Aragua dikenal terlibat dalam perdagangan manusia dan mengendalikan rute yang dilalui oleh warga Venezuela dan migran Amerika Selatan lainnya yang menuju selatan ke Chili yang relatif makmur dan tujuan lain di Amerika Selatan atau Eropa.
Kelompok tersebut juga dikaitkan dengan pemerasan, penculikan, pencucian uang, pembunuhan berencana, penyelundupan, dan pencurian ritel terorganisir dari Panama hingga Brasil dan di sepanjang koridor Andes, menurut pejabat kepolisian Amerika Latin.
Guerrero melarikan diri dari penjara Tocoron di Venezuela bersama para pemimpin geng lainnya sesaat sebelum penggerebekan polisi pada tahun 2023.
(fab/fab)
Addsource on Google


















































