Tragis Nasib Anak Afrika Dipajang Jadi Tontonan di AS-Tewas Memilukan

6 hours ago 3
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu dengan lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Sulit dipercaya, tetapi di Amerika Serikat pernah ada "kebun binatang manusia" untuk memamerkan warga Afrika layaknya satwa kepada publik. Peristiwa itu terjadi pada 1906 dan menimpa Ota Benga, pria asal Kongo yang dipajang hingga ditonton ribuan orang setiap harinya.

Ironisnya, praktik tersebut terjadi di negara yang selama ini identik dengan gagasan kesetaraan manusia, penghapusan perbudakan dan penghormatan terhadap HAM sejak kemerdekaannya pada 4 Juli 1776, tepat hari ini 250 tahun lalu.

Kisah Ota Benga bermula beberapa tahun sebelumnya saat penjelajah dan pedagang asal Amerika Serikat, Samuel Phillips Verner, datang ke wilayah Kongo. Saat itu, Kongo berada di bawah kekuasaan kolonial Belgia.

Verner datang dengan misi mencari penduduk asli Afrika untuk dibawa ke AS dan dipamerkan dalam ajang pameran dunia di St. Louis pada 1904. Dalam perjalanannya, Verner bertemu dengan Ota Benga yang saat itu telah kehilangan keluarga akibat konflik dan kekerasan.

Mengutip The Guardian, Verner kemudian menculik Benga ke AS dengan janji akan memberinya pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. Namun sesampainya di Negeri Paman Sam, kenyataan yang dihadapi Benga jauh berbeda.

Dia justru dipamerkan bersama sejumlah warga Afrika lainnya dalam area khusus yang dirancang menyerupai perkampungan Afrika. Pengunjung datang untuk melihat bagaimana mereka berbicara, berpakaian, berburu, hingga menjalani aktivitas sehari-hari.

Bagi masyarakat AS saat itu, pameran tersebut dianggap sebagai hiburan sekaligus sarana mempelajari budaya dari wilayah yang dianggap "eksotis". Namun bagi Benga dan warga Afrika lainnya, mereka diperlakukan layaknya objek pertunjukan.

Popularitas Benga terus meningkat seiring besarnya minat pengunjung. Dia kemudian dibawa berkeliling ke berbagai kota dan terus dipertontonkan demi mendatangkan keuntungan.

Puncak eksploitasi terjadi pada September 1906 ketika pihak Kebun Binatang Bronx di New York menerima Benga sebagai bagian dari atraksi mereka.

Mengutip BBC International, di sana, Benga ditempatkan di area rumah primata dan kerap ditampilkan bersama orangutan bernama Dohong. Pengunjung diperbolehkan melihatnya secara langsung. Dalihnya untuk mengetahui secara langsung teori evolusi manusia Darwin yang mengungkap manusia berawal dari kera. 

Setiap hari ribuan orang datang memadati kebun binatang untuk melihat langsung pria asal Kongo tersebut.

Tidak sedikit pengunjung yang mengejek, menertawakan, hingga mengganggunya. Pada suatu kesempatan, Benga bahkan diminta menunjukkan giginya yang sengaja dikikir menjadi runcing seakan-akan buas.

Sebagaimana tulis situs History, praktik tersebut akhirnya memicu kemarahan para pemimpin gereja dan tokoh masyarakat kulit hitam di AS Mereka menilai tindakan Kebun Binatang Bronx sebagai bentuk penghinaan terhadap martabat manusia.

Setelah sekitar 20 hari dipamerkan, pihak kebun binatang menghentikan atraksi tersebut dan menyerahkan Benga kepada panti asuhan sebelum kemudian tinggal bersama komunitas kulit hitam di Virginia.

Benga sempat berusaha membangun kehidupan baru di AS. Dia belajar bahasa Inggris dan bekerja di sejumlah tempat sambil menabung agar suatu hari bisa kembali ke tanah kelahirannya di Kongo.

Sayangnya, harapan tersebut tidak pernah terwujud. Pada 20 Maret 1916, setelah lebih dari satu dekade hidup jauh dari tanah kelahirannya, Ota Benga mengakhiri hidupnya dengan menembakkan pistol ke dadanya sendiri. Dia meninggal dunia pada usia sekitar 32 tahun.

Pada 2020, 114 tahun kemudian, Kebun Binatang Broox akhirnya menyampaikan permintaan maaf tindakan menjadikan Benga sebagai kebun binatang manusia. 

(mfa/mfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |