Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
04 July 2026 19:45
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) memasuki usia 250 tahun kemerdekaannya hari ini, Sabtu (4/7/2026). Momentum ini dirayakan sebagai peringatan 250 tahun penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan AS, sebuah tonggak besar dalam sejarah AS.
Di balik usia panjang Amerika sebagai negara merdeka, ada sejarah penduduk asli yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan negara itu.
Orang asli tanah Amerika sering disebut sebagai suku Indian. Namun sebetulnya, penduduk asli Amerika bukan hanya satu suku, melainkan terdiri dari banyak jenis yang berbeda, seperti Cherokee, Navajo, Choctaw, Sioux/Lakota, Apache, Creek, Seminole, Pueblo, Hopi, hingga Haudenosaunee atau Iroquois.
Hingga 30 Januari 2026, Bureau of Indian Affairs mencatat ada 575 suku yang diakui secara resmi oleh pemerintah AS.
Suku Indian Sudah Ada Jauh Sebelum Amerika Lahir
Sejarah penduduk asli Amerika jauh lebih tua dibandingkan usia Amerika Serikat itu sendiri.
National Museum of the American Indian menjelaskan bahwa American Indians telah hidup di Belahan Bumi Barat setidaknya selama 15.000 hingga 20.000 tahun. Mereka memiliki masyarakat yang beragam, maju, dan kompleks jauh sebelum bangsa Eropa datang kesana.
Namun kedatangan bangsa Eropa mengubah semuanya.
Perebutan tanah, penyebaran wabah penyakit, perjanjian yang tidak adil, hingga perang membuat posisi penduduk asli makin terdesak.
Bagi bangsa Eropa dan kemudian Amerika Serikat, tanah tersebut dianggap sebagai ekspansi. Bagi penduduk asli, tanah itu adalah rumah, warisan leluhur, dan bagian dari identitas mereka.
AS Merdeka, Tapi Tidak untuk Semua
Pada 1776, AS memproklamasikan kemerdekaannya dari Inggris. Namun kemerdekaan itu tidak otomatis berarti kebebasan bagi semua orang yang tinggal di wilayah tersebut.
Library of Congress mencatat, setelah Inggris menyerahkan wilayah barat kepada AS, tidak ada konsultasi dengan penduduk asli yang sudah tinggal di tanah tersebut. Pemerintah AS kemudian menghadapi tekanan dari para pemukim yang ingin membuka lahan baru. Kongres pun mencari cara untuk membuat perjanjian dengan Native Americans demi menjamin keamanan pemukim dan memperoleh klaim resmi atas tanah.
Di sinilah masalah besar dimulai.
Pemerintah AS pada awalnya membuat banyak perjanjian dengan suku-suku asli. Namun dalam praktiknya, perjanjian itu sering berjalan tidak adil. Ketika kebutuhan tanah untuk pemukiman, pertanian, tambang, dan pembangunan semakin besar, posisi penduduk asli semakin ditekan.
Jejak Air Mata, Tragedi Kelam Suku Indian
Salah satu masa paling kelam dalam sejarah penduduk asli Amerika adalah Indian Removal Act.
Undang-undang ini diteken Presiden Andrew Jackson pada 1830 dan menjadi dasar hukum untuk memindahkan suku-suku asli dari wilayah timur Sungai Mississippi ke wilayah barat, terutama ke Indian Territory yang kini menjadi bagian dari negara bagian Oklahoma.
Kebijakan ini membuat banyak penduduk asli dipaksa meninggalkan tanah leluhur mereka. Salah satu tragedi paling terkenal adalah Trail of Tears atau Jejak Air Mata.
Pada 1838-1839, ribuan orang Cherokee dipaksa berjalan menuju Indian Territory. National Archives mencatat, sekitar 16.000 orang Cherokee dipindahkan secara paksa, dan sekitar 4.000 orang meninggal di perjalanan akibat kelaparan, penyakit, dan kondisi buruk.
Trail of Tears menjadi simbol dari bagaimana kemerdekaan dan perluasan wilayah AS membawa penderitaan besar bagi penduduk asli.
Saat Anak-Anak Dipaksa Melupakan Budayanya
Pengusiran dari tanah leluhur bukan satu-satunya luka besar bagi penduduk asli Amerika. Setelah tanah mereka direbut dan keberadaan suku mereka dipindah, pemerintah AS juga menjalankan kebijakan asimilasi paksa.
Selama lebih dari satu abad, banyak anak suku asli dipisahkan dari keluarga mereka dan dikirim ke Indian boarding schools atau sekolah asrama bagi anak-anak Indian. Tujuannya bukan sekadar untuk pendidikan, tetapi mengubah identitas mereka agar mengikuti budaya kulit putih Amerika.
Laporan Departemen Dalam Negeri AS pada 2024 mencatat setidaknya 973 anak American Indian, Alaska Native, dan Native Hawaiian meninggal saat mengikuti sekolah asrama federal. Laporan itu juga mengidentifikasi sedikitnya 74 lokasi pemakaman di 65 lokasi sekolah.
Di sekolah-sekolah tersebut, anak-anak suku asli kerap dilarang menggunakan bahasa asli, mempraktikkan budaya leluhur, dan menjalankan tradisi spiritual mereka.
Suku Indian Baru Dapat Kewarganegaraan AS pada 1924
Ironisnya, penduduk asli Amerika juga tidak langsung menjadi warga negara resmi di negara yang berdiri di atas tanah leluhur mereka.
Indian Citizenship Act baru disahkan pada 2 Juni 1924. Undang-undang ini memberi kewarganegaraan AS kepada semua Native Americans yang lahir di Amerika Serikat. Namun, hak pilih tetap diatur oleh negara bagian. Library of Congress mencatat, hingga 1957 masih ada negara bagian yang melarang Native Americans untuk memilih.
Artinya, hampir 150 tahun setelah AS merdeka, penduduk asli baru mendapatkan pengakuan kewarganegaraan secara penuh. Bahkan setelah itu pun, akses politik mereka masih dibatasi di sejumlah wilayah.
Sampai hari ini, hak pilih penduduk asli juga masih menjadi isu. Native American Rights Fund menyebut masih ada hambatan dan diskriminasi yang dihadapi pemilih Native American, terutama di wilayah rural dan reservasi.
Suku Indian Hari Ini: Masih Ada, Masih Berjuang
Hari ini, penduduk asli Amerika memang tidak hilang. Mereka masih ada, masih bertahan, dan terus memperjuangkan haknya.
Berdasarkan data sensus AS, populasi American Indian dan Alaska Native, baik sendiri maupun dalam kombinasi dengan ras lain, mencapai sekitar 9,7 juta orang atau 2,9% dari total populasi AS pada 2020.
Namun kondisi sosial-ekonomi mereka masih tertinggal dibandingkan rata-rata nasional.
Office of Minority Health mencatat, pada 2024 median pendapatan rumah tangga American Indian dan Alaska Native sebesar US$62.420, lebih rendah dibandingkan median seluruh rumah tangga AS sebesar US$80.734.
Sekitar 21% keluarga AI/AN hidup dalam kemiskinan, dibandingkan sekitar 13% keluarga AS secara umum. Tingkat pengangguran mereka juga hampir 8%, lebih tinggi dibandingkan sekitar 5% untuk total populasi AS.
Kesenjangan ini menunjukkan bahwa luka sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Dampaknya masih terasa dalam akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perumahan, dan kekuatan politik.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google


















































