Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) resmi menetapkan 15 Juli sebagai "Hari Tim Nasional Sepak Bola" untuk memperingati kemenangan dramatis timnas Argentina atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026.
Keputusan tersebut disetujui secara bulat dalam rapat dewan eksekutif AFA. Tanggal 15 Juli dipilih untuk mengenang keberhasilan Albiceleste menyingkirkan Inggris dengan skor 2-1 sekaligus melaju ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya secara beruntun.
Dalam laga tersebut, Argentina sempat tertinggal 0-1 hingga memasuki menit ke-85. Namun, skuat asuhan Lionel Scaloni mampu membalikkan keadaan lewat gol Enzo Fernández dan Lautaro Martínez.
"Tanggal tersebut dipilih untuk memperingati kemenangan besar dan bersejarah Albiceleste atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026," demikian pernyataan AFA, dikutip dari ESPN, Jumat (7/8/2026).
"Tim yang dipimpin Lionel Scaloni tertinggal satu gol dari Inggris. Namun, berkat gol Enzo Fernández dan Lautaro Martínez, mereka mampu membalikkan keadaan dan membuat seluruh negeri bergemuruh, dengan masyarakat turun ke jalan untuk merayakannya."
Kemenangan yang Berujung Kontroversi
Kemenangan Argentina atas Inggris tak hanya menjadi sorotan karena aksi di lapangan. Selebrasi para pemain setelah pertandingan turut memanaskan kembali sengketa lama antara Argentina dan Inggris mengenai Kepulauan Falkland atau yang disebut Argentina sebagai Islas Malvinas.
Setelah memastikan kemenangan, sejumlah pemain Argentina membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" atau "Malvinas adalah milik Argentina" di lapangan. Aksi tersebut memicu kecaman di Inggris. Pemerintah Inggris bahkan meminta FIFA menyelidiki tindakan para pemain Argentina tersebut.
Presiden Argentina Javier Milei kemudian membela selebrasi itu. Menurutnya, pesan dalam spanduk tersebut merupakan sesuatu yang "sepenuhnya sah" dan mencerminkan sentimen yang dimiliki masyarakat Argentina.
Meski demikian, Milei memperkirakan FIFA tetap akan menjatuhkan sanksi berupa denda kepada timnas Argentina. Kontroversi Malvinas juga merembet ke kompetisi domestik. Klub divisi dua Argentina, Almirante Brown, pada akhir pekan lalu memperkenalkan jersey baru yang memuat slogan serupa mengenai klaim kedaulatan Argentina atas kepulauan tersebut.
Argentina sendiri akhirnya gagal mempertahankan gelar juara dunia setelah dikalahkan Spanyol pada partai final Piala Dunia 2026. Kericuhan juga terjadi setelah pertandingan final dengan bentrokan yang melibatkan pemain kedua tim.
FIFA kemudian membuka proses disipliner terhadap Leandro Paredes dan Nahuel Molina serta asisten pelatih Argentina Roberto Ayala atas dugaan penyerangan. AFA juga menghadapi penyelidikan terkait penggunaan pesan politik mengenai Kepulauan Falkland setelah semifinal, serta dugaan pelecehan rasial dan nyanyian yang tidak pantas.
Presiden AFA Claudio Tapia mengatakan kemenangan atas Inggris memiliki arti yang sangat besar bagi masyarakat Argentina.
"Saya tahu bahwa bagi orang Argentina, kami sudah memenangkan Piala Dunia ketika mengalahkan Inggris, karena itulah yang benar-benar diinginkan semua orang," kata Tapia dalam acara AFA Sponsor Day.
Tapia mengatakan pihaknya bangga dengan penampilan tim nasional sepanjang turnamen, meski pada akhirnya gagal membawa pulang trofi.
"Kami bangga dengan performa tim nasional kami dan fakta bahwa mereka menciptakan rasa tak terkalahkan yang epik, seolah tidak ada yang bisa mengalahkan kami," ujarnya.
(miq/miq)
[Gambas:Video CNBC]
















































