Ini Kekuatan Uang Embraer Kuasai Langit Dunia, Pembunuh Boeing-Airbus?

5 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

07 August 2026 10:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Embraer sedang menikmati salah satu masa-masa terbaik dalam sejarahnya. Permintaan pesawat komersil, jet pribadi, hingga pesawat militernya meningkat pesat, hingga membuat performa harga sahamnya melesat jauh melampaui Airbus dan Boeing dalam lima tahun terakhir.

Pertumbuhan tersebut terlihat dari jumlah pengiriman pesawat Embraer sepanjang 2025 yang mencapai 244 unit, naik 18% dibandingkan 206 unit pada 2024.

Jumlah tersebut terdiri atas 78 pesawat komersial, yakni 44 unit E2 dan 34 unit E1, serta 155 jet pribadi yang mencakup 86 pesawat ringan dan 69 pesawat berukuran menengah. Embraer juga mengirimkan tiga pesawat angkut militer KC-390 Millennium dan delapan pesawat serang ringan A-29 Super Tucano.

Momentum tersebut memunculkan ambisi yang lebih besar bagi Emraer untuk ekspansi.

Sebelum berbicara mengenai kemampuan membuat pesawat yang lebih besar, ada pertanyaan yang cukup penting, seberapa kuat kondisi keuangan Embraer jika dibandingkan dengan Airbus dan Boeing?

Hasilnya cukup menarik. Embraer memang masih jauh lebih kecil dari sisi pendapatan dan aset. Namun, perusahaan asal Brasil tersebut memiliki struktur neraca yang relatif sehat dan mampu menjaga arus kas tetap positif. Kondisinya bahkan lebih stabil dibandingkan Boeing dalam beberapa indikator.

Adapun, perbandingan ini menggunakan data laporan keuangan 2019-2025 yang dilansir melalui TradingView. Seluruh angka disajikan dalam dolar Amerika Serikat (AS), termasuk data Airbus yang dikonversi dari euro dengan kurs rata-rata tahunan bank sentral Eropa (ECB).

Pendapatan Boeing Jadi yang Terbesar

Diantara ketiga perusahaan manufaktur pesawat ini, Boeing mencatat pendapatan terbesar yakni US$89,46 miliar pada 2025. Airbus menyusul dengan US$82,96 miliar, sedangkan pendapatan Embraer terpaut cukup jauh dengan capaian sebesar US$7,50 miliar.

Meski paling kecil, pendapatan Embraer menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan dibandingkan kedua kompetitornya.

Pendapatannya meningkat 96,9% dari US$3,81 miliar pada 2020 menjadi US$7,50 miliar pada 2025, atau nyaris dua kali lipat dalam lima tahun.

Namun, jika ditelisik dari kemampuannya menghasilkan laba bersih, Airbus menjadi yang paling efektif dibandingkan dua pesaingnya. Perusahaan asal Eropa tersebut membukukan laba bersih US$5,90 miliar pada 2025, sehingga menghasilkan margin laba bersih sekitar 7,1%.

Sebagai perbandingan, Embraer mencatat margin laba bersih 4,7% dengan laba US$0,35 miliar, sedangkan margin Boeing hanya sekitar 2,5% meski membukukan laba US$2,23 miliar.

Airbus juga konsisten mencetak laba bersih positif di setiap tahunnya sejak 2021. Sementara itu, Embraer baru keluar dari kerugian pada 2023. Laba bersihnya mencapai US$0,16 miliar pada 2023, kemudian meningkat menjadi US$0,36 miliar pada 2024 dan sedikit turun pada 2025.

Kondisi Boeing bahkan jauh lebih dinamis. Perusahaan tersebut terus mencatat kerugian sejak 2019 hingga 2024, termasuk rugi bersih US$11,82 miliar pada 2024. Boeing baru kembali mencetak laba pada 2025.

Namun, laba tersebut juga tidak seluruhnya berasal dari pemulihan bisnis. Laporan tahunan Boeing menunjukkan perusahaan membukukan keuntungan bersih melalui hasil divestasinya pada 2025 yang sebesar US$9,67 miliar, terutama dari penjualan bisnis Digital Aviation Solutions.

Neraca Airbus Paling Kokoh, Boeing Baru Keluar dari Ekuitas Negatif

Bila dilihat dari sisi ukuran neraca keuangan, Boeing masih menjadi yang terbesar. Total asetnya mencapai US$168,24 miliar pada akhir 2025, disusul Airbus US$158,55 miliar dan Embraer US$12,97 miliar.

Namun, besaran aset yang dimiliki Boeing juga datang bersamaan dengan kewajiban yang tak kalah besar. Boeing tercatat menanggung liabilitas paling besar diantara kedua perusahaan lain yakni sebesar US$162,78 miliar. Jumlah tersebut setara dengan hampir 97% dari total asetnya. Ekuitas Boeing pun hanya menyisakan sekitar US$5,46 miliar.

Meski demikian, posisi tersebut sudah jauh lebih baik karena Boeing akhirnya keluar dari ekuitas negatif.

Ekuitas perusahaan sempat tercatat minus US$8,30 miliar pada 2019 dan memburuk menjadi minus US$18,07 miliar pada 2020. Posisi ekuitasnya masih minus US$3,91 miliar pada akhir 2024.

Tekanan yang dihadapi Boeing memang cukup pelik. Masalah besar mulai menghantam perusahaan asal Negeri Paman Sam tersebut setelah dua kecelakaan Boeing 737 MAX, pesawat yang sebelumnya digadang-gadang akan menjadi salah satu mesin pertumbuhan penjualan Boeing.

Kecelakaan pertama menimpa Lion Air dalam penerbangan JT 610 pada Oktober 2018, disusul Ethiopian Airlines penerbangan 302 pada Maret 2019. Kedua kecelakaan tersebut menewaskan total 346 orang dan membuat armada 737 MAX dilarang terbang secara global selama hampir dua tahun. 

Penghentian penerbangan tersebut membuat penurunan produksi dan pengiriman pesawat yang sekaligus memaksa Boeing mengeluarkan biaya kompensasi yang besar. 

Di sisi lain, Airbus memiliki struktur neraca yang jauh lebih kuat. Dengan aset US$158,55 miliar dan liabilitas US$123,54 miliar, perusahaan berhasil mencatatkan ekuitas sebesar US$30,76 miliar pada akhir 2025. Jumlah tersebut meningkat lebih dari empat kali lipat dibandingkan 2019 yang tercatat US$6,73 miliar.

Namun, bila melirik Embraer, perusahaan asal Brazil itu memiliki aset dan ekuitas yang lebih kecil secara nominal dibandingkan yang lainnya. Namun, rasio liabilitas terhadap asetnya menjadi yang terendah di antara ketiganya.

Liabilitas Embraer sebesar US$9,15 miliar setara dengan sekitar 71% dari asetnya yang mencapai US$12,97 miliar. Ekuitasnya tercatat US$3,81 miliar.

Free Cash Flow: Airbus Unggul, Embraer Tetap Positif

Perbedaan kekuatan ketiga perusahaan semakin terlihat dari free cash flow nya atau arus kas bebas. Indikator ini menunjukkan sisa kas setelah perusahaan membiayai operasional dan belanja modal.

Airbus menghasilkan arus kas bebas US$4,99 miliar pada 2025, naik dari US$4,25 miliar pada tahun sebelumnya. Setelah mencatat arus kas bebas negatif pada masa pandemi 2020, Airbus selalu menghasilkan arus kas bebas positif sejak 2021.

Embraer juga mampu menjaga arus kas bebas tetap positif. Nilainya mencapai US$0,62 miliar pada 2025, turun dari US$0,83 miliar pada 2024. Dibandingkan skala pendapatannya yang hanya US$7,50 miliar, kemampuan tersebut menunjukkan bisnis Embraer tetap menghasilkan kas yang cukup solid.

Sebaliknya, Boeing masih mencatat arus kas bebas negatif US$1,88 miliar pada 2025. Kondisi itu memang membaik dibandingkan negatif US$14,31 miliar pada 2024, tetapi menunjukkan pemulihan laba belum sepenuhnya diikuti oleh pemulihan kas.

Berdasarkan ketiga laporan tersebut, Airbus masih menjadi perusahaan dengan kekuatan keuangan terbaik. Perusahaan memiliki laba paling besar, ekuitas paling tebal, dan arus kas bebas paling konsisten. Sementara itu, Boeing masih menjalani proses pemulihan meski mencatat pendapatan terbesar.

Di tengah kedua raksasa tersebut, skala keuangan Embraer masih terlihat sangat kecil.

Meski demikian, ukuran kecil tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan yang sangat cepat.

Pendapatan Embraer hampir berlipat ganda dalam lima tahun, perusahaan kembali mencetak laba, neracanya relatif sehat, dan arus kas bebasnya tetap positif. Embraer memang belum menjadi raksasa ketiga dalam industri pesawat global, tetapi fondasi keuangannya mulai cukup kuat untuk membawa perusahaan naik ke kelas berikutnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |