Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
02 September 2026 09:52
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia mayoritas melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Penguatan dolar AS kembali menekan mata uang negara lain, seiring memanasnya lagi konflik di Timur Tengah dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.19 WIB, dari 10 mata uang Asia, terpantau delapan diantaranya melemah terhadap dolar AS. Sementara satu mata uang menguat dan satu lainnya stagnan.
Peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pagi ini dengan terkoreksi 0,35% ke posisi PHP 62,622/US$.
Rupiah menyusul sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam berikutnya. Mata uang Garuda mesti melemah 0,28% ke posisi Rp17.760/US$.
Baht Thailand juga terkoreksi 0,15% ke THB 33,33/US$, disusul ringgit Malaysia yang turun 0,14% ke MYR 4,042/US$.
Yen Jepang ikut melemah 0,09% ke JPY 160,32/US$. Dolar Singapura turun 0,05% ke SGD 1,273/US$, yuan China melemah 0,03% ke CNY 6,7227/US$, dan dolar Taiwan terkoreksi 0,02% ke TWD 31,699/US$.
Di sisi lain, won Korea Selatan menjadi satu-satunya mata uang Asia yang menguat pagi ini. Won naik 0,19% ke posisi KRW 1.370,4/US$.
Sementara rupee India bergerak stagnan di posisi INR 94,95/US$.
Pelemahan mayoritas mata uang Asia terjadi saat dolar AS kembali perkasa. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.20 WIB terpantau 0,11% ke posisi 99,788. Sekaligus melanjutkan kenaikan 0,25% di perdagangan sebelumnya.
Penguatan dolar AS terjadi setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat. AS melancarkan serangan udara ke Iran pada Selasa kemarin, yang kemudian dibalas oleh Iran. Eskalasi ini menjadi yang paling serius dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak dunia kembali naik dan memicu kekhawatiran inflasi. Harga minyak Brent menguat 0,92% ke US$95,52 per barel, sementara harga minyak acuan West Texas Intermediate (WTI) naik 0,89% ke US$91,02 per barel.
"Perlu tetap waspada terhadap situasi di Timur Tengah hari ini," ujar Kumiko Ishikawa, analis senior FX Sony Financial Group, dikutip dari Reuters.
Dolar AS mendapat dukungan dari permintaan terhadap aset aman atau safe haven. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga ikut memperkuat posisi greenback.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun bergerak naik ke 4,8%. Kenaikan yield membuat aset berbasis dolar AS lebih menarik, sekaligus menekan aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
Kondisi diperparah oleh kenaikan ekspektasi suku bunga The Fed juga kembali meningkat. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September mencapai 67%, naik dari sekitar 40% pada pekan sebelumnya, berdasarkan CME FedWatch.
Kenaikan ekspektasi tersebut masih dipengaruhi oleh pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada pekan lalu. Warsh memberi sinyal bahwa The Fed masih bisa menaikkan suku bunga apabila inflasi tidak turun lebih cepat menuju target 2%.
Data ekonomi AS yang dirilis semalam sebenarnya cenderung lebih lemah dari perkiraan. Jumlah lowongan kerja JOLTS Juli dan indeks manufaktur ISM Agustus sama-sama berada di bawah ekspektasi pasar.
Namun, dampak data ekonomi yang lemah tersebut tertahan oleh memanasnya kembali situasi Timur Tengah.
"Terkait data AS, perlu diingat bahwa jika angkanya lemah, dampaknya dapat diimbangi oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah," kata Ishikawa.
Pasar kini menunggu data tenaga kerja AS pada Jumat pekan ini. Laporan tersebut diperkirakan menunjukkan ekonomi AS menambah 56.000 pekerjaan pada Agustus, berdasarkan median estimasi ekonom yang dihimpun oleh Reuters.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)


















































