Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan imigrasi masih menjadi isu yang paling menguntungkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dibandingkan ekonomi maupun konflik Iran, meskipun tingkat persetujuan publik terhadap penanganan imigrasi oleh pemerintahannya mengalami penurunan. Hal itu terungkap dalam survei terbaru yang dirilis Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research pada Minggu (2/8/2026).
Survei tersebut menunjukkan hanya 39% warga dewasa AS yang menyetujui kinerja Trump dalam menangani isu imigrasi. Angka ini turun dari 49% pada awal masa jabatan keduanya.
Meski demikian, dukungan dari basis Partai Republik terhadap kebijakan imigrasi Trump masih sangat kuat. Sekitar delapan dari 10 anggota Partai Republik menyatakan setuju dengan cara Trump menangani isu tersebut.
Angka itu memang sedikit menurun dibanding awal masa jabatan kedua Trump ketika sekitar sembilan dari 10 pemilih Republik memberikan persetujuan. Namun secara umum, dukungan terhadap Trump di kalangan basis partainya dinilai relatif stabil.
Survei juga menunjukkan pemilih Partai Republik lebih banyak menyetujui cara Trump menangani imigrasi dibandingkan ekonomi maupun Iran.
Dalam satu bulan terakhir, tingkat persetujuan pemilih Republik terhadap penanganan perang antara AS dan Israel melawan Iran tercatat mengalami sedikit penurunan dalam jajak pendapat AP-NORC.
Secara keseluruhan, tingkat popularitas Trump telah melemah sejak kembali menjabat tahun lalu. Namun hasil survei terbaru menunjukkan kebijakan penegakan imigrasi yang agresif sepanjang tahun terakhir belum memberikan dampak besar terhadap posisinya di mata publik.
Situasi tersebut berbeda dengan isu Iran, di mana Trump mulai menghadapi tanda-tanda penurunan dukungan, termasuk dari sebagian pendukungnya sendiri.
Survei Politico yang dirilis sebelumnya menunjukkan hanya sepertiga pemilih yang mengidentifikasi diri sebagai pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) yang menganggap biaya ekonomi akibat perang dengan Iran sepadan dengan manfaatnya.
Publik Terbelah soal Imigrasi
Meski isu imigrasi masih menjadi kekuatan politik Trump, warga AS tetap terpecah mengenai sejauh mana kebijakan yang dijalankan pemerintah telah melampaui batas. Sekitar separuh warga dewasa AS mengatakan Trump telah "melangkah terlalu jauh" dalam membatasi imigrasi legal.
Sementara itu, sekitar 47% responden menilai Trump telah melampaui kewenangannya dalam mendeportasi imigran yang tinggal secara ilegal di AS.
Untuk kedua isu tersebut, sekitar tiga dari 10 responden menyatakan kebijakan Trump "sudah tepat", sementara sekitar dua dari 10 responden menilai Trump justru belum bertindak cukup jauh.
Di kalangan Partai Republik, hanya sekitar dua dari 10 responden atau bahkan lebih sedikit yang berpendapat Trump telah bertindak terlalu jauh dalam deportasi imigran ilegal maupun pembatasan imigrasi legal.
Namun mayoritas warga AS menilai Trump telah melampaui batas ketika menggunakan pemeriksaan lalu lintas sebagai cara untuk menemukan dan menangkap imigran yang tinggal secara ilegal.
Praktik tersebut menjadi sorotan setelah dua insiden penembakan yang melibatkan petugas US Immigration and Customs Enforcement (ICE) di negara bagian Maine.
Mayoritas warga juga menilai Trump terlalu jauh dalam mengirim agen imigrasi federal ke berbagai kota di AS. Meski demikian, pemilih Partai Republik cenderung lebih jarang menganggap langkah tersebut sebagai tindakan yang berlebihan.
Ekonomi Jadi Titik Lemah
Sementara itu, tingkat persetujuan publik terhadap penanganan ekonomi oleh Trump tetap rendah. Hanya sekitar 32% warga dewasa AS yang menyetujui cara Trump mengelola perekonomian. Angka ini turun dari 40% pada awal masa jabatan keduanya.
Penurunan tersebut menandai perubahan dibanding masa jabatan pertama Trump, ketika isu ekonomi menjadi salah satu kekuatan utama yang menopang popularitasnya.
Di kalangan Partai Republik, sekitar 69% menyatakan puas terhadap cara Trump menangani ekonomi. Angka tersebut relatif sejalan dengan tingkat persetujuan terhadap kepemimpinannya secara umum, tetapi masih lebih rendah dibandingkan 78% yang tercatat pada awal masa jabatan kedua.
Survei juga menemukan sekitar tujuh dari 10 warga AS menggambarkan kondisi ekonomi nasional sebagai "sangat buruk" atau "cukup buruk".
Pandangan tersebut berbeda dengan pemilih Republik yang cenderung lebih optimistis.
Sekitar enam dari 10 responden Partai Republik menilai ekonomi AS berada dalam kondisi baik. Sebaliknya, hanya sekitar dua dari 10 pemilih independen dan sekitar satu dari 10 pemilih Demokrat yang memiliki pandangan serupa.
Dukungan Republik Naik di Isu Kesehatan
Hasil survei juga menunjukkan peningkatan dukungan dari pemilih Republik terhadap cara Trump menangani sektor kesehatan.
Selama dua periode kepresidenannya, kesehatan bukanlah isu yang secara tradisional menjadi kekuatan politik Trump. Mayoritas warga AS secara konsisten tidak menyetujui kinerjanya dalam bidang tersebut.
Temuan terbaru tidak mengubah gambaran tersebut. Hanya sekitar tiga dari 10 warga AS yang menyatakan puas terhadap penanganan kesehatan oleh Trump.
Namun di kalangan Partai Republik, dukungan terhadap Trump dalam isu kesehatan mengalami peningkatan signifikan. Sekitar 71% pemilih Republik kini menyatakan setuju terhadap cara Trump menangani sektor kesehatan, naik dari 59% dalam survei tahun lalu.
Perubahan itu terjadi ketika Partai Demokrat mulai memasuki periode 100 hari menjelang pemilu paruh waktu atau midterm election.
Pekan lalu, para pemimpin Demokrat menyatakan akan memusatkan kampanye mereka pada isu pemangkasan layanan kesehatan, biaya hidup, serta perang dengan Iran.
Meski demikian, pemilih Demokrat dan independen tetap menunjukkan tingkat ketidaksetujuan yang sangat tinggi terhadap cara Trump menangani sektor kesehatan.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]


















































