Simpanan Tumbuh 12%, Purbaya Bantah Warga RI Ramai-Ramai 'Mantab'

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa masyarakat Indonesia sedang ramai-ramai menguras tabungan atau makan tabungan (mantab) untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi. Menurutnya, kondisi tersebut tidak tercermin dari data perbankan yang justru menunjukkan simpanan masyarakat masih tumbuh kuat.

Purbaya mengungkapkan, dana pihak ketiga (DPK) perbankan saat ini masih mencatat pertumbuhan dua digit, yakni sekitar 12% secara tahunan. Angka tersebut dinilai menjadi indikasi bahwa secara agregat tabungan masyarakat masih meningkat.

"Kalau kita lihat DPK tumbuhnya double digit ya Pak Herman ya? Double digit sekarang. 12% lagi DPK. Itu kan ngelihatnya juga secara agregat pertumbuhan tabungannya naik, jadi angka anda gak akurat, mungkin sebagian orang seperti itu," kata Purbaya saat menjawab pertanyaan mengenai fenomena masyarakat yang disebut-sebut mulai "makan tabungan", Selasa (8/9/2026).

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa masih ada sebagian masyarakat yang belum merasakan manfaat pemulihan ekonomi. Menurutnya, kondisi tersebut lazim terjadi meskipun pertumbuhan ekonomi bergerak lebih cepat.

"Walaupun ekonomi tumbuh cepat nanti pun, pasti ada masyarakat yang belum terkena dampaknya. Tapi saya harapkan dengan makin cepat pertumbuhannya, akan makin sedikit orang yang merasakan hal itu," ujarnya.

Purbaya menjelaskan, perekonomian sempat mengalami tekanan pada periode sebelumnya. Namun, pemerintah telah menambah likuiditas ke dalam sistem ekonomi pada Juli hingga awal Agustus untuk mendorong pergerakan ekonomi dan mempercepat transmisi manfaat pertumbuhan ke masyarakat.

"Itu yang kita cegah sebetulnya dengan menciptakan pertumbuhan yang lebih cepat, makanya uang saya tambah lagi di sistem di bulan Juli dan awal Agustus kita tambah lagi di sistem perekonomian supaya ekonominya bergerak, supaya tadi orang-orang semakin banyak menerima manfaat dari pertumbuhan ekonomi," kata dia.

Menurut Purbaya, kondisi kesulitan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat merupakan konsekuensi dari gejolak ekonomi yang sempat terjadi. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga momentum pertumbuhan agar dampaknya semakin merata.

Ia menegaskan bahwa dalam ilmu ekonomi selalu ada kondisi kelangkaan atau scarcity yang menjadi tantangan setiap individu maupun negara. Oleh karena itu, yang terpenting adalah memastikan masyarakat tidak berada dalam situasi yang sangat tertekan akibat keterbatasan ekonomi.

"Jadi sekarang kita menghadapi scarcity, satu kelangkaan, itu adalah nature dari orang hidup di dunia, nature dari ilmu ekonomi. Jadi itu akan dihadapi setiap orang, setiap saat dalam hidupnya," ujar Purbaya.

Ke depan, Purbaya optimistis percepatan pertumbuhan ekonomi akan membuat semakin banyak masyarakat merasakan manfaatnya, sehingga tekanan terhadap daya beli maupun kondisi keuangan rumah tangga dapat berangsur berkurang.

"Jadi pilihan itu pasti ada yang nggak bisa dihilangkan, tapi kita akan coba ciptakan pertumbuhan yang akan semakin cepat, sehingga milih yang lebih enak nanti ke depan. Karena uangnya cukup," pungkasnya.

(chd/haa) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |