Jakarta, CNBC Indonesia - Ekonom bank asing memperkirakan ruang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate masih terbuka lebar hingga akhir kuartal III-2026, karena potensi rupiah tertekan masih cukup besar.
Ekonom Senior DBS Bank, Radhika Rao memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga acuannya sebanyak dua kali dan membawa suku bunga acuan menjadi 6% pada akhir tahun.
"Kami memperkirakan kenaikan 50 basis poin (bp) lagi antara kuartal II-2026 dan kuartal III-2026, untuk membawa suku bunga acuan menjadi 6%," kata Radhika, dikutip Rabu (10/6/2026).
Hal ini diprediksi terjadi saat risiko konflik di Timur Tengah masih berlanjut hingga semester kedua 2026, yang berdampak pada inflasi dan pergerakan mata uang.
Radhika juga mengatakan tekanan rupiah masih cukup tinggi, selama tensi panas geopolitik di Timur Tengah masih terjadi.
"Rupiah memang pulih sebagian, setelah otoritas mengambil sikap guna menstabilkan rupiah, meskipun rupiah tetap rentan terhadap perkembangan geopolitik eksternal," lanjut Radhika.
Kenaikan suku bunga berturut-turut telah menandakan preferensi para pembuat kebijakan untuk bertindak proaktif guna menstabilkan pasar, memicu ekspektasi hawkish yang akan membantu memperlambat pergerakan satu sisi pada mata uang.
"preseden ini menunjukkan bahwa pengetatan kebijakan tambahan mungkin diperlukan guna menstabilkan rupiah," terangnya.
Sebelumnya, BI kembali menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bp pada Selasa kemarin, dari sebelumnya 5,25% menjadi 5,50%. BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebelumnya sebesar 25 bp. Dalam hal ini, selama sebulan terakhir, suku bunga acuan telah naik sebesar 50 bp.
Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah.
Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portfolio asing ke Indonesia.
Setelah suku bunga acuan dinaikkan, rupiah berhasil menguat. Pada penutupan perdagangan kemarin, rupiah ditutup menguat 0,66% di posisi Rp18.050/US$.
Pada hari ini, rupiah dibuka di posisi Rp17.875/US$ atau terapresiasi sebesar 0,97%. Posisi ini membuat rupiah kembali turun ke bawah level psikologis Rp18.000/US$, setelah dalam beberapa hari terakhir terus berada di area Rp18.000/US$.
(chd/haa)
Addsource on Google


















































