Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyampaikan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera memutuskan penyesuaian tarif transportasi umum Transjabodetabek. Kendati demikian, ia menegaskan Pemprov DKI tetap akan memberikan subsidi transportasi sehingga penyesuaian tarif tidak membebani masyarakat.
"Untuk Transjabodetabek terus terang segera kami putuskan. Tapi saya ingin meluruskan, karena sekarang ini bahkan kemarin Bapak Wali Kota Bekasi juga telepon ke saya secara pribadi jangan sampai kemudian tidak disubsidi. Enggak mungkin enggak disubsidi, pasti tetap akan disubsidi," jelas Pramono di RSIA Bunda Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/6/2026).
Pramono menyampaikan, besaran kenaikan tarif Transjabodetabek akan dipertimbangkan secara matang agar masyarakat tidak kembali beralih menggunakan kendaraan pribadi.
"Prinsipnya pasti saya mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh tidak membuat orang kemudian beralih kepada kendaraan pribadi kembali," kata dia.
Penyesuaian tarif Transjabodetabek salah satunya akan dilakukan untuk rute Blok M-Bandara Soekarno Hatta. Saat ini tarif Transjabodetabek untuk rute tersebut masih sebesar Rp3.500. Pramono menilai, besaran tarif tersebut masih sangat terjangkau jika dibandingkan dengan transportasi lainnya seperti Bus Damri ataupun taksi.
"Kalau kemudian Rp3.500 untuk parkir di Soekarno-Hatta saja tidak cukup, maka yang begitulah akan ada penyesuaian," jelasnya.
Penumpang antre untuk menaiki bus TransJakarta di Terminal Blok M, Jakarta, Rabu (26/11/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Penumpang antre untuk menaiki bus TransJakarta di Terminal Blok M, Jakarta, Rabu (26/11/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Rencana penyesuaian tarif Transjabodetabek ini dipertimbangkan karena Pemprov DKI menanggung beban subsidi yang sangat besar, termasuk untuk biaya perawatan halte di luar wilayah Jakarta.
Ditegaskan Pramono, Pemprov DKI akan meningkatkan kualitas layanan operasional Transjabodetabek dan menambah jumlah armadanya. Diharapkan melalui upaya ini, perilaku dan gaya hidup masyarakat dalam menggunakan transportasi umum terus meningkat.
Apalagi, konektivitas transportasi di Jakarta sudah sangat tinggi, yang mencapai 93%. Sayangnya, tak lebih dari 30% masyarakat yang baru memanfaatkan fasilitas transportasi umum yang telah disediakan ini.
"Ini akan menjadi sangat baik kalau kemudian orang terus-menerus menggunakan transportasi umum sudah di atas angka 30%. Apakah bisa? Saya yakin bisa," kata dia.
Ia meyakini, minat masyarakat untuk memanfaatkan transportasi umum masih tinggi, mengingat adanya kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) baru-baru ini. Selain itu, Pemprov DKI juga telah menggratiskan transportasi umum bagi 15 golongan masyarakat yang memenuhi syarat.
(wur/wur)
Addsource on Google


















































