Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) berhasil mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp883 triliun pada 2025. Jumlah tersebut tumbuh 15,9% jika dibandingkan perolehan di 2024 yang tercatat sebesar Rp761,6 triliun. Hasil ini mempertegas upaya BNI dalam menjaga kinerja perusahaan di tengah ketidakpastian global.
"Strategi pertumbuhan kredit yang terdiversifikasi menjadi kunci dalam menjaga kualitas portofolio di tengah perlambatan ekonomi global," ujar Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena dikutip Senin (23/2/2026).
Yang menarik, kontribusi pertumbuhan penyaluran kredit BNI untuk segmen korporasi paling banyak tercatat pada sektor infrastruktur, hingga sebesar Rp 63,3 triliun atau tumbuh 149% secara tahunan.
Sementara untuk penyaluran kredit ke sektor kelistrikan, gas, dan air tercatat tumbuh 43% atau mencapai Rp 12,6 triliun, di susul sektor sumber daya alam Rp 7,6 triliun atau tumbuh 17%.
Hasil tersebut membuktikan bahwa BNI berkomitmen dalam mendorong pembangunan nasional.
Sedangkan dari sisi kualitas aset, BNI mencatatkan perbaikan berkelanjutan yang tercermin dari penurunan rasio non-performing loan (NPL) dan Loan at Risk (LaR). NPL bruto tercatat sebesar 1,9% atau membaik 10 bps yoy, sementara Loan at Risk (LaR) 8,5% atau membaik 1,8% yoy, mencerminkan penurunan eksposur risiko kredit secara menyeluruh dan sudah kembali ke kondisi sebelum pandemi. Di sisi lain, NPL coverage ratio mencapai 205,5% dan LaR coverage ratio mencapai 46,9%, menunjukkan tingkat pencadangan yang kuat dan prudent dalam mengantisipasi potensi tekanan risiko ke depan. "Kami terus memperkuat proses underwriting, pemantauan portofolio secara granular, serta penanganan kredit bermasalah secara dini. Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali," jelas Paolo. Dengan kombinasi pertumbuhan kredit yang sehat, struktur pendanaan yang solid, serta kualitas aset yang membaik, BNI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20,0 triliun sepanjang 2025.
(dpu/dpu)
Addsource on Google


















































