Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
07 February 2026 12:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar mata uang Asia bergerak beragam sepanjang pekan ini, dengan rupiah masuk dalam daftar mata uang yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan terakhirnya, Jumat (6/2/2026), rupiah kembali ditutup melemah. Mengutip data Refinitiv, rupiah berakhir di level Rp16.860/US$ atau terdepresiasi 0,21%. Posisi tersebut sekaligus menjadi level terlemah rupiah dalam dua pekan terakhir, atau sejak 22 Januari 2026.
Secara mingguan, rupiah terkoreksi 0,48% terhadap dolar AS. Koreksi ini mematahkan tren penguatan rupiah dalam dua pekan sebelumnya.
Rupiah bukan satu-satunya yang tertekan. Sejumlah mata uang Asia juga melemah dalam sepekan.
Pelemahan terdalam terjadi pada yen Jepang yang turun 1,58% dan ditutup di level JPY157,2/US$. Tepat di bawahnya, won Korea Selatan turut melemah 0,90% dengan penutupan di KRW1.463,35/US$.
Sementara itu, ringgit Malaysia dan dong Vietnam juga terkoreksi, masing-masing turun 0,15% ke MYR3,945/US$ dan melemah 0,08% ke VND25.900/US$.
Namun, sebaliknya beberapa mata uang Asia justru mampu tampil impresif dengan berhasil menguat dari greenback.
Rupee India memimpin penguatan dengan apresiasi 1,20% dan ditutup di INR90,575/US$. Peso Filipina menguat 0,49% ke PHP58,554/US$.
Yuan China juga naik 0,18% ke CNY6,9388/US$, disusul baht Thailand yang menguat 0,19% ke THB31,47/US$.
Dolar Taiwan naik 0,10% ke TWD31,575/US$, serta dolar Singapura menguat 0,11% ke SGD1,2707/US$.
Pergerakan mata uang Asia di sepanjang pekan ini tak lepas dari dinamika eksternal, khususnya dari pergerakan indeks dolar AS (DXY).
Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia ini mengakhiri perdagangan pekan ini dengan ditutup di level 97,633. Atau secara kumulatif sepekan menguat hingga 0,66% dan menjadi kenaikan mingguan terbesar sejak awal Januari.
Penguatan dolar pekan ini banyak dikaitkan dengan sentimen kebijakan suku bunga AS, terutama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya.
Warsh dinilai bukan sosok yang agresif mendorong pemangkasan suku bunga besar, sehingga pasar menilai ruang penurunan suku bunga bisa lebih terbatas. Ekspektasi suku bunga yang cenderung lebih tinggi biasanya membuat dolar lebih menarik, dan pada akhirnya memberi tekanan pada sebagian mata uang Asia.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc)


















































