Ramadan Datang di Tengah Pekan Membara, Pasar Menanti BI-Serbuan Data

3 hours ago 4
  • Pasar keuangan Indonesia menunjukkan pemulihan pekan lalu
  • Bursa Wall Street menguat tipis pada perdagangan Selasa 
  • Keputusan BI, data ekonomi AS, keputusan MSCI & FTSe serta awal puasa menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan RI sepanjang pekan lalu sudah mulai menunjukkan arah pemulihan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ke atas 8200, rupiah cenderung stabil, dan obligasi mulai diburu investor.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan bergerak positif pada hari ini dan sepanjang pekan ke depan. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini dan sepanjang pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG pada akhir pekan lalu, Jumat (13/2/2026) berakhir di posisi 8.212,27. Dalam sehari IHSG melemah 0,64% kendati demikian bursa saham masih menguat 3,49% sepakan.  

Pada Jumat lalu, ada sebanyak 267 saham turun, 408 naik, dan 148 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 24,41 triliun, melibatkan 49,40 miliar saham dalam 2,86 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali merosot jadi Rp 14.918 triliun.

Berdasarkan data pasar, Bank Central Asia (BBCA) dan Bumi Resources (BUMI) menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar di pasar reguler, lalu diikuti oleh saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Sepanjang akhir pekan lalu, nyaris seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor barang baku, infrastruktur dan teknologi.

Sejumlah saham yang menjadi pemberat utama kinerja IHSG Jumat adalah PT Bank Central Asia (BBCA), PT Telkom Indonesia (TLKM), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Astra International (ASII).

Beralih ke pergerakan rupiah dalam melawan dolar AS pada akhir pekan lalu terpantau kembali melemah.

Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di posisi Rp16.825/US$ atau terdepresiasi 0,09%. Pelemahan ini melanjutkan tekanan dari penutupan perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup melemah 0,21% di level Rp16.810/US$.

Sepanjang sesi, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.805-Rp16.850/US$. Sebenarnya, ini masih terbilang stabil, dibandingkan beberapa pekan lalu, di mana rupiah sempat mau ke Rp17.000/US$ yang merupakan level terparah dalam sejarah.

Pergerakan rupiah pekan lalu masih dipengaruhi penguatan dolar AS di pasar global. Menguatnya DXY mengindikasikan pelaku pasar kembali mengambil posisi pada aset berdenominasi dolar AS, yang pada gilirannya menekan mata uang negara lain, termasuk rupiah.

Meski demikian, secara mingguan dolar AS masih berada dalam tren pelemahan, dengan posisi melemah sekitar 0,5%. Dolar tertekan oleh kombinasi penguatan sejumlah mata uang lain serta munculnya keraguan pasar terhadap ketahanan ekonomi AS.

Dari data terbaru, klaim pengangguran AS menunjukkan penurunan, tetapi lebih kecil dari perkiraan. Data tersebut menyusul laporan yang memperlihatkan pertumbuhan pekerjaan AS pada Januari meningkat di atas ekspektasi, meski sebagian analis menilai penguatan pasar tenaga kerja masih belum merata.

Penciptaan lapangan kerja dinilai masih terkonsentrasi pada sektor tertentu seperti kesehatan, bantuan sosial, dan konstruksi, sementara revisi data juga menunjukkan payrolls sempat negatif dalam beberapa bulan sepanjang 2025.

Pelaku pasar masih memperkirakan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, dengan pemangkasan pertama diproyeksikan terjadi pada Juni. Selama tidak ada kejutan besar dari data inflasi, pasar menilai dolar berpotensi bergerak lebih konsolidatif dalam waktu dekat.

Beralih lagi ke pasar obligasi RI, tampaknya sudah mulai ada pembelian lagi dari investor terpantau dari yield sudah mulai turun untuk tenor acuan selama 10 tahun.

Merujuk data Refinitiv, yield obligasi 10 tahun (ID10Y) bertengger di 6,40% pada Jumat lalu. Selama sepekan turun 4 basis poin (bps) atau kisaran 0,54%.

Perlu dipahami, dalam obligasi itu pergerakan yield dan harga berlawanan arah, kalau yield turun, maka harga sedang naik, yang artinya investor mulai memburu obligasi lagi.

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |