Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
22 May 2026 16:11
Jakarta, CNBC Indonesia- Gelaran acara Jogja Financial Festival 2026 (JFF) 2026 tidak hanya menjadi ajang bagi generasi muda mencari pengetahuan di industri keuangan. Di ajang ini, generasi muda bahkan bisa mendengar langsung curhatan hingga latar belakang kebijakan besar Indonesia, terutama dari fiskal.
Penyelenggaraan resmi digelar hari ini di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, Jumat (22/5/2026). Festival keuangan yang berlangsung selama dua hari itu mempertemukan regulator, pelaku industri keuangan, akademisi, hingga masyarakat untuk membahas kondisi ekonomi nasional, literasi keuangan, serta arah kebijakan fiskal dan moneter Indonesia ke depan.
Hari pertama dibuka oleh Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, Rektor Universitas Gadjah Mada Ova Emilia, serta Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X. Namun perhatian utama tertuju pada sesi one on one antara Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa dan Founder sekaligus Chairman Chairul Tanjung (CT).
Percakapan dibuka dengan candaan soal masa lalu Purbaya ketika masih memimpin LPS dan menggagas festival serupa bernama LPS Financial Festival. CT mengatakan, "Pak Purbaya ini sebelum menjadi Menkeu beliau adalah Kepala LPS, yang tahun lalu menginisiasi Financial Festival, dulu namanya LPS Financial Festival."
Cerita Pemerintah Bongkar Praktik Under Invoicing Ekspor
Bagian serius dalam diskusi muncul saat CT menyinggung rencana pembentukan badan khusus ekspor komoditas bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). .
Menurut Purbaya, ide itu muncul setelah Presiden menerima laporan adanya praktik under invoicing dalam ekspor komoditas Indonesia. Modusnya dilakukan dengan menurunkan harga ekspor di dokumen resmi atau mengurangi volume barang.
"Langkah itu muncul ketika Bapak Presiden mendapat informasi ada banyak praktik under invoicing. Harga ekspor dimainkan lebih rendah dibanding harga sebenarnya, atau volumenya diturunkan. Sebagian juga bisa dibilang diselundupkan," kata Purbaya.
Ia mengaku sempat memeriksa secara acak 10 perusahaan CPO Indonesia. Dari situ ditemukan pola ekspor yang diputar melalui Singapura sebelum masuk ke Amerika Serikat.
"Biasanya ekspor dari Jakarta ke Amerika tidak langsung, tapi lewat perantara di Singapura. Setelah saya cek, ternyata perusahaan perantaranya masih grup mereka juga. Harga dari Singapura ke AS bisa dua kali lebih tinggi."
Kondisi itu membuat penerimaan pajak ekspor Indonesia menyusut. Devisa hasil ekspor juga lebih banyak tertahan di luar negeri.
"Maka Pak Presiden berpikir sekalian saja dibersihkan total dengan membuat satu lembaga, PT DSI, di mana semua eksportir hanya bisa lewat situ. Jadi yang menjual ke pasar dunia nantinya DSI."
Purbaya juga mengungkap pemerintah kini memakai sistem AI melalui LNSW untuk memantau harga komoditas dunia secara langsung.
"Saya panggil LNSW, mereka sekarang pakai AI dan bisa melihat data harga di luar. Jadi pengusaha tidak bisa bohong lagi."
Purbaya Yakin Rupiah Bisa Menguat ke Rp15.000
Isu devisa hasil ekspor (DHE) menjadi salah satu topik utama dalam diskusi tersebut. Purbaya menyebut kebijakan penempatan DHE di bank Himbara sempat menghadapi banyak tekanan.
"Saya menduga banyak pebisnis melobi sampai ke Istana."
Ia menilai skema lama gagal menjaga suplai dolar di dalam negeri karena dana cepat kembali keluar negeri setelah masuk ke sistem perbankan.
"Setelah dianalisis, banyak dana masuk lalu cepat disalurkan ke bank kecil dan akhirnya keluar lagi ke luar negeri. Jadi dolar kita habis, walaupun ekspor surplus."
Karena itu pemerintah memusatkan penempatan DHE di bank Himbara agar pengawasannya lebih mudah.
"Kalau bank Himbara main-main, bisa langsung kami pecat. Dampaknya akan jauh lebih signifikan dan memperkuat nilai tukar rupiah."
Dalam forum itu Purbaya juga terang-terangan meminta masyarakat yang menyimpan dolar untuk mulai menjualnya.
"Saya bilang, yang pegang dolar cepat jual saja. Kita akan dorong rupiah ke Rp15 ribu."
Global Bond RI Laris di Tengah Isu Krisis
Purbaya mengungkap pemerintah baru saja menerbitkan global bond sekitar US$3,4 miliar yang terdiri dari obligasi dolar AS dan euro bond.
"Saya minggu ini juga jual global bond sebagian dalam dolar AS dan euro. Minatnya sangat tinggi. Kita jual sekitar US$3,4 miliar, terdiri dari sekitar US$2 miliar bond dolar dan €1,25 miliar euro bond."
Menurut dia, tingginya minat investor asing menjadi sinyal bahwa pasar masih percaya terhadap fondasi ekonomi Indonesia.
"Ketika orang di Indonesia ribut seolah kita mau krisis, ternyata investor asing tetap percaya. Yield tidak naik berarti mereka menilai ekonomi Indonesia benar-benar kuat."
Ekonom TikTok
Saat Chairul Tanjung menyinggung keluhan masyarakat soal harga kebutuhan yang terasa mahal meski inflasi rendah, Purbaya justru menyoroti pengaruh media sosial terhadap persepsi publik.
"Terus terang saya juga bingung kenapa ada anggapan seperti itu. Ternyata kebanyakan karena analisis ekonomi di TikTok. Pak CT juga ternyata kena pengaruh ekonomi TikTok." ujarnya.
Menurut Purbaya, data konsumsi masyarakat sebenarnya masih cukup kuat. Ia memaparkan penjualan mobil April naik 55%, penjualan motor tumbuh 28%, konsumsi semen naik 36,6%, sementara konsumsi listrik dan BBM juga meningkat.
"Artinya konsumsi masyarakat masih kuat. Jadi daya beli masyarakat sebenarnya tidak sejelek yang dikatakan ekonom TikTok."
Purbaya juga menyebut dirinya sampai turun langsung ke pasar di Yogyakarta dan Tanah Abang untuk melihat kondisi di lapangan.
"Makanya saya sampai turun ke pasar di Jogja (Beringharjo), lihat sendiri seperti apa. Pasar Tanah Abang juga ramai."
Defisit APBN Disebut Mulai Membaik
Purbaya juga menjawab kekhawatiran pasar terkait potensi defisit APBN menembus 3% PDB.
Menurut dia, lonjakan defisit pada awal tahun terjadi karena pola belanja pemerintah yang ditarik lebih cepat ke depan.
"Maret kemarin defisit 0,93%, lalu banyak pengamat bilang bisa tembus 3,6%. Tapi di April, karena penerimaan pajak bagus dan reformasi perpajakan berjalan, defisit turun jadi sekitar 0,64%."
Ia mengaitkan perbaikan itu dengan implementasi sistem Coretax yang mulai membuat pengawasan perpajakan lebih rapat.
"Sekarang setiap orang bayar pajak, datanya otomatis masuk. Jadi yang bohong mulai kelihatan."
Purbaya menegaskan kenaikan penerimaan pajak bukan berasal dari kenaikan tarif.
"Perbaikan penerimaan pajak itu bukan karena saya 'nyolong uang', tapi karena sistemnya lebih baik. Saya juga tidak menaikkan tarif pajak."
Foto: Kementerian Keuangan
Target Ekonomi 8% Dinilai Bukan Mimpi
Di sektor pertumbuhan ekonomi, Purbaya menjelaskan pemerintah sedang menggabungkan dorongan belanja negara dengan penguatan sektor swasta.
Ia mengaku sempat memindahkan Rp200 triliun dana pemerintah ke sistem perbankan agar likuiditas longgar dan kredit bisa mengalir lebih deras ke ekonomi riil.
"Saya minta izin memindahkan Rp200 triliun ke bank-bank supaya mereka punya uang."
Pemerintah juga membentuk Satgas Debottlenecking lintas kementerian untuk mempercepat izin investasi.
"Contohnya di migas Indonesia Timur. Ada investasi yang izinnya bertahun-tahun tidak keluar. Setelah masuk ke satgas, selesai dalam satu kali sidang. Nilainya US$22 miliar."
Purbaya optimistis target pertumbuhan ekonomi 8% tetap realistis.
"Target 8% memang tinggi, tapi bukan mustahil."
IHSG Disebut Punya Peluang Naik Besar
Menutup sesi diskusi, CT menanyakan prospek IHSG setelah pasar saham Indonesia sempat tertekan.
Purbaya mengaku masih sangat optimistis terhadap arah pasar modal domestik.
"IHSG bisa naik 4-5 kali lipat dalam jangka panjang. Kalau sekarang sekitar 7.000, maka 2028-2030 prospeknya sangat baik."
Menurut dia, kondisi saat ini justru menjadi fase awal sebelum ekspansi ekonomi yang lebih besar dalam beberapa tahun mendatang.
"Selama saya jadi Menkeu, fondasi ekonomi akan terus membaik dan IHSG akan naik bertahap. Jadi tidak usah takut."
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google


















































