Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengirim sinyal campur aduk terkait konflik dengan Iran. Dalam sepekan terakhir, Trump berganti-ganti nada, mulai dari membuka peluang gencatan senjata hingga mengancam akan melanjutkan serangan militer terhadap Teheran.
Pesan yang berubah-ubah itu muncul di tengah upaya diplomasi baru antara Washington dan Teheran. Pemerintah Iran pada Kamis mengonfirmasi telah menerima dan sedang mempelajari respons AS terhadap proposal terbaru gencatan senjata yang diajukan Teheran.
"Jika Anda berada di Teheran, Anda tidak yakin apakah presiden benar-benar serius ingin mencapai kesepakatan, karena setiap beberapa jam posisinya berubah," kata Sina Azodi, asisten profesor politik Timur Tengah di George Washington University, kepada Al Jazeera, Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, inkonsistensi Trump membuat Iran kesulitan membaca apakah Washington benar-benar ingin bernegosiasi atau justru sedang menyiapkan eskalasi perang baru.
Trump pada awal pekan bahkan sempat mengatakan dirinya hanya "satu jam lagi" dari keputusan untuk melanjutkan serangan terhadap Iran. Namun di saat bersamaan, ia juga berbicara soal peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen.
Pada Minggu, Trump kembali mengingatkan bahwa "waktu terus berjalan" bagi Iran. Namun sehari setelahnya, ia menyatakan serangan baru "ditangguhkan" sambil menunggu dorongan diplomatik dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA). Trump juga mengatakan "negosiasi serius" sedang berlangsung.
Sinyal tersebut muncul ketika kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan Teheran telah menyerahkan proposal damai baru berisi 14 poin untuk mengakhiri perang.
Pada Selasa, Trump kembali menaikkan tensi dengan mengatakan dirinya "hampir mengambil keputusan" untuk melanjutkan serangan, tetapi memilih memberi Iran waktu tambahan beberapa hari untuk kembali bernegosiasi.
"Mungkin Jumat, Sabtu, Minggu, atau awal minggu depan. Kita mungkin harus memberi mereka pukulan besar lagi. Saya belum yakin," kata Trump.
Sehari setelahnya, Trump kembali membuka dua kemungkinan sekaligus. "Kita berada di tahap akhir konflik Iran. Entah mencapai kesepakatan, atau kita akan melakukan beberapa hal yang agak kasar," ujarnya kepada wartawan.
Di tengah tarik-ulur itu, media AS melaporkan adanya perbedaan pandangan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Netanyahu disebut mendorong AS melanjutkan serangan ke Iran, sementara Trump lebih memilih membuka peluang kesepakatan baru.
Trump tidak membantah laporan tersebut. Ketika ditanya wartawan soal Netanyahu, ia menjawab, "Dia orang yang sangat baik, dia akan melakukan apapun yang saya inginkan."
Trump juga tampak membuka opsi mempertahankan tekanan jangka panjang terhadap Iran. Pada Kamis, ia membagikan ulang artikel opini di New York Post karya Richard Goldberg dari Foundation for Defense of Democracies yang menyerukan AS mempertahankan blokade ekonomi terhadap Iran dan memperkuat kontrol di Selat Hormuz.
Pengamat Middle East Council on Global Affairs, Omar Rahman, menilai Trump kini berada dalam dilema besar. Menurutnya, Washington ingin kesepakatan baru yang lebih kuat dibanding perjanjian nuklir era Presiden Barack Obama atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang ditinggalkan Trump pada 2018.
Namun di sisi lain, Iran kini memiliki daya tawar besar lewat pengaruhnya di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia. "Di tengah kebuntuan ini, jebakan eskalasi terus mengintai," tulis Rahman.
(luc/luc)
Addsource on Google


















































