Punya Potensi Harta Karun Langka, RI Pernah Dilirik Inggris-Kanada

7 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesian Mining Institute (IMI) mengungkapkan sejumlah perusahaan pertambangan global dari Inggris hingga Kanada sempat menunjukkan ketertarikan untuk menggarap potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) di Indonesia. Minat tersebut muncul seiring dengan besarnya cadangan mineral kritis yang tersimpan dalam mineral ikutan timah maupun primer di Tanah Air.

Chairman Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menjelaskan bahwa ketertarikan pihak asing tersebut sudah dirintis melalui sejumlah penjajakan kerja sama teknologi pengolahan dengan PT Timah Tbk (TINS) sejak beberapa tahun lalu. Namun, ia mencatat bahwa hingga saat ini berbagai komitmen tersebut belum memberikan hasil atau mencapai kesepakatan komersial.

"Saya ceritakan rintisan-rintisan kerja sama yang dilakukan oleh PT Timah itu dengan perusahaan-perusahaan yang ada di dunia untuk mengolah monasit di sana untuk mendapatkan logam tanah jarang, uranium, sama torium itu ada enam kalau enggak salah tetapi belum tercapai kesepakatan sampai sekarang," ungkapnya dalam Webinar Badan Industri Mineral (BIM): Prospek dan Masa Depan Mineral Logam Tanah Jarang Indonesia, dikutip Senin (18/5/2026).

Perusahaan asal Inggris, Less Common Metals (LCM), tercatat menjadi salah satu perusahaan yang pernah menjajaki potensi tersebut sejak tahun 2018. Irwandy mengatakan, rintisan tersebut awalnya direncanakan untuk memproduksi logam dan alloy berbasis tanah jarang dengan mengambil sampel dari wilayah operasional PT Timah, namun kelanjutan proyek itu masih belum menemui titik terang.

"Yang pertama itu dengan Less Common Metals dari Inggris, United Kingdom. Tapi ini juga kita belum tahu apakah berlanjut atau tidak, padahal periodenya itu sudah bicara sejak 2018," paparnya.

Selain Inggris, minat juga muncul dari Canada Rare Earth Corporation pada tahun 2021, serta beberapa perusahaan asal Malaysia. Menurutnya, Indonesia juga pernah memfasilitasi komunikasi dengan perusahaan asal Australia, Lynas Rare Earths (dulu bernama Lynas Corporation), yang telah memiliki pabrik pemurnian di Malaysia, namun pembicaraan tersebut belum membuahkan realisasi.

"Kemudian, ada Canada Rare Earth Corporation dari tahun 2021 juga belum ada realisasi apakah jadi. Ada Malaco Mining dari Malaysia ini juga masih penjajakan," imbuhnya.

Belum adanya perkembangan signifikan dalam kerja sama internasional tersebut dipicu oleh tantangan penguasaan teknologi pemrosesan yang belum mencapai skala ekonomi di dalam negeri. Saat ini, pemerintah melalui Badan Industri Mineral (BIM) sedang berupaya mencari mitra baru guna mengoptimalkan hilirisasi mineral strategis tersebut agar tidak hanya menjadi komoditas ekspor bahan mentah.

"Pak Profesor Brian (Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto) mengatakan kepada saya bahwa akan ada pembicaraan pada waktu itu dengan pihak Jepang. Saya enggak tahu pihak Jepangnya dari mana untuk masalah kerja sama dengan Timah ini," tutupnya.

Mengenal Logam Tanah Jarang

Irwandy Arif menjelaskan, LTJ merupakan kumpulan dari 17 unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki sifat magnetik dan kimia unik. Ia menyebutkan bahwa mineral tersebut diklasifikasikan ke dalam dua kelompok besar, yakni logam tanah jarang ringan dan logam tanah jarang berat.

Kelompok 17 unsur tersebut mencakup skandium (Sc), yttrium (Y), lantanum (La), serium (Ce), praseodimium (Pr), neodimium (Nd), prometium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), diprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), tulium (Tm), ytterbium (Yb), dan lutesium (Lu).

Adapun, pembagian kategori berat dan ringan didasarkan pada konfigurasi elektron orbital, di mana kelompok berat cenderung lebih langka dan memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.

"Di logam tanah jarang ini kemudian dikelompokkan pada dua bagian yaitu logam tanah jarang yang berat, heavy rare earth element dan yang ringan. Yang ringan itu elektron tak berpasangan lebih banyak sedangkan yang berat itu lebih langka dan bernilai tinggi serta kemudian berdasarkan sifat magnetik dan kimia yang berbeda," papar Irwandy.

Di Indonesia, keberadaan LTJ pada umumnya ditemukan sebagai mineral ikutan dari aktivitas penambangan komoditas lain seperti timah, nikel, dan bauksit. Beberapa jenis mineral yang mengandung LTJ di tanah air meliputi monasit, xenotim, dan zirkon yang banyak ditemukan pada endapan timah aluvial di Kepulauan Bangka Belitung.

Selain sebagai mineral ikutan, pemerintah baru-baru ini mengidentifikasi keberadaan cadangan logam tanah jarang tipe primer di wilayah Mamuju, Sulawesi Barat. Temuan tersebut menjadi fokus perhatian baru karena kadarnya yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan mineral ikutan, sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun industri pengolahan mineral strategis sendiri.

"Ada satu tempat di Indonesia yaitu di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat yang mengandung mineral logam tanah jarang primer. Jadi bukan mineral ikutan," jelas Irwandy.

Berdasarkan data penelitiannya, temuan di Mamuju menunjukkan kadar total LTJ yang sangat tinggi mencapai 4.500 hingga 6.000 ppm, jauh melampaui kadar di Bangka Belitung yang berkisar 1.000 hingga 2.391 ppm. Sementara itu, wilayah Sumatera Utara juga memiliki potensi dengan kadar 2 hingga 1.400 ppm yang berasal dari pelapukan batuan granit.

"Tingkat pasokan yang terbesar itu adalah katalis, kaca, dan pemolesan. Jadi yang terbesar 31% itu serium. Yang kedua itu lantanum untuk katalis dan baterai NiMH. Kemudian 25% baru namanya ND. ND itu untuk magnet permanen," tuturnya.

Pemanfaatan LTJ untuk magnet permanen menjadi sektor yang paling strategis karena menjadi komponen utama motor traksi kendaraan listrik, turbin angin, hingga cakram keras komputer. Volume penggunaan magnet berbasis LTJ diproyeksikan akan terus meningkat dari porsi 29% pada tahun 2023 menjadi 41% pada tahun 2034 mendatang.

(ven/wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |