PT Garam Gandeng RDMP Pertamina Balikpapan Garap Proyek Jumbo Rp7 T

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Garam, tengah menyiapkan proyek pengolahan limbah air garam menjadi garam industri bersama PT Pertamina. Proyek bernilai investasi jumbo ini ditargetkan mulai berjalan pada 2026 dengan kapasitas produksi mencapai 1 juta ton per tahun.

Sekretaris Perusahaan PT Garam, Indra Kurniawan mengatakan, fasilitas tersebut akan dibangun di Balikpapan dengan memanfaatkan air buangan dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina. Selama ini, air garam sisa proses RDMP hanya dinetralkan sebelum dilepas kembali ke laut.

"Next-nya yang sedang kita kolaborasi dengan Pertamina itu sekitar investasinya Rp7 triliun, yang di Balikpapan dengan kapasitas 1 juta ton. Paling besar memang yang di Balikpapan dengan Pertamina," kata Indra saat ditemui di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jakarta, Kamis (12/2/2026).

Ia menjelaskan, dalam operasional RDMP, Pertamina membutuhkan air bersih untuk kebutuhan boiler. Sementara itu, air garam hasil samping proses, selama ini tidak dimanfaatkan secara ekonomis.

"Kita tawarkan kepada Pertamina, air buangan mereka daripada mereka olah untuk dibuang, tidak menghasilkan apa-apa, itu kita ambil. Dan itu disambut baik sama Pertamina dari PT Kilang Pertamina Internasional, juga didukung dari Pertamina Holding," ujarnya.

Pabrik garam industri tersebut akan memanfaatkan brine dari fasilitas Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) Kilang Pertamina Balikpapan. Skema ini dinilai sejalan dengan upaya optimalisasi limbah industri sekaligus memperkuat pasokan garam industri dalam negeri.

Ke depan, PT Garam, Pertamina, dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan membentuk entitas baru untuk mengelola proyek tersebut.

"Dan kita sudah bersepakat, kita akan membentuk entitas baru untuk mengolah garam yang di Balikpapan itu. Bentuk PT baru nanti," ungkap Indra.

Dalam skema kerja sama ini, PT Garam akan mengambil air buangan dengan kadar minimal 4 derajat Baume untuk kemudian diolah menggunakan teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) agar dapat dikonversi kembali menjadi garam industri.

"Hal itu yang sudah kita MOU kan dengan Pertamina dan saat ini sedang penyusunan FS (feasibility study) untuk kita ambil. Kita ambil air buangan tersebut untuk nantinya kita proses menggunakan teknologi MVR untuk kita jadikan Garam Industri kembali," jelasnya.

Rencana Groundbreaking April 2026

Proyek tersebut, katanya, sudah dipresentasikan kepada Danantara dan membidik groundbreaking kerja sama PT Garam-Pertamina pada fase kedua, yakni April 2026.

"Kapasitas yang akan terpasang di situ adalah 1 juta ton, karena memang potensi airnya sangat besar sekali. Kurang lebih air awal yang bisa kita manfaatkan adalah air buangan dengan minimal 4 derajat Baume yang akan kita olah menjadi garam industri," terang dia.

Tak hanya menggandeng Pertamina, PT Garam juga menyiapkan enam proyek lain sebagai bagian dari strategi penguatan industri garam nasional pada 2026. Rencana tersebut mencakup pembangunan pabrik pengolahan garam di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), dengan kapasitas awal 200.000 ton per tahun, serta fasilitas pengolahan garam di Bipolo, NTT, berkapasitas 109.842 ton per tahun.

Selain itu, perseroan merancang dua proyek pabrik garam berbasis teknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) di Gresik, masing-masing melalui kerjasama dengan Citycon berkapasitas 100.000 ton per tahun dan dengan ACWA Power berkapasitas 400.000 ton per tahun.

PT Garam juga akan membangun pabrik Calcium-Magnesium (Ca-Mg) di Sampang, Madura, yang memanfaatkan bittern sebagai produk turunan garam. Sementara di Jawa Timur, perusahaan berencana mendirikan pabrik garam industri di Sumenep dengan kapasitas antara 80.000 hingga 160.000 ton per tahun.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |