- Pasar keuangan Indonesia kompak tertekan pada awal pekan, IHSG anjlok hampir 1%, rupiah kembali melemah, sementara yield SBN 10 tahun turun.
- Wall Street ditutup beragam
- Pasar keuangan hari ini akan mencermati rilis uang beredar BI, keputusan suku bunga China yang kembali ditahan, serta arah insentif pemerintah di semester II-2026.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak tertekan pada awal perdagangan pekan ini, Senin (22/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hampir 1%, sementara rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada hari ini, Selasa (23/6/2026). Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
IHSG mengawali perdagangan pekan ini di zona merah meski sejumlah sentimen pasar mulai membaik. Pada penutupan perdagangan sesi kedua Senin (22/6/2026), IHSG anjlok 0,98% atau turun 60,45 poin ke level 6.116,69.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang perdagangan IHSG bergerak di rentang 6.052,94 hingga 6.226,72.
Aktivitas perdagangan terpantau cukup ramai. Nilai transaksi mencapai Rp13,48 triliun dengan volume perdagangan 22,47 miliar saham dalam 1,73 juta kali transaksi.
Dari sisi pergerakan saham, sebanyak 221 saham menguat, 445 saham melemah, dan 147 saham bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat berada di level Rp10.735 triliun.
Investor asing pun kembali mencatatkan net outflow sebesar Rp1,11 triliun.
Mayoritas sektor perdagangan melemah, dengan hanya sektor energi yang berhasil menguat. Sementara itu, sektor kesehatan, barang baku, dan finansial menjadi pemberat utama pasar.
Sejumlah saham berkapitalisasi besar ikut membebani laju IHSG. Tekanan terbesar datang dari saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA).
Pelemahan IHSG terjadi di tengah pasar yang masih mencermati perkembangan global, terutama ketidakpastian terkait negosiasi damai AS-Iran dan risiko penutupan Selat Hormuz. Di sisi lain, pasar domestik juga menanti sejumlah data penting, termasuk uang beredar BI yang akan dirilis hari ini.
Tekanan di pasar saham juga terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah. Nilai tukar rupiah kembali mengakhiri perdagangan di zona merah terhadap dolar AS pada Senin kemarin..
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup terdepresiasi 0,28% ke level Rp17.825/US$. Posisi ini sekaligus melanjutkan pelemahan rupiah pada perdagangan sebelumnya, Jumat (19/6/2026), ketika rupiah ditutup melemah 0,42% ke level Rp17.775/US$.
Sepanjang perdagangan Senin, rupiah sudah bergerak melemah sejak awal. Mata uang Garuda dibuka melemah tipis 0,03% ke level Rp17.780/US$, sebelum tekanannya semakin dalam hingga penutupan perdagangan.
Pergerakan rupiah pada awal pekan ini masih dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global. Dolar AS bergerak kuat seiring meningkatnya ketidakpastian terhadap kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran.
Ketidakpastian muncul setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan melanjutkan perang di Timur Tengah, sementara Teheran mengumumkan telah menutup Selat Hormuz.
Meski tensi kembali meningkat, pembicaraan damai antara AS dan Iran masih berlanjut memasuki hari kedua di Swiss. Perundingan tersebut dilakukan berdasarkan nota kesepahaman yang dicapai pekan lalu untuk memperpanjang gencatan senjata April setidaknya selama 60 hari lagi.
Ketidakpastian ini membuat minat pasar terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven masih tinggi. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melemah 0,83% ke level 7,129% pada perdagangan Senin kemarin. Sebagai catatan, penurunan imbal hasil menunjukkan harga SBN sedang naik. Kondisi ini biasanya terjadi ketika pelaku pasar mulai masuk atau membeli SBN di pasar sekunder.
Addsource on Google

















































