Eropa Darurat! Warga "Terpanggang", Korban Jiwa Berjatuhan

4 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah Eropa menelan korban jiwa dan memecahkan rekor suhu di sejumlah kota pada Senin (22/6/2026). Di Prancis, sedikitnya 18 orang meninggal dunia, termasuk dua balita yang ditemukan tak sadarkan diri di dalam mobil keluarga yang terparkir di luar rumah mereka.

Cuaca panas yang menyelimuti Eropa juga memaksa sejumlah sekolah di Prancis menutup kegiatan belajar atau mengubah jadwal operasional. Sementara itu, badan meteorologi Inggris memperingatkan suhu di negara tersebut berpotensi memecahkan rekor tertinggi untuk bulan Juni dalam beberapa hari ke depan.

Di Bordeaux, kawasan penghasil anggur terkenal di Prancis bagian barat, suhu mencapai 41,9 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Agustus tahun lalu. Sementara di Poitiers, Prancis tengah, suhu menyentuh 41,2 derajat Celsius dan memecahkan rekor yang telah bertahan sejak 1947.

Gelombang panas juga menerjang Spanyol. Di San Sebastian, kota yang biasanya dikenal beriklim sejuk di wilayah utara negara itu, suhu diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat rata-rata historis suhu pada 22 Juni berdasarkan data Reuters Climate Monitor.

Data tersebut menunjukkan bahwa Eropa pada Senin menjadi benua yang penyimpangan suhunya paling jauh dibandingkan rata-rata historis dibandingkan kawasan lain di dunia.

Temuan ini sejalan dengan laporan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang dirilis pada April lalu. Laporan tersebut menyebutkan bahwa laju pemanasan di Eropa berlangsung lebih dari dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Dua Balita Meninggal di Dalam Mobil

Salah satu tragedi paling memilukan terjadi di Carpentras, Prancis tenggara.

Jaksa setempat mengatakan petugas penyelamat tidak berhasil menyelamatkan dua anak berusia dua dan empat tahun yang ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri oleh ibu mereka di dalam mobil keluarga yang terparkir di luar rumah.

Korban jiwa akibat panas ekstrem juga tercatat di wilayah Bordeaux. Tiga lansia berusia antara 80 hingga 95 tahun meninggal dunia selama akhir pekan akibat gangguan kesehatan yang dipicu suhu tinggi.

Informasi tersebut disampaikan pejabat pemerintah daerah Bordeaux, Sophie Brocas, kepada televisi Prancis pada Minggu malam.

Selain korban akibat sengatan panas, otoritas juga mencatat lonjakan kematian karena tenggelam.

Juru bicara Layanan Keamanan Sipil Prancis, Jerome Boulanger, mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan mencari tempat untuk mendinginkan diri.

"Berenanglah hanya di tempat-tempat yang diawasi petugas," kata Boulanger.

Peringatan itu disampaikan setelah 13 orang dilaporkan tenggelam dalam rentang waktu Minggu hingga Senin.

Data menunjukkan kematian akibat tenggelam di Prancis melonjak 172% selama gelombang panas tahun lalu karena banyak warga berusaha mendinginkan tubuh dengan berenang di sungai, danau, maupun kawasan perairan lainnya.

Fenomena Omega Block

Para ilmuwan menjelaskan bahwa gelombang panas yang melanda sebagian besar Eropa dipicu oleh fenomena atmosfer yang dikenal sebagai Omega block.

Fenomena tersebut dinamakan demikian karena pola aliran udaranya menyerupai huruf Yunani Omega, dengan kubah udara panas yang terjebak di tengah dan udara yang lebih dingin berada di kedua sisinya.

Peneliti cuaca ekstrem dan iklim dari Imperial College London, Clair Barnes, menjelaskan bahwa sistem cuaca tersebut menarik udara panas dari Afrika Utara menuju Eropa.

"Fenomena ini menarik udara hangat dari Afrika Utara, dari Gurun Sahara, dan itulah sebabnya kita mengalami panas yang sangat ekstrem ini. Pergerakannya sangat lambat dan itu berarti hampir tidak ada angin atau hembusan udara yang bisa memberikan sedikit kelegaan," ujarnya.

Menurut Barnes, pergerakan sistem cuaca yang lambat membuat udara panas bertahan lebih lama dan menyulitkan wilayah terdampak untuk mendapatkan pendinginan alami.

Ia juga menegaskan bahwa perubahan iklim memperparah kejadian cuaca ekstrem.

"Gelombang panas dan badai semakin diperparah oleh perubahan iklim, yang mendorong suhu menjadi lebih tinggi dan menyebabkan curah hujan lebih banyak," katanya.

Inggris Terancam Pecahkan Rekor Suhu Juni

Inggris juga kini menghadapi ancaman panas yang tidak biasa. Met Office, badan meteorologi nasional Inggris, memperkirakan gelombang panas selama empat hari dapat mendorong suhu melebihi 39 derajat Celsius di sejumlah wilayah.

Jika perkiraan tersebut terwujud, Inggris akan memecahkan rekor suhu tertinggi bulan Juni yang saat ini berada di angka 35,6 derajat Celsius dan tercatat pada 1957 serta 1976.

Prediksi tersebut muncul hanya beberapa pekan setelah Inggris memecahkan rekor suhu tertinggi untuk bulan Mei. Warga mulai mengeluhkan kondisi cuaca yang makin menyengat.

"Suhu 36 derajat akan terasa sangat menyiksa," kata ilmuwan data Lewis Jennings saat berjalan di pusat Kota London.

Kondisi serupa terjadi di Spanyol. Juru bicara badan meteorologi AEMET, Rubén del Campo, mengatakan suhu di berbagai wilayah berada jauh di atas kondisi normal untuk periode ini.

"Kami melihat suhu berada antara 5 hingga 10 derajat di atas normal untuk periode tahun seperti sekarang, dan di beberapa wilayah utara bahkan lebih dari 10 derajat di atas rata-rata," ujarnya.

Italia Siaga Merah

Di Italia, pemerintah mengeluarkan peringatan gelombang panas tingkat merah untuk 12 kota pada Senin. Cuaca ekstrem mulai menimbulkan gangguan pada sistem kelistrikan.

Perusahaan utilitas Iren menyatakan telah menggandakan giliran kerja petugas dan menambah generator untuk mengatasi pemadaman listrik sporadis di Turin, ketika jaringan listrik mengalami tekanan akibat meningkatnya konsumsi energi.

Lonjakan penggunaan pendingin udara dan peralatan listrik lainnya selama cuaca panas menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya beban jaringan.

Satwa Liar Ikut Terdampak

Gelombang panas tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga satwa liar.

Burung-burung seperti walet, burung layang-layang, pipit, dan jalak yang biasanya bersarang di bawah atap rumah menjadi salah satu kelompok hewan yang paling terdampak.

Pendiri pusat rehabilitasi satwa liar Centre for the Rehabilitation of Animals Living in the Wild di Temploux, Belgia, Romaine de Jaegere, mengatakan suhu di bagian atap bangunan dapat mencapai tingkat yang mematikan.

"Suhu di atap-atap bangunan terkadang bisa mencapai 50 bahkan 60 derajat Celsius. Karena itu mereka lebih memilih melompat daripada membiarkan diri mereka mati dan benar-benar terpanggang di dalam sarangnya," kata De Jaegere.

Ia menambahkan bahwa tempat perlindungan satwa yang dikelolanya menerima sekitar 150 hewan dalam tiga hari terakhir akibat dampak suhu ekstrem tersebut.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |