Kompol Jarot Permudah Layanan Konseling di Polda Kalteng Lewat E-Kopi Papi

7 hours ago 5

Jakarta -

Kompol Jarot Budi Purnomo menggagas layanan E-Kopi Papi (Elektronik Konseling Psikologi dan Pinjam Pakai Senpi) di Polda Kalimantan Tengah. Aplikasi tersebut dibuat untuk mempermudah seluruh anggota Polda Kalteng dalam mengakses layanan konseling.

Atas inovasinya tersebut, Kompol Jarot diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Kompol Jarot saat ini menjabat sebagai Ps Kabag Psikologi Biro SDM Polda Kalteng.

Selain menggagas program inovatif untuk internal kepolisian, Kompol Jarot juga dikenal karena menghadirkan layanan psikologi bagi masyarakat. Salah satunya yaitu pelayanan psikologi mobile di Car Free Day (CFD) Kota Palangkaraya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu warga yang merasakan manfaat kegiatan itu adalah Suprapto. Dia bersama anak dan cucunya sering memanfaatkan layanan psikologi itu saat datang ke CFD.

"Jadi anu kalau di situ itu kan saya dengan cucu itu ada main-main tempatnya juga. Terus anak saya itu pernah juga yang masuk ke mobilnya itu lho. Di mobilnya itu ada konseling, konseling Psikologi rasanya. Konseling-konseling gitu lho pokoknya, tapi anak-anak saya yang pernah konseling-konseling gitu," kata Suprapto.

Suprapto mengatakan layanan psikologi yang dihadirkan Polda Kalteng itu menarik banyak peminat. Menurut dia, para petugas yang berjaga di sana juga ramah dalam melayani warga.

"Peminatnya banyak kalau di CFD itu banyak. Gitu kan orang-orang jalan-jalan di situ kesempatan kita bawa anak-anak cucu-cucu kita," kata dia.

Suprapto melihat Kompol Jarot ini sebagai sosok polisi yang murah senyum dan bersahaja. Dia menilai sosok Kompol Jarot ini bisa menjadi contoh bagi polisi lainnya.

"Kalau polisi itu seperti itu semua waduh saya kira-kira masyarakat itu juga anu juga, Pak. Nah itu saja. Ibaratnya beliau itu bisa jadi contoh itu ibaratnya polisi itu," ujar dia.

Dihubungi terpisah, Kompol Jarot menjelaskan aplikasi E-Kopi Papi dibuat pada 2022 lalu. Inovasi itu muncul setelah Kompol Jarot melihat adanya keterbatasan tenaga konselor dan kondisi wilayah Kalteng yang sangat luas.

"Saya membuat aplikasi itu sehingga memudahkan anggota untuk bisa konseling langsung manakala ada hal-hal yang perlu konseling," kata Kompol Jarot.

Dia mengatakan aplikasi tersebut dapat digunakan anggota Polda Jateng untuk konseling psikologi pranikah. Layanan itu memudahkan para anggota sehingga tidak perlu datang ke Polda Kalteng.

"Kalau datang membutuhkan waktu dan biaya, sehingga dengan e-Kopi Papi ini cukup dengan diisi, mereka video call dengan kami konselingnya melalui video call dengan aplikasi, sehingga memudahkan pihak yang bersangkutan, meringankan beban yang bersangkutan, dan efektif di mana pun bisa, gitu," imbuh Kompol Jarot.

Aplikasi E-Kopi Papi ini bisa diunduh di Android. Setelah itu, anggota melakukan pendaftaran dan menentukan psikolog yang akan mendampingi sesi konselingnya.

"Nah, nanti kalau sudah cocok, 'Oh, ini mungkin mohon maaf cewek, oh saya cocoknya dengan cewek'. Oh, ini.. nah, tinggal nanti klik WA nanti akan tersambung. Jadi akan dikonfirmasi oleh konselor yang ada di Polda," ujar Kompol Jarot.

Sejauh ini, rata-rata ada 20 sampai 30 anggota yang melakukan konseling via aplikasi E-Kopi Papi. Mayoritas dari mereka melakukan konseling pranikah.

"Kalau yang pribadi rata-rata mereka kadang datang langsung ke kami," kata Kompol Jarot.

Ide membuat aplikasi E-Kopi Papi ini sebenarnya bukanlah yang pertama bagi Kompol Jarot. Dia sudah melakukan hal tersebut saat bertugas di Sumatera Selatan.

"Di Sumsel waktu saya jadi Kasubbag di sana sudah saya buat," ujar dia.

Perbedaan hanya terletak pada nama yang digunakan. Begitu dia ditugaskan di Kalteng, dia mengusulkan ide tersebut kepada pimpinan dan akhirnya disetujui.

"Dengan aplikasi ini saya lapor ke pimpinan, pimpinan waktu itu mendukung, setuju, langsung di-launching kan," kata Kompol Jarot.

Selain layanan psikologi, E-Kopi Papi juga memperlihatkan pemberitahuan mengenai tes psikologi bagi anggota Polri yang meminjam senpi. Lewat aplikasi itu, anggota dapat mengetahui masa tes psikologi berakhir sehingga bisa mempersiapkan diri untuk tes ulang.

"Pinjam pakai senpi setelah ada aturan baru, aturan baru ini psikologi adalah salah satu syarat untuk seseorang diberikan pinjam pakai senpi. Ada syarat lain juga. Ada keterampilan menembak, ada tidak pernah terlibat pelanggaran, tidak ada tindakan hukuman disiplin dan sebagainya. Terus kemudian tidak ada dumas-an, kinerja baik, sehingga sekarang variabelnya banyak. Tes psikologi adalah salah satunya," imbuh dia.

Pelayanan Psikologi Mobile di CFD

Kompol Jarot juga menceritakan mengenai pelayanan psikologi mobile di area CFD. Menurut dia, program tersebut dilatarbelakangi oleh masih maraknya kasus perundungan dan persoalan sosial lainnya.

"Saya melihat peluang di CFD, karena saya ada mobil pelayanan sehingga saya waktu itu ya membuka stand aja di CFD gitu. Pertamanya mobil saja, pelayanan siapa yang mau konseling. Akhirnya berkembang kami membuat pojok baca, pojok bermain anak-anak, terus ruang untuk istilahnya aplikasi, ada tes psikologi untuk melihat tingkat stres masyarakat. Setelah itu mereka bisa konseling dalam mobil, sehingga berkembang sampai saat ini," ujar Kompol Jarot.

Dia bersyukur pelayanan psikologi di CFD itu diterima dengan baik oleh masyarakat. Selain datang untuk konseling, ada juga masyarakat yang membawa anaknya untuk datang ke pojok baca.

"Alhamdulillah banyak, terutama banyak apalagi kalau Minggu itu karena di situ ada pojok, khususnya orang tua ngajak anak-anaknya ya," kata Kompol Jarot.

Hal lain yang dilakukan Kompol Jarot adalah melaksanakan Psikologi Goes to School. Program ini digelar bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memberikan pemahaman tentang anti-bullying, kesehatan mental hingga bahaya kenakalan remaja.

"Alhamdulillah dapat respons positif juga," ujar dia.

Salah satu dampak yang dirasakan dari program tersebut adalah terungkapnya kasus perundungan yang sudah dialami siswa selama dua tahun. Kasus itu diketahui usai pelajar melakukan konseling dengan psikolog dari Polda Kalteng.

"Akhirnya Ibu Kepala Sekolah waktu itu tahu, 'Bu, ternyata anak ini pernah dapat bullying malah dari gurunya gitu', akhirnya ya ada komunikasi dengan guru itu yang dapat teguran dari kepala sekolah. Pokoknya gitu akhirnya ada komunikasi yang terbuka yang selama ini mungkin tertutup," tuturnya.

Simak juga Video: Kapolri Janji Respons Cepat Aduan Masyarakat Lewat Call Center 110

(knv/lir)

Loading...

Hoegeng Awards 2026

Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |