Keluarkan Taringnya, Ini Alasan Mengapa Dolar AS Kembali Mengamuk

3 hours ago 10

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

24 June 2026 12:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan taringnya di pasar global. Greenback kembali banyak diburu pelaku pasar, membuat sejumlah mata uang dunia berada di bawah tekanan, tak terkecuali rupiah. 

Penguatan dolar AS ini tercermin dari pergerakan indeks dolar AS (DXY), yakni indeks yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, seperti euro, yen Jepang, poundsterling, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss.

Melansir Refinitiv, pada penutupan perdagangan Selasa (23/6/2026), DXY menguat 0,38% atau terapresiasi ke level 101,408. Posisi tersebut sekaligus menjadi level terkuat indeks dolar AS dalam 13 bulan terakhir.

Penguatan ini menunjukkan bahwa aset-aset berbasis dolar AS kembali menjadi incaran investor global. Pertanyaannya, apa yang membuat dolar AS kembali begitu perkasa?

Pasar Mulai Takut The Fed Naikkan Suku Bunga Lagi

Faktor utama yang membuat dolar AS kembali menguat adalah meningkatnya ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve/The Fed.

Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan probabilitas sebesar 36,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,75%-4,00% pada pertemuan FOMC 29 Juli 2026 mendatang.

ProbabilitasProbabilitas Foto: CME FedWatch Tool

Angka ini naik tajam dari posisi sepekan sebelumnya yang hanya sekitar 8,5%. Artinya, dalam waktu singkat, pelaku pasar mulai lebih serius memperhitungkan skenario bahwa The Fed belum selesai menaikkan suku bunga.

Ekspektasi kenaikan suku bunga bahkan terlihat lebih besar untuk pertemuan September. Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada rapat FOMC 16 September 2026 mencapai sekitar 69,1%, naik dari 29,1% pada pekan sebelumnya.

Ekspektasi itu juga diperkuat oleh data ekonomi AS yang masih solid, terutama dari pasar tenaga kerja. Mengacu data Automatic Data Processing, Inc. (ADP), penyerapan tenaga kerja sektor swasta AS naik dengan rata-rata mingguan 30.750 pekerjaan dalam empat pekan terakhir hingga 6 Juni 2026.

Angka tersebut sejalan dengan kuatnya data ketenagakerjaan AS dalam dua bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup tangguh, sehingga tekanan inflasi berpotensi lebih sulit turun cepat.

Pasar tenaga kerja yang masih kuat dapat menjadi alasan untuk tetap berhati-hati. Selama ekonomi AS masih cukup kuat dan inflasi belum benar-benar jinak, ruang untuk mempertahankan kebijakan ketat, bahkan menaikkan suku bunga, tetap terbuka.

Pejabat The Fed Masih Waspadai Inflasi

Nada hati-hati dari pejabat The Fed juga ikut memperkuat ekspektasi pasar.

Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, mengatakan fokusnya saat ini adalah melihat apakah inflasi yang masih tinggi akan bertahan atau mulai mereda.

Goolsbee menyoroti beberapa faktor yang bisa memengaruhi inflasi, mulai dari dampak tarif tinggi hingga perkembangan konflik di Timur Tengah. Dengan pasar tenaga kerja AS yang masih relatif stabil, perhatian investor kini tertuju pada apakah tekanan harga di AS bisa benar-benar turun secara berkelanjutan.

Sebagai catatan, AS akan ada rilis personal consumption expenditure (PCE) periode Mei 2026 dari Amerika Serikat pada Kamis (25/6/2026) malam waktu Indonesia.

Data tersebut mencakup PCE utama dan core PCE, yakni indeks harga yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi. Core PCE menjadi perhatian utama karena merupakan indikator inflasi favorit The Fed dalam membaca tekanan harga di perekonomian AS.

Pada rilis sebelumnya, indeks harga PCE AS periode April 2026 naik 3,8% secara tahunan, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Mei 2023. Realisasi tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.

Sementara itu, core PCE AS naik 3,3% secara tahunan pada April 2026, lebih tinggi dibandingkan Maret yang sebesar 3,2%. Angka ini masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%.

Selama inflasi dinilai masih berisiko bertahan tinggi, ruang The Fed untuk bersikap hawkish tetap terbuka. Inilah yang membuat pasar mulai mengurangi ekspektasi pelonggaran dan justru kembali menghitung peluang kenaikan suku bunga.

Saham Teknologi Rontok, Dolar Jadi Buruan

Penyebab menguatnya dolar AS juga datang dari tekanan besar di pasar saham global, terutama saham-saham teknologi. Aksi jual di sektor teknologi membuat investor kembali mencari aset yang dianggap lebih aman, salah satunya dolar AS.

Pada perdagangan Selasa kemarin, tekanan di Wall Street terlihat cukup dalam. Indeks S&P 500 melemah 1,44% ke level 7.365,46, sementara indeks berbasis teknologi Nasdaq Composite anjlok lebih dalam, yakni 2,21% ke 25.587,04.

Tekanan utama datang dari aksi jual saham teknologi, terutama saham-saham yang berkaitan dengan semikonduktor, chip memori, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Aksi jual ini memperpanjang tekanan yang sudah muncul pada sesi sebelumnya, ketika investor mulai melakukan ambil untung setelah reli panjang saham teknologi.

Sementara itu, Dow Jones Industrial Average relatif lebih terbatas pelemahannya. Indeks saham blue chip tersebut turun 45,87 poin atau 0,09% ke level 51.666,84.

Dalam kondisi pasar saham yang bergejolak, dolar AS kerap menjadi tempat berlindung. Hal ini terjadi karena greenback masih dipandang sebagai mata uang cadangan utama dunia dan aset likuid yang mudah diperdagangkan saat ketidakpastian meningkat.

Kondisi ini membuat dolar AS mendapat dua dorongan sekaligus. Dari sisi suku bunga, dolar semakin menarik. Dari sisi sentimen pasar, dolar juga diburu karena investor sedang menghindari risiko.

CNCB INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |