Jelang Ramadan, Pemkot Semarang Gelar Tradisi Tahunan Dugderan

7 hours ago 5

Jakarta -

Pemerintah Kota Semarang menggelar tradisi tahunan Dugderan dengan tema 'Bersama Dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi' di Semarang, Jawa Tengah, hari ini. Tradisi tahunan hadir untuk menyambut bulan suci Ramadan.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menjelaskan bila tema tersebut diambil karena Dugderan yang merupakan tradisi kuno berhasil dilestarikan oleh masyarakat Semarang. Meski merupakan tradisi muslim karena digelar untuk menyambut datangnya Bulan Ramadhan, Dugderan menjadi kebanggan milik semua umat.

"Dugderan menjadi momentum penting dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan, titik tolak menghantarkan teman-teman yang Muslim untuk mulai berpuasa. Di sisi lain, Dugderan mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat Kota Semarang yang beragam namun tetap rukun dalam menjaga warisan budaya," ujar Agustina dalam keterangan tertulis, Senin (16/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih lanjut, Agustina menyoroti simbol Warak Ngendog yang selama ini menjadi ikon utama Dugderan. Menurutnya, filosofi warak yang 'ngendog' mengandung makna kerukunan, pengendalian diri, dan harapan akan kesejahteraan bersama.

"Yang unik hari ini semua waraknya wajib ngendog, karena kalau waraknya tidak ngendog nanti bisa congkrah kita ya, bisa bertengkar, tidak ada rejeki yang bisa dibagi," tuturnya.

Menariknya, Dugderan tahun ini melakukan inovasi yang melibatkan anak-anak dengan Pawai Dugder Anak yang melibatkan pelajar dan kelompok seni budaya.

"Saya senang tadi ada anak-anak kecil yang mulai ikut menari. Dan ini nanti pertama kali kita akan melepaskan kontingen anak-anak. Pelibatan anak-anak merupakan bentuk transfer pengetahuan dan pelestarian tradisi agar Dugderan tetap hidup dan berkembang di masa depan. Keterlibatan generasi muda menjadi kunci keberlanjutan warisan budaya Kota Semarang," ungkapnya.

Dugderan tahun ini juga dinilai semakin unik karena berlangsung dalam momentum yang berdekatan dengan perayaan lintas keagamaan, sehingga memperkuat nilai toleransi dan harmoni di tengah masyarakat.

"Dugderan diharapkan pada tahun ini menjadi lebih unik berkaitan dengan Imlek, kemudian masa puasa Pra-Paskah bagi teman-teman Kristen Katolik. Sehingga harmoni akan terjadi lebih erat dan Semarang menjadi semakin damai," ujarnya.

Dia pun optimistis suasana damai dan harmonis yang tercipta melalui tradisi Dugderan akan berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan investasi di Kota Semarang. Pihaknya juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Muslim yang akan menjalankan ibadah puasa.

"Kami berdua bersama Pak Iswar mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi teman-teman yang Muslim," pungkasnya.

Sebagai informasi tambahan, Dugderan 2026 diikuti ribuan peserta yang terdiri dari perwakilan 16 kecamatan, organisasi masyarakat, kelompok budaya, pelajar, serta komunitas seni. Rangkaian acara meliputi kirab budaya, penampilan seni tradisional, hingga pemukulan bedug sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan, sekaligus menjadi simbol persatuan, toleransi, dan kekayaan budaya Kota Semarang.

(anl/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |