Jelang Deal AS-Iran, Uang Rp 163 Triliun Disebut Cair ke Teheran

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Uni Emirat Arab (UEA) disebut telah menyetujui pencairan dana miliaran dolar AS untuk Iran di tengah upaya mengakhiri konflik antara Teheran dengan Amerika Serikat dan Israel. Informasi ini diungkap sejumlah sumber Reuters yang mengetahui pembicaraan tersebut, meski pemerintah UEA secara tegas membantah adanya transfer dana tersebut.

Empat sumber yang mengetahui pembahasan itu mengatakan UEA telah menyepakati pembukaan akses dana dalam jumlah besar bagi Iran. Dua sumber regional menyebut nilai yang disetujui mencapai US$10 miliar atau sekitar Rp163 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS), dengan lebih dari US$3 miliar di antaranya disebut telah dicairkan.

Sementara itu, dua sumber lain yang mengetahui informasi tersebut mengatakan total dana yang terlibat bahkan bisa mencapai US$20 miliar. Menurut mereka, kesepakatan itu merupakan bagian dari upaya menghentikan serangan Iran terhadap UEA yang terjadi selama perang antara Iran dan koalisi Amerika Serikat-Israel.

Salah satu sumber yang mengetahui mekanisme tersebut mengatakan tahap pertama senilai US$3 miliar telah tersedia untuk digunakan. Namun Reuters tidak dapat memastikan apakah dana tersebut berasal dari pemerintah UEA atau merupakan aset milik Iran yang selama ini dibekukan di sistem perbankan UEA maupun lokasi lainnya.

Laporan mengenai kesepakatan itu muncul ketika negosiasi antara Teheran dan Washington memasuki tahap akhir. Para diplomat menyebut pembicaraan tersebut berpotensi membuka jalan bagi pelepasan puluhan miliar dolar pendapatan minyak Iran yang selama ini dibekukan di berbagai bank luar negeri akibat sanksi Amerika Serikat.

Menanggapi laporan tersebut, Kementerian Luar Negeri UEA pada Sabtu dini hari mengeluarkan pernyataan yang membantah keras adanya transfer dana kepada Iran.

"Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tuduhan-tuduhan ini sepenuhnya salah dan tidak berdasar, termasuk klaim mengenai transfer US$3 miliar," demikian pernyataan resmi UEA.

Pemerintah UEA juga menegaskan bahwa tidak ada dana Iran yang dibekukan telah dilepaskan, ditransfer, ataupun difasilitasi melalui UEA. Namun, pemerintah tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait tuduhan tersebut.

Sebelumnya, ketika dimintai komentar oleh Reuters, seorang pejabat UEA mengatakan kebijakan luar negeri negaranya berfokus pada upaya meredakan ketegangan kawasan dan menciptakan perdamaian.

"Kebijakan luar negeri UEA dipandu oleh upaya mendorong deeskalasi dan mengurangi ketegangan di seluruh kawasan, sekaligus memajukan perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan," ujar pejabat tersebut.

"UEA mendukung berbagai upaya, termasuk yang dilakukan Amerika Serikat, untuk melindungi masyarakat kawasan dari dampak konflik," lanjutnya.

Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters terkait laporan tersebut.

Di Washington, Wakil Presiden AS, James David Vance, pada Jumat menegaskan bahwa dana tidak akan diberikan kepada Iran hanya karena menandatangani kesepakatan atau menghadiri pertemuan dengan Amerika Serikat.

Menurut Vance, kesepakatan yang sedang dibahas dirancang agar manfaat ekonomi hanya mengalir ke Teheran apabila Iran memenuhi seluruh kewajibannya.

Pemerintah Iran juga belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters mengenai laporan tersebut.

Seluruh sumber yang diwawancarai Reuters meminta identitas mereka dirahasiakan mengingat sensitifnya pembahasan tersebut.

Jika benar terjadi, kesepakatan itu menandai perubahan besar dalam hubungan UEA dan Iran. Selama perang berlangsung, kedua negara berada dalam posisi yang sangat tegang.

Serangan Iran sempat membuat hotel-hotel di Dubai kehilangan banyak tamu, membuat sebagian ekspatriat meninggalkan negara itu, serta mengguncang reputasi keamanan UEA yang selama ini status Dubai sebagai pusat bisnis internasional.

Salah satu sumber mengatakan mekanisme tersebut menawarkan jalan keluar yang menguntungkan seluruh pihak. Iran dapat mengklaim telah memperoleh kompensasi atas kerugian perang, Washington dapat menyatakan tidak mengeluarkan dana apa pun, sementara Abu Dhabi memperoleh jaminan keamanan dan mempertahankan posisi Dubai sebagai pusat bisnis global.

Sumber tersebut juga menyebut langkah itu dapat dipresentasikan sebagai investasi untuk membangun kembali kepercayaan dan stabilitas kawasan.

Sumber lain menjelaskan bahwa sebagai imbalan atas pencairan dana tersebut, Iran akan menghentikan serangan rudal dan drone terhadap UEA. Selain itu, kedua negara disebut akan membangun kembali hubungan bilateral melalui kerja sama intelijen dan penguatan hubungan ekonomi.

Menurut sumber yang sama, Iran juga telah mendekati sedikitnya dua negara Arab Teluk lainnya untuk membahas pengaturan serupa.

Serangan langsung terakhir Iran terhadap UEA yang diketahui publik terjadi pada 4 Mei lalu, ketika fasilitas Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman menjadi sasaran serangan.

Sumber pertama yang mengetahui pembahasan itu mengatakan negosiasi sebenarnya telah dimulai beberapa pekan lalu, namun mengalami percepatan setelah sejumlah pejabat dari berkunjung ke Abu Dhabi pekan lalu.

Mereka disebut bertemu dengan yang menjabat sebagai penasihat keamanan nasional sekaligus wakil penguasa Abu Dhabi, dan menginap di wisma tamunya.

Setelah kunjungan tersebut, delegasi UEA disebut melakukan perjalanan ke Teheran untuk membahas rincian teknis mekanisme pencairan dana.

Kesepakatan ini juga berlangsung di tengah kondisi keuangan yang rumit. Dubai selama bertahun-tahun menjadi salah satu jalur ekonomi paling penting bagi Iran. Bank-bank di kota tersebut diketahui menyimpan dana terkait Iran dalam jumlah besar.

Namun sebagian dana itu dibekukan akibat sanksi Amerika Serikat. Sistem sanksi tersebut memungkinkan Washington menghukum bank asing yang bertransaksi dengan entitas Iran yang masuk daftar hitam, termasuk dengan memutus akses mereka terhadap sistem keuangan dolar AS.

Sebelumnya pada 11 April, seorang sumber senior Iran mengatakan Amerika Serikat telah menyetujui pelepasan aset Iran yang dibekukan di Qatar dan sejumlah bank asing lainnya. Namun seorang pejabat AS segera membantah klaim tersebut.

Sumber Iran itu mengatakan pelepasan aset tersebut "berkaitan langsung dengan upaya menjamin jalur aman pelayaran melalui Selat Hormuz", yang merupakan salah satu isu utama dalam pembicaraan untuk mengakhiri konflik.

Hingga kini belum ada konfirmasi resmi yang membuktikan bahwa dana miliaran dolar tersebut benar-benar telah ditransfer. Namun laporan ini menunjukkan adanya manuver diplomatik dan finansial besar yang sedang berlangsung di balik upaya mengakhiri konflik antara Iran dan Amerika Serikat, sekaligus menjaga stabilitas kawasan Teluk yang menjadi pusat perdagangan energi dunia.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |