Ini 5 Pemasok Kurma Terbesar di Indonesia, Ada Israel?

2 hours ago 2

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

13 February 2026 15:50

Jakarta, CNBC Indonesia- Menjelang Ramadan tahun ini, Indonesia kembali mendapat "kado manis" dari Arab Saudi.

Sebanyak 100 ton kurma hadiah Raja Salman telah tuntas didistribusikan kepada masyarakat, jauh sebelum bulan puasa dimulai. Jumlahnya memang terlihat besar, cukup untuk menjangkau ribuan penerima di berbagai daerah.

Seberapa besar posisi kurma impor dalam konsumsi nasional Indonesia selama ini? Sebab, bantuan 100 ton itu sejatinya hanya sepotong kecil dari arus kurma yang rutin masuk ke Tanah Air setiap tahun.

Dalam beberapa tahun terakhir, kurma telah menjadi komoditas musiman yang konsisten mengalir ke Indonesia, terutama menjelang Ramadan. Impor biasanya melonjak pada kuartal awal tahun, ketika kebutuhan konsumsi rumah tangga, masjid, hingga lembaga sosial meningkat tajam. Polanya berulang, bahkan ketika harga global dan kurs bergerak fluktuatif.

Jika ditarik ke belakang, ketergantungan Indonesia terhadap kurma impor bukan cerita baru. Hampir seluruh pasokan berasal dari luar negeri, dengan negara-negara Timur Tengah sebagai pemasok utama.

Arus impor kurma Indonesia mulai mengecil dalam dua tahun terakhir. Badan Pusat Statistik mencatat nilai impor kurma HS 08041000 pada 2025 sebesar US$67,85 juta atau sekitar Rp 1,14 trilun (US$1= Rp 16.845), turun cukup jauh dari puncaknya pada 2022 yang mencapai US$86,26 juta. Dari sisi volume, tren yang sama terlihat. Jumlah impor pada 2025 berada di kisaran 54,45 juta kg, lebih rendah dibandingkan 61,35 juta kg pada 2022.

Setelah lonjakan tajam pada 2022, nilai impor kurma melemah pada 2023 dan 2024, lalu kembali turun lebih dalam pada 2025. Kondisi tersebut memberi sinyal adanya penyesuaian permintaan domestik, perubahan harga global, serta pergeseran jalur pasok dari negara asal.

Jika ditarik ke belakang, struktur impor kurma Indonesia sempat terlihat stabil.

Pada 2021-2023, beberapa negara Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi pemasok utama. Tunisia termasuk salah satu yang dominan, dengan nilai impor yang bergerak di atas US$13 miliar pada 2021 dan sempat naik ke US$16,68 juta pada 2022. Namun sejak 2024, nilainya mulai melemah, lalu turun tajam pada 2025 menjadi US$9,79 juta.

Penurunan impor dari Tunisia berjalan seiring dengan perubahan peta negara pemasok pada 2025. BPS melaporkan kehadiran Mesir sebagai pemasok terbesar dengan nilai US$22,37 juta. Arab Saudi berada di posisi berikutnya dengan US$13,05 juta, disusul Uni Emirat Arab sebesar US$10,04 juta. Tunisia turun ke posisi di bawahnya, sementara Iran tercatat jauh lebih kecil.

Jalur perdagangan kurma sangat dipengaruhi oleh harga kontrak jangka pendek, biaya logistik, serta ketersediaan stok pascapanen di negara produsen. Mesir dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan kapasitas produksi kurma dan agresif memperluas pasar ekspor, termasuk ke Asia Tenggara. Di sisi lain, sebagian eksportir Afrika Utara menghadapi tekanan biaya dan penyesuaian volume.

Satudata Kementerian Perdagangan sebelumnya mencatat Malaysia sempat muncul sebagai negara asal dengan nilai relatif kecil pada 2023. Namun posisi ini lebih banyak berperan sebagai hub perdagangan dan re-ekspor, bukan produsen utama.

Ketika struktur pasok global bergeser pada 2025, peran negara transit ikut mengecil dan digantikan oleh pemasok langsung dari kawasan produsen.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, tidak ada impor kurma dari Israel ke Indonesia, dengan pemasok utama dari Tunisia, Mesir, Iran, dan Arab Saudi. Meskipun begitu, Israel adalah salah satu eksportir kurma terbesar dunia, memicu imbauan boikot dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan peringatan untuk waspada kurma Israel di pasar global CNBC Indonesia

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |