Ritel RI Gelar Pesta Diskon 'Friday Mubarak', Cek Jadwalnya

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah kembali menaruh harapan besar pada konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi global dan tekanan geopolitik, strategi yang dipilih bukan insentif fiskal besar-besaran, melainkan dorongan program diskon ritel hingga 50% berskala nasional bertajuk Friday Mubarok.

Program yang diinisiasi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) didorong menjadi mesin transaksi jangka pendek yang mampu memutar roda ekonomi dalam waktu relatif singkat. Dengan durasi hampir dua bulan yakni mulai 11 Februari hingga 31 Maret 2026, pemerintah melihat momentum ini sebagai upaya untuk menjaga daya beli sekaligus menahan laju perlambatan konsumsi pasca-Lebaran yang kerap terjadi setiap tahun.

Program Friday Mubarok berlangsung sejak dan melibatkan ratusan merek ritel serta jutaan pedagang pasar. Pemerintah memproyeksikan periode tersebut sebagai masa strategis untuk menjaga stabilitas konsumsi sekaligus mengejar target nilai transaksi nasional.

"Kami melihat ada kurang lebih 200 brand ritel, 11 juta pedagang pasar, dan 414 pusat perbelanjaan yang terlibat. Target transaksi yang ingin dicapai berada di kisaran Rp119 triliun dan mudah-mudahan ini bisa terjadi," kata Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti dalam pembukaan program ini di Kuningan City, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, pendekatan diskon dan festival belanja memiliki dampak psikologis yang signifikan dalam mendorong optimisme konsumen. Hari besar keagamaan dan musim liburan panjang selalu menciptakan lonjakan kebutuhan rumah tangga yang bisa dimanfaatkan sebagai pengungkit ekonomi.

Penampakan minimarket di kecamatan Curug hari ini, Senin (1/9/2025). (CNBC Indonesia/M. Fakhriansyah)Foto: Penampakan minimarket di kecamatan Curug hari ini, Senin (1/9/2025). (CNBC Indonesia/M. Fakhriansyah)
Penampakan minimarket di kecamatan Curug hari ini, Senin (1/9/2025). (CNBC Indonesia/M. Fakhriansyah)

"Salah satu cara meningkatkan purchasing power adalah menghadirkan program sale. Ini insentif agar masyarakat lebih semangat berbelanja. Demand pasti meningkat saat Ramadan, Idulfitri, Iduladha, hingga Nataru," tuturnya.

Di sisi lain, pelaku ritel menyambut program ini sebagai peluang sekaligus ujian. Ketua Aprindo Solihin menyebut keterlibatan berbagai kanal belanja-mulai dari ritel modern, pasar tradisional, hingga badan usaha milik daerah-menjadi strategi untuk memastikan dampak ekonomi tersebar merata, bukan hanya terkonsentrasi di kota besar.

"Program ini berlangsung 11 Februari hingga 31 Maret dan melibatkan lebih dari 80.000 gerai. Kolaborasi diperluas bersama ratusan pusat perbelanjaan dan ribuan pasar rakyat," ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa PD Pasar Jaya resmi menjadi anggota Aprindo, yang membuat jaringan pasar milik pemerintah daerah kini terhubung langsung dengan program ritel nasional.

"Pasar-pasar yang dimiliki pemerintah DKI sudah menjadi anggota kita dan ikut serta dalam program ini," katanya.

Aprindo menargetkan nilai transaksi yang bukan sekadar simbol perayaan musiman, melainkan indikator nyata kesehatan sektor ritel nasional pada awal tahun. Angka yang dibidik mencapai ratusan triliun rupiah, dengan harapan mampu menciptakan efek berantai terhadap logistik, produksi, hingga sektor jasa pendukung.

"Pada penutupan nanti harapan kita bisa mencapai angka Rp111 triliun. Itu bukan sekadar nilai transaksi, tetapi simbol optimisme dan kolaborasi bahwa sektor ritel siap menjadi mitra strategis pemerintah," ujar Solihin.

(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |