Harga Minyak Melemah Tipis, Pasar Pantau Ketat Selat Hormuz

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia melemah tipis pada perdagangan Selasa pagi (10/2/2026), meski tetap bertahan di level tinggi seiring pasar mencermati potensi gangguan pasokan global dari kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan Refinitiv, per pukul 09.25 WIB, harga minyak Brent (LCOc1) tercatat di US$ 69,02 per barel, turun tipis dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di US$ 69,04 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI/CLc1) berada di US$ 64,31 per barel, sedikit lebih rendah dari posisi US$ 64,36 per barel pada Senin (9/2/2026).

Pergerakan terbatas ini terjadi setelah reli pada awal pekan. Pada Senin lalu, harga minyak menguat lebih dari 1%, ditopang meningkatnya kewaspadaan pasar terhadap risiko geopolitik di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pengapalan minyak terpenting dunia.

Selat Hormuz memiliki peran strategis karena sekitar 20% konsumsi minyak global melewati jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut. Negara-negara produsen utama seperti Iran, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada jalur ini untuk menyalurkan ekspor minyak mereka, terutama ke kawasan Asia.

Ketegangan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda membuat pasar masih menyisakan risk premium pada harga minyak. Di satu sisi, ada sinyal diplomatik yang cenderung konstruktif, namun di sisi lain potensi eskalasi, pengetatan sanksi, atau gangguan logistik tetap menjadi faktor yang sulit diabaikan oleh pelaku pasar.

Dari sisi pasokan global, pasar juga mencermati arah kebijakan sanksi energi terhadap Rusia yang berpotensi semakin diperketat. Langkah ini dapat mempengaruhi aliran minyak global dan mendorong negara-negara importir besar di Asia untuk menyesuaikan sumber pasokan mereka.

Secara historis dalam sepekan terakhir, harga minyak masih menunjukkan kecenderungan menguat. Brent sempat bergerak dari US$ 66,30 per barel pada awal Februari hingga menyentuh area US$ 70 per barel di akhir Januari. WTI juga naik dari kisaran US$ 62 per barel menuju US$ 65 per barel, sebelum kembali terkoreksi tipis pagi ini.

CNBC Indonesia

(emb/emb)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |