Harga Minyak Masih di Atas US$100, Pasar Mulai Takut Krisis Pasokan

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia bergerak tipis pada perdagangan Kamis pagi (7/5/2026), setelah sehari sebelumnya ambruk lebih dari 7% akibat harapan meredanya perang di Timur Tengah.

Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.20 WIB, harga Brent tercatat US$101,36 per barel, naik tipis dibanding penutupan sebelumnya di US$101,27. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$95,05 per barel, nyaris stagnan dari posisi US$95,08.

Meski layar perdagangan terlihat lebih tenang pagi ini, tekanan di pasar energi global belum benar-benar reda. Investor mulai menyadari satu hal penting: perang bisa berhenti, tetapi pasokan minyak belum tentu langsung pulih.

Jalur distribusi dari Teluk Timur Tengah menuju kilang-kilang dunia membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk kembali normal. Selama masa itu, dunia masih harus mengandalkan cadangan minyak yang terus terkuras.

Melansir Reuters via Refinitiv stok minyak global turun cepat sejak konflik pecah pada akhir Februari. Goldman Sachs memperkirakan persediaan global tinggal setara 98 hari konsumsi pada akhir Mei, turun dari 105 hari pada akhir Februari. Di saat bersamaan, dunia sedang memasuki musim panas di belahan bumi utara, periode ketika konsumsi bensin, avtur, dan energi biasanya melonjak.

Kepala Eksekutif TotalEnergies Patrick Pouyanne mengatakan dunia telah menguras sekitar 500 juta barel cadangan minyak selama konflik berlangsung. Angka itu bahkan lebih besar dibanding total cadangan minyak komersial Amerika Serikat yang saat ini sekitar 460 juta barel. CEO Equinor Anders Opedal memperkirakan pasar minyak membutuhkan setidaknya enam bulan untuk kembali normal meski perang selesai bulan ini.

Pasar sebelumnya sempat lega setelah muncul kabar Iran tengah meninjau proposal damai dari Amerika Serikat. Harapan itu memicu kejatuhan Brent dari US$114,44 per barel pada 4 Mei menjadi US$101,27 pada 6 Mei. Dalam dua hari, Brent kehilangan hampir 11,5%, sementara WTI anjlok sekitar 10,7%.

Namun negosiasi damai masih jauh dari kata final. Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan langsung dengan Teheran masih terlalu dini. Di sisi lain, pejabat Iran menyebut proposal AS lebih mirip daftar keinginan ketimbang kesepakatan konkret. Axios melaporkan respons Iran atas beberapa poin penting diperkirakan keluar dalam 48 jam ke depan.

Dari sisi fundamental, pasar masih dibayangi penurunan stok energi di AS. Energy Information Administration (EIA) melaporkan cadangan minyak mentah AS turun 2,3 juta barel pekan lalu menjadi 457,2 juta barel. Persediaan bensin AS bahkan diperkirakan bisa jatuh ke sekitar 198 juta barel pada akhir musim panas, level terendah untuk periode tersebut dalam sejarah modern.

Gangguan juga terjadi di Asia. Impor minyak mentah Asia pada April dilaporkan turun 30% dibanding tahun lalu dan menjadi yang terendah sejak 2015. Di Singapura, stok fuel oil darat turun ke level terendah hampir satu tahun terakhir. Sementara Eropa mulai mewaspadai potensi krisis avtur mulai Juni apabila pasokan dari Timur Tengah belum sepenuhnya pulih.

CNBC Indonesia 

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |